Kamis , 14 November 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (20)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (20)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Aku sadar, Warni memang tak mengenal nama Surti. Karena di komplek ini yang tahu dengan nama Surti itu hanya aku sendiri. Namun di desaku, semua orang tahu dan mengenal nama Surti.

“Siapa Surti itu, Yat? Apakah dia juga ada di komplek ini? Setahuku kau dulu datang kemari bersama Dhani,” Warni terus mendesakkan tanyanya.

“Surti dan Dhani itu sama. Yang namanya Surti itu ya si Dhani,” jelasku.

“Oooo, jadi yang kau maksudkan dengan Surti, ya Dhani itu?”

“Surti itu nama aslinya, nama yang dikenal di desa. Lengkapnya Surtini. sedangkan Dhani itu kan nama panggilan di sini.”

Aku menghela napas sambil memilin-milin ujung sarung bantal yang ada dalam dekapanku.

“Kalau kau tidak keberatan, ceritakanlah yang sebenarnya kepadaku, Yat,” pinta Warni.

Soal Surti, soal ajakannya dan tawarannya itu memang belum pernah kuceritakan pada siapa pun, kecuali hanya menjadi keluhan dan ratapanku sendiri. Agak sungkan juga aku bercerita pada orang lain tentang kebodohanku, tentang ketidaktahuanku, sehingga terpedaya dengan ajakan dan tawaran kerja dari Surti itu.

“Ayo, ceritakanlah Yat,” desak Warni lagi.

Akhirnya, kuceritakan juga semuanya. Kupikir, Warni merupakan orang yang tepat untukku menumpahkan semua cerita yang mengganjal dan menghimpit perasaanku itu.

Kuceritakan sejak awal, sejak bertemu lagi dengan Surti di desa. Kemudian ajakannya untuk bekerja, sampai aku terdampar di komplek resosialisasi pelacuran di pinggiran kota Yogya ini, dan menjadi penghuni di rumah kopel yang diasuh Mami Narti.

“Aku sama sekali tidak menduga, jika Surti itu menjadi penghuni di komplek ini. Kupikir semula dia bekerja di suatu perusahaan. Karenanya begitu ia menawariku pekerjaan dengan gaya yang meyakinkan, aku langsung saja percaya,” ungkapku.

Simak juga:  PASAR KEMBANG: Wajah Yogya yang Buram

“Ketika sampai di sini dulu, dan ketika tahu bahwa pekerjaan yang ditawarkan Dhani itu adalah menjadi pelacur . kenapa kau tidak langsung menolaknya, Yat?”

“Semula aku memang ingin berontak. Ingin kupukuli Surti itu dengan sepuas-puasnya, karena telah membawaku ke tempat ini. Tapi kemudian hatiku luluh ketika mendengar pengakuan Surti bahwa apa yang dilakukannya itu karena kasihan melihat kehidupanku yang sulit di desa. Sebagai pelacur, katanya, ia tak punya gambaran atau pilihan pekerjaan lain untuk ditawarkan kepadaku, kecuali bekerja menjadi pelacur juga. Di samping itu, pikiranku benar-benar kalut. Mau pulang lagi ke desa, aku sudah terlanjur mengatakan berangkat ke Yogya untuk bekerja. Sedang untuk mendapatkan pekerjaan lainnya, aku tak punya gambaran atau pilihan mau ke mana. Apalagi saat itu, uang yang kumiliki tinggal sedikit. Akhirnya dengan perasaan berat, terpaksa kujalani juga pekerjaan menyakitkan ini,” uraiku agak panjang lebar.

Warni terlihat menundukkan wajahnya. Ia seperti merenung. Kemudian terdengar suara elahan napasnya yang berat.

“Begitulah ceritanya, War. Tapi setelah aku beberapa bulan di sini, Surti lalu meninggalkan komplek ini. Dia pindah ke Surabaya. Katanya, ikut kenalannya yang di sana. Tak tahu, apa yang dikerjakannya di Surabaya. Apa masih jadi pelacur atau tidak,” kataku.

“Kita sesungguhnya senasib, Yat,” ujar Warni kemudian.

“Senasib? Maksudmu?” tanyaku ingin tahu.

“Ya, menjadi penghuni komplek ini karena terbujuk ajakan dan tawaran teman.”

“Jadi, kau masuk ke sini juga karena ajakan temanmu?”

“Ya. Kupikir semula bekerja di pabrik. Eh, tahunya jadi pelacur, yang bekerja untuk memuaskan nafsu lelaki.”
Aku tersenyum, meski kelu. Warni pun begitu.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (42)

“Kita benar-benar senasib,” kataku.

“Senasib dan sependeritaan,” timpal Warni.

“Apa kau juga merasa menderita di sini, War?”

“Apa kau pikir, kau sendiri saja yang menderita di sini? Aku juga menderita. Dan, semua perempuan di komplek ini, perempuan yang berstatus seperti kita, pasti menderita. Bohong kalau ada yang mengatakan dirinya bahagia dan tidak menderita! Apa sih bahagianya jadi pelacur?”

Tumben Warni bisa bicara seserius itu, pikirku.

“Ya, tidak ada bahagianya jadi pelacur. Yang ada hanya perasaan menderita, tersiksa, rasa bersalah, sedih dan malu,” ujarku sambil mengalihkan pandangan ke langit-langit kamar.

“Rasanya, tak ada penderitaan yang paling besar, selain derita jadi pelacur.”

“Apa perempuan-perempuan lainnya di komplek ini punya perasaan yang sama seperti kita, War?”

“Kupikir sama. Kalau pun ada yang tertawa, yang ceria, gembira, dan suka bercanda, ah, itu kan hanya sekadar sandiwara. Sekadar kepura-puraan untuk menutupi bagaimana yang dialami sebenarnya. Dan, sekadar untuk menarik perhatian tamu. Masak, di depan tamu kita berwajah sedih, murung atau bahkan cemberut. Kalau begitu, nanti tidak akan ada tamu yang mau mengajak kita masuk ke kamar,” di antara kata-katanya, Warni masih juga sempat tertawa.

“Eh, apa di hatimu tidak sedikit pun pernah muncul rasa bahagia, War?” aku bertanya lagi.

“Ya, pernah juga. Tapi hanya kebahagiaan semu. Kebahagiaan palsu. Kau juga pernah merasakannya, kan?”

“Rasanya belum pernah.”

“Jangan bohong, Yat.”

“Sungguh!”

“Ah, tadi siang kulihat kau bahagia sekali,” ada senyum di bibir Warni.

“Tadi siang?” aku masih belum mengerti yang dimaksudkannya.

“Ya, tadi siang saat bersama tamu yang tampan itu. Kulihat begitu keluar dari kamar, wajahmu berbinar-binar. Sepertinya bahagia sekali.” (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x