Senin , 10 Agustus 2020
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (17)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (17)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Mami Narti muncul di pintu.

“Ada apa sih War, dari tadi tertawa terus?” tanyanya langsung.

“Ini lho Mam. Warni menggoda terus,” justru aku yang menjawabnya.

Tawa Warni belum hilang, meski volumenya sudah mengecil.

“Pasti tamumu tadi yang dibicarakan. Iya, kan?” kata Mami Narti sambil tersenyum.

“Sudah War, kau ini jangan menggoda Yatri terus. Sana pergi mandi,” sambung Mami Narti lagi.

Warni memang bangun dari tempat tidurku.

“Baiklah, aku mandi dulu. Kau juga Yat, cepat-cepat mandi. Siapa tahu tamumu itu tadi datang lagi,” Warni masih sempat meledek begitu akan keluar dari kamar.

Mami Narti pun meninggalkan pintu kamarku.

Warni yang menghuni kamar sebelahku itu memang begitu. Ia termasuk suka melucu dan jago tertawa di kopel ini. Dan, ia suka bercanda dengan siapa pun. Bahkan kepada tamu yang baru saja datang ke kopel ini pun ia tidak segan-segan bercanda.

Dibanding dengan sesama penghuni yang lain, hubunganku dengan Warni tampak lebih akrab. Warni itu orangnya terbuka, suka bicara apa adanya. Sejak awal aku menjadi penghuni di kopel ini, Warni sudah dekat dan akrab denganku. Dan aku, memang merasa cocok bersahabat dengannya.

Simak juga:  Tiga Putri dan Satu Cucu Rendra Membaca Puisi karya ‘Si Burung Merak’

**

MALAM semakin larut.
Komplek yang beberapa jam sebelumnya terasa meriah dan ramai bagaikan pasar malam, kini sunyi dan sepi. Suara derai tawa para penghuni dan tamu-tamu serta hingar-bingar lagu-lagu dangdut yang menyemarakkan komplek ini sejak sore sudah hilang. Di luar, yang terdengar hanya suara binatang-binatang yang dipagut dinginnya malam.

Kesunyian terasa begitu mencekam. Dan, sepi malam seakan mengental di kamarku. Dalam sepi seperti ini, kerinduanku kepada Mas Bim dan anak-anakku semakin menggigit. Kudekap foto-foto mereka erat-erat. Kudekap dengan sepenuh jiwa.

Tanpa sadar aku meratap. Meratapi kepergian Mas Bim. Meratapi perpisahan dengan anak-anakku, Gagah dan Wanda. Meratapi deritaku. Meratapi nasibku yang terdampar di komplek ini. Terdampar di kehidupan yang berkubang noda.

Ah, seandainya aku tidak menerima ajakan dan tawaran Surti, kawan sepermainanku dulu itu, tentu aku tidak akan sampai di komplek ini. Tentu tidak akan menjalani hidup yang menyakitkan ini. Dan tentu, aku tidak akan pernah dicap sebagai perempuan pemuas nafsu lelaki, perempuan pelacur. Ya, perempuan pelacur! Sebutan ini teramat menyakitkan.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (35)

Pelacur! Ya, pelacur. Itulah duniaku sekarang. Itulah sebutanku kini. Sebutan yang sama sekali tak pernah kuimpikan dan kubayangkan akan melekat pada diriku. Sebutan yang dulu teramat kubenci. Sebutan yang senantiasa kucemoohkan. Sebutan yang kuanggap menjijikkan. Tapi, kini sebutan menjijikkan itu, sebutan yang kotor itu telah melekat di diriku.

Ah, Surti, kenapa kau bawa aku ke dalam kehidupan kelam ini? Kenapa kau giring aku ke dunia kotor ini? Kenapa kau cemarkan kesucian cintaku kepada Mas Bim? Kenapa?? Aku mengeluh. Aku meratap. Aku menangis.
Tapi, bersalahkah Surti? Pantaskah kesalahan itu kutudingkan kepadanya? Bukankah ia bermaksud menolongku? Menolongku untuk keluar dari belitan sulitnya kehidupan. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *