Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (1)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (1)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

KAMAR ini kecil.

Ya, kamar ini kecil. Luasnya sekitar tiga kali dua setengah meter. Tapi, di kamar kecil dan sempit inilah aku membangun semangat kehidupan dan merenda hari esok demi orang-orang yang paling kucintai. Demi kedua anakku, buah hati yang tersisa, Gagah dan Wanda.

Buah hati yang tersisa? Memang begitulah kenyataannya. Aku tak lagi memiliki buah hati yang lain kecuali mereka berdua, semenjak Mas Bim, suamiku, direnggut dari sisiku dengan paksa.
Padahal, Mas Bim segala-galanya bagiku. Dia lelaki tempatku menggantungkan harapan, tempat mengadukan keluh dan mencurahkan rasa kasih. Kini, setelah Mas Bim terenggut, hanya tinggal kepada si perjaka gadis kecilku itulah tempatku mencurahkan kasih sayang.

Masih terbayang jelas di mataku, bagaimana suamiku direnggut secara kasar dan menyakitkan, saat menjelang senja di bulan Maret itu. Dan, masih terngiang-ngiang di telingaku. Ya, semua masih. Masih kuingat sampai kapan pun!
Aku baru saja selesai mandi, ketika si kecil Wanda berlari-lari menemuiku di kamar dan berkata, “Ma, ada tamu yang mencari Papa. Katanya ada urusan penting.”

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (46)

Sedikit pun aku tak merasa curiga. Kupikir teman-teman suamiku yang datang. Namun begitu sampai di pintu depan, ternyata tidak satu pun di antara tamu-tamu itu yang kukenal.

Pertama-tama kulihat ada empat lelaki berdiri di depan pintu. Wajah-wajah mereka terkesan tak ramah. Tidak satu pun di antara mereka yang melontarkan senyum. Lalu, dua orang lagi muncul dari samping kiri dan kanan rumah. Aku mulai curiga. Firasatku menyatakan, pasti ada sesuatu yang tidak beres.

“Di sini rumahnya Bimo Priambodo?” lelaki yang berkumis, yang berdiri persis di depan pintu tiba-tiba bertanya sebelum aku sempat menerjemahkan firasatku lebih jauh.

“Ya, betul,” anggukku dengan gelisah.

“Tolong beritahu, kami ingin bertemu,” lagi kata tamu yang belum sempat kupersilakan masuk itu dengan nada terasa tinggi.

“Maaf, Bapak-bapak ini siapa dan dari mana?” aku mencoba bertanya.

“Katakan saja ada tamu-tamu yang ingin bertemu. Ada urusan sangat penting,” yang berdiri di sisi kanan pintu menjawab.

“Ma, Papa sedang mancing di belakang, kok. Tadi Wanda ikut ke sana,” tiba-tiba Wanda yang berdiri di belakangku bersuara.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (57)

“Oh iya, suami saya sedang memancing di belakang sana. Tidak jauh dari rumah, kok. Biar saya panggilkan dulu sebentar,” timpalku cepat dengan sedikit tergagap. Ya, kepolosan dan kejujuran si bungsu Wanda membuatku tergagap dan gelisah.

“Tidak usah. Biar kami saja yang langsung menemuinya,” ujar yang berkumis seraya berjalan ke samping rumah diikuti tiga temannya, sedang dua orang lainnya tetap di halaman rumah.

Detak langkah mereka yang bergegas semakin menggelisahkan perasaanku. Entah mengapa, tiba-tiba aku merasa dililit kecemasan. Tak jelas, apa yang sesungguhnya kucemaskan. Tetapi yang pasti, rasa cemas itu telah melemahkan seluruh sendi-sendi tubuhku. Kuraih tangan Wanda, lalu kugenggam erat-erat. Aku berharap kehangatan jari-jemari tangan anakku mampu mengusir rasa cemas dan gelisah. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *