Kamis , 14 November 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (21)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (21)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Bila tidak ingat hari sudah larut malam, tawaku pasti terlepas nyaring mendengar kata-kata Warni itu. Aku mencoba menahan tawa dengan menutupkan bantal ke wajahku. Warni pun terlihat menahan tawanya.

“Eh, apa sesungguhnya yang menarik dari tamumu itu? Wajahnya yang tampan? Atau kehebatannya di tempat tidur?” kembali Warni bertanya.

Aku hanya tersenyum sambil memutar otak untuk mencari jawabnya yang tepat. Haruskah kukatakan yang sebenarnya, atau tidak?

“Ayo Yat, apanya yang menarik?” Warni terus mendesak.

“Kok, jadi penasaran?”

“Aku memang betul-betul penasaran melihat ulahmu tadi. Soalnya, tidak biasanya kau seperti itu. Lagi pula, terus terang ketika tamu itu tadi mampir kemari, aku berharap dia mau mengajakku ke kamar. Yang lainnya juga pasti punya pikiran yang sama. Eh, ternyata harapanku meleset. Tamu itu justru memilih menyusulmu ke kamar. Dasar rezekimu Yat, kataku tadi,” urai Warni disertai tawa yang tertahan.

Aku tersenyum lagi. Dan tertawa, tapi lirih.

“Ayo, katakan. Jangan tertawa terus.”

“Benar, kau mau tahu alasanku soal tamu itu?”

“Sudah, katakan saja. Jangan menggodaku, Yat,” wajah Warni seperti tak sabar.

“Bukan karena ia tampan. Dan, bukan pula karena kehebatannya di tempat tidur,” ujarku sambil mencoba tersenyum, meski sebenarnya ada yang mulai perih di hatiku.

“Kalau bukan dikarenakan soal tampannya dan soal kehebatannya di tempat tidur, lantas karena apa?” Warni jadi penasaran.

“Karena ia mirip almarhum suamiku,” aku mencoba menjawabnya dengan tegar.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (29)

“Mirip almarhum suamimu?” Warni seperti tak percaya.

“Ya. Dia mirip Mas Bim. Wajahnya. Gayanya. Semua mirip dengan almarhum suamiku itu.”

“Oh, aku tidak menduga kalau itu alasannya.”

“Dan, di dalam kamar, kami tidak melakukan apa-apa lho, War.”

“Tidak……?” Warni tidak meneruskan kata-katanya, tapi aku tahu apa kelanjutan dari kata-katanya yang terpotong itu.

“Ya, kami tidak berbuat apa-apa. Kami hanya ngobrol saja.”

“Selama satu jam lebih itu?”

“Ya, selama satu jam lebih itu, ia hanya berbaring dan bercerita. Sementara aku duduk di dekatnya sambil bersandar ke dinding. Itu saja.”

“Apa dia tidak mengajakmu untuk begitu?”

“Tidak.”

“Kok?” Warni mengerenyitkan dahi.

“Karena dia mengira aku sedang berhalangan. Sedang datang bulan.”
Warni tertawa mendengar kata-kataku itu.

“Huss, jangan keras-keras tertawanya, War. Nanti yang lain terbangun,” ujarku.

“Kok bisa dia punya perkiraan seperti itu? Apa kau memang mengatakan seperti itu kepadanya?”

“Begini. Ketika melihat dia di ruang tamu, pikiranku langsung tertuju ke almarhum suamiku. Aku lantas masuk lagi ke kamar dan berharap agar dia tidak masuk ke kamarku. Aku benar-benar tidak menginginkannya masuk ke kamarku. Sebab pikirku, kalau dia masuk, aku bisa jadi kacau. Sehingga ketika dia muncul di pintu kamar dan permisi untuk masuk, aku dengan cepat mengatakan bahwa aku sedang tidak….”

“Sedang tidak bekerja atau sedang libur menerima tamu, karena berhalangan. Begitu maksudmu?”

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (15)

“Tidak begitu. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa aku sedang tidak sehat badan. Itu saja. Tapi, dia salah meneruskan kata-kata tidak itu. Dia justru mengira aku sedang berhalangan.”

“Kenapa tidak kau jelaskan saja yang sebenarnya?’

“Karena dia sudah beranggapan begitu, aku jadi malu untuk menjelaskan yang sebenarnya.”
Warni tertawa, tapi pelan. Kami sama-sama tertawa, meski dengan tawa yang tertahan.

“Jadi, karena bertemu dia, malam ini kau jadi teringat berat kepada almarhum suamimu itu?” tanya Warni lagi setelah tawanya usai. Tapi tekanan suaranya agak serius.

“Ya. Dia benar-benar membawa ingatanku ke Mas Bim. Membuat jadi rindu kepada almarhum suamiku. Kalau sudah rindu dengan Mas Bim, aku pun pasti jadi rindu pula dengan anak-anakku.’

Hampir semalaman aku dan Warni ngobrol. Ada saja yang kami obrolkan. Dan, Warni pun bercerita banyak hal. Bercerita tentang dirinya, tentang pengalaman-pengalamannya selama menjadi penghuni di komplek ini, pengalaman-pengalaman yang belum pernah diceritakannya kepadaku.

Menjelang pagi, Warni baru keluar dari kamarku.

“Aku mau bangun siang saja,” kata Warni ketika sudah di mulut pintu kamar sebelum kembali ke kamarnya.

“Aku juga mau bangun siang, ah ‘ kataku pula.

“Tapi, kalau kau harus bangun pagi-pagi, Yat.”

“Kenapa harus pagi-pagi?”

“Soalnya, siapa tahu, tamu tampanmu itu akan datang lagi menemuimu pagi-pagi sekali,” serunya diiringi derai tawa seraya berlari ke kamarnya. * (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x