Minggu , 7 Maret 2021
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (14)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (14)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Dia sopan.
Ya, dia sopan dan santun. Ini kesan seketika yang muncul di hatiku. Lelaki ini berbeda dengan yang lain. Berbeda dengan tamu-tamu lainnya yang pernah datang ke kamarku.

Kebanyakan para tamu itu suka seenaknya. Bicara semaunya. Bahkan tak jarang kata-katanya menyakitkan, meremehkan, dan melecehkan. Mereka memandang, perempuan-perempuan di sini, di komplek ini adalah perempuan-perempuan yang bisa diperlakukan seenak perutnya. Wajah mereka memancarkan kemesuman. Mata mereka liar. Tangan-tangan mereka suka usil dan kurang ajar.

Memuakkan. Sungguh memuakkan. Tapi, tamu-tamu yang memuakkan seperti itulah yang harus kuterima dan kulayani. Betapa menyakitkan. Betapa menjengkelkan.
Akan halnya lelaki ini, sama sekali tidak menyiratkan perilaku-perilaku yang memuakkan itu. Wajah dan senyumnya tak sedikitpun menggambarkan kemesuman. Tatapan matanya sopan dan bersahabat. Dia benar-benar berbeda.
Lelaki seperti dia, sesantun dia, seharusnya tidak pantas datang ke komplek ini, pikirku.

“Siapa namamu? Boleh saya tahu?” tanyanya membuatku gugup.

Aku mendadak seperti gadis remaja yang malu-malu ketika pertama berkenalan dengan lelaki.
Biasanya, setiap kali ada tamu yang menanyakan namaku, aku tidak sesulit ini untuk mengatakannya. Seperti sudah terlatih saja, aku pasti langsung menyebutkan sebuah nama. Tapi, kali ini aku seperti tak punya keberanian untuk menyebutkan sebuah nama yang sejak beberapa bulan ini telah melekat pada diriku

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (12)

“Apa namanya dirahasiakan dan tidak boleh diketahui oleh tamu-tamu seperti saya ini?” tanyanya lagi.

Aku bimbang. Nama mana yang harus kusebutkan pada tamu sesopana dia. Sebaik dia. Pada tamu yang wajah dan senyumnya mengingatkanku pada Mas Bim ini. Haruskah kusebutkan namaku yang sebenarnya, atau nama populerku di komplek ini

“Kelihatannya kok sulit sekali untuk menyebutkan namanya. Kenapa?”

“Tidak juga,” kucoba untuk menjawab tanyanya.

“Kalau tidak, kenapa tidak disebutkan namanya?”

“Apa itu perlu?”

“Ya, perlu,” sorot matanya meyakinkan.

“Untuk apa?”

“Agar bila nanti saya datang lagi kemari, saya bisa mencarinya.”

Kata-katanya itu membuat dadaku berdegup.

“Ayo……,”. desaknya.

“Panggil saja, Yatri,” pelan suaraku.

“Apa? Yatti?”

“”Bukan. Yatri ”

“Yatri? Itu saja? Tidak ada tambahannya?”

“Cukup Yatri saja. Tak usah di tambah-tambah.”

“Senang sekali saya bisa mengetahui namamu. Karena kalau datang lagi kemari, saya akan langsung bertanya – apa Yatri ada di kamarnya?” katanya seraya senyum dan tawa kecilnya terlepas.

Aku juga tersenyum dan tertawa.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (1)

“Dan Mas, siapa namanya?” giliranku bertanya.

“Mau tahu nama saya juga?” ada senyum di tanyanya.

“Iya, dong.”

“Nama saya panjang. Tapi saya lebih suka dipanggil Bram saja.”

“Bram?”

“Ya.”

Aku tidak tahu persis apakah itu aslinya atau nama palsu. Setahuku, lelaki yang datang mencari kesenangan di komplek seperti ini tak pernah mengenalkan nama aslinya atau identitas diri yang sebenarnya. Mereka selalu memakai nama samaran.

“Boleh saya tidur-tiduran di sini?” pertanyaan ini membuatku menjadi kikuk.

“Bagaimana? Boleh tidak?” suaranya lagi.

“Silahkan. Silahkan, Mas,” aku anak tergagap

“Hari ini, saya cukup senang dengan tidur-tiduran saja si sini. Saya tidak ingin yang lain-lain. Saya hanya ingin tidur-tiduran. Itu saja. Sebab Mbak Yatri kan sedang tidak bisa menerima tamu. Tapi itu bukan soal. Bisa ngobrol-ngobrol dengan Mbak Yatri saja, saya sudah senang sekali.”

“Maksud saya…..bukan…. tidak….”

“Jangan sungkan-sungkan mengatakan bila Mbak Yatri hari ini sedang berhalangan. Saya tidak apa-apa, kok. Saya ingin ngobrol saja, sambil tidur-tiduran. Tidak apa-apa, kan?”  (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x