Rabu , 27 Maret 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (11)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (11)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Berat juga rasa hati meninggalkan rumah yang sudah bertahun-tahun kutempati bersama Mas Bim. Rumah yang terletak di salah satu desa pinggiran barat kota Yogya itu memiliki banyak kenangan yang indah. Kenangan indah bersama Mas Bim. Kenangan yang tak mungkin mampu kulupakan sampai kapan pun.

Di rumah itulah aku bersama Mas Bim telah melewati hari-hari dalam suka dan duka. Hari-hari dalam tawa dan canda. Hari-hari mengarungi kebahagiaan. Hari-hari penuh cinta. Hari-hari membesarkan kedua buah cinta kami, Gagah dan Wanda.

Air mataku sempat menetes saat melangkah meninggalkan rumah itu. Meninggalkan pepohonan rindang dan rimbun di sekitarnya. Meninggalkan pohon jambu merah di samping kiri rumah, tempat Gagah dan Wanda selalu bermain di bawahnya. Demikian pula halnya Gagah. Ia pun tampak bersedih. Wajahnya murung dan sendu. Hanya Wanda yang seperti tidak merasakan persoalan apa-apa di hatinya. Ia tetap ceria. Tetap mengumbar senyum. Tidak sedikitpun terkesan rasa sedih di wajahnya.

Terlebih-lebih ketika berpamitan dengan Bu Irah dan Mbak Wanti, tetangga-tetangga setia dan terbaikku. Bu Irah pun tak kuasa menahan tangisnya. Begitu pula Mbak Wanti, matanya berkaca-kaca ketika menciumi pipi Wanda berkali-kali.

“Kalau nanti ke Yogya, mampirlah kemari,” kata Bu Irah sedikit terisak.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (14)

Aku mengangguk pilu seraya memeluk Bu Irah kuat-kuat, seakan berat berpisah dengannya, berpisah dengan tetangga-tetangga dan berpisah dengan kebaikan yang bertahun-tahun telah terjalin.

Tetangga-tetangga lainnya ikut mengantarkan kepergianku. Mereka semua menyalamiku dengan wajah sendu. Seakan mereka ikut berduka. Dan, Pak Darman, ketua RT-ku, sempat memerah juga matanya ketika mengucapkan selamat jalan.

“Selamat jalan ya, Mbak. Kalau di desa nanti, jaga anak-anak dengan baik,” ujar Pak Darman.

Aku tak mampu berkata, kecuali hanya menyeka air mata berulangkali.

“Tentang makam Mas Bim, jangan khawatir. Biar nanti saya bersama warga lainnya yang akan merawatnya,” kata Pak Darman lagi yang membuat hatiku semakin terharu.

Kutinggalkan Yogya dengan hati pilu. Dengan perasaan luruh. Dengan rasa duka yang amat dalam. Kutinggalkan sederetan kenangan bersama Mas Bim di jalan-jalan kota, di rimbun-rimbun pepohonan, di kesibukan Malioboro, di kesejukan Kaliurang, dan di panasnya pantai Parangtritis.

Sepanjang perjalanan di dalam bus, Gagah tetap diam. Ia tak banyak bersuara. Tapi sorot matanya jelas menyimpan kekesalan yang dalam. Aku dapat memahami apa yang dikesalkannya. Berpisah dengan teman-teman sepermainan dan teman-teman sekolahnya tentulah sesuatu yang tidak diinginkannya. Apalagi, Gagah memang sejak masih sekolah di TK dulu tidak suka berada di desa. Ketika masih di TK, kami sekeluarga datang ke desa. Baru dua hari di desa, Gagah sudah merengek terus mengajak pulang ke Yogya.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (19)

Berbeda dengan Wanda. Si kecilku ini seakan tak punya beban apa-apa. Di dalam bus yang penuh penumpang itu, ia tetap saja bernyanyi. Dan, sesekali ia usil mengusik kesendirian kakaknya. Tapi kakaknya tidak juga bereaksi. Ia tetap diam. Tetap membisu.

“Mas Gagah tidak ngantuk?” tanyaku memancingnya untuk bersuara.

Ia hanya menggeleng.

Kebisuan sulungku ini terbawa sampai ke desa. Sesungguhnya, sejak berganti bus di Semarang, sudah kucoba untuk membuatnya bersuara atau tersenyum. Namun usahaku sia-sia. Tawaran es krim kesukaannya tidak membuat ia tersenyum. Bahkan ia menolaknya.

Meskipun begitu aku gembira juga karena dia mulai mau bersuara.

“Gagah tidak mau es krim,” katanya singkat.

“Kenapa?”

Ia hanya diam.

“Es krimnya enak lho, Mas,” bujukku.

Ia tetap diam.

“Mas Gagah tidak haus?”

“Tidak. Gagah tidak haus.”

Akan halnya Wanda ia langsung kegirangan saat ditawari es krim itu.

“Sebentar lagi kita akan sampai ke tempat Kakek,” kataku ketika bus yang kutumpangi sampai di terminal kota asalku. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (18)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana Masih teringat jelas pertemuanku dengan Surti sore itu. Tanpa kuduga, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *