Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (2)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (2)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Tak sampai sepuluh menit kemudian, ketika aku baru saja akan menyandarkan tubuh di kursi, terdengar suara letusan senjata api dari arah belakang rumah. Letusan yang mengejutkan itu disusul dua suara letusan lagi. Aku tersentak dan bangkit dari kursi. Darahku terkesiap seketika. Pikiranku langsung tertuju pada suamiku, Mas Bim. Apa yang terjadi di belakang rumah? Apa yang terjadi di dekat Mas Bim? Apa yang tertembak? Atau mungkin, Mas Bim….?

“Ya Tuhan, lindungilah suamiku. Lindungilah Mas Bim,” tanpa sadar kata-kata ini terucap dari mulutku.

Aku bergegas ke pintu. Lalu melangkah ke halaman. Dua orang yang semula menunggu di halaman rumah tidak lagi ada. Setengah berlari , diikuti Wanda, aku bermaksud menemui Mas Bim di kolam tempatnya memancing. Di sisi rumah aku berpapasan dengan tamu-tamu yang mencari Mas Bim itu.

“Mana suami saya?” tanyaku gugup dan cemas.

“Masih di tempatnya memancing,” salah seorang di antara mereka menjawab.

Tanpa bertanya lagi, aku segera memburu waktu ke pekarangan belakang, ke kolam tempat Mas Bim memancing. Sesungguhnya jarak kolam itu dari rumah tidak begitu jauh, hanya sekitar limapuluh meter. Tetapi gemuruh gelisah di dada dan langkah yang tergesa-gesa membuat napasku sempat tersengal-sengal ketika sampai di tepian kolam. Sementara beberapa orang tetangga juga terlihat berlari-lari menuju ke arah yang sama.

Simak juga:  Mengenal Kitab-kitab Jawa Kuno (2) : “Kunjarakarna” Uraikan Siksaan di Neraka

Aku tidak menemukan Mas Bim di tepian kolam, kecuali hanya gagang pancing, tas tempat ikan dan topi cowboy pandan yang semula dikenakannya. Gelisahku benar-benar memuncak. Ke mana Mas Bim?

Mataku nanar mencari. Tiba-tiba pandangan mataku terbentur pada rumpun pepohonan pisang yang berjarak sekitar tujuh meter sebelah barat kolam. Dan, di bawah rumpun pepohonan pisang itu jelas terlihat ada sesosok tubuh manusia tergeletak. Tubuhku gemetar.

Dari warna celana jeans yang dikenakan, aku cepat mengenal bahwa sosok manusia yang tergeletak itu pasti Mas Bim. Belum lagi tahu apa yang sesungguhnya terjadi atas diri Mas Bim, ledakan gelisah dan cemasku tak mampu terbendung. Aku menjerit histeris seketika.

“Mas Bim!!!” jeritku tak terkendali sambil berlari ke tubuh yang tergeletak itu.

Benar! Dia benar-benar Mas Bim! Aku terbelalak tak percaya menyaksikan tubuh yang tergeletak di depan mataku. Tubuh Mas Bim tengkurap bersimbah darah. Warna kemejanya telah berubah menjadi merah. Ya Tuhan, apa yang terjadi atas diri suamiku?!!! Aku menjerit sekeras-kerasnya. Disusul jeritan tangis Wanda yang mencengkeramkan erat-erat tangannya di lenganku.

Simak juga:  Setengah Abad Membaca Abjad

Masih sempat kulihat para tetangga berdatangan. Masih sempat kudengar suara riuh dan teriakan orang-orang yang datang. Dan masih sempat pula kudengar suara teriakan si sulung Gagah, yang mungkin terbangun dari tidur sorenya, memanggil-manggil namaku. Setelah itu, mataku berkunang-kunang dan bumi tempatku berpijak seakan-akan berputar begitu kencangnya. Lalu, semuanya mendadak menjadi gelap. Dan aku pun tidak ingat apa-apa lagi.

Begitu sadar, aku sudah terbaring di kamarku. Di dekatku tampak Bu Irah dan Mbak Wanti, tetangga-tetangga terdekatku. Di pintu kamar kulihat Gagah dan Wanda berpegangan tangan memandangku Dengan wajah basah. Tampaknya mereka baru saja menghentikan tangis. Seketika itu pula aku teringat lagi akan Mas Bim. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *