Minggu , 21 Juli 2019
Beranda » Musik » La Nosta, Wadah Komunitas Tembang Kenangan di Yogyakarta
Sebagian anggota La Nosta dengan latar belakang Candi Borobudur. (ft. Ist)

La Nosta, Wadah Komunitas Tembang Kenangan di Yogyakarta

YOGYAKARTA sepertinya layak memperoleh predikat baru sebagai “Kota Tembang Kenangan”, di samping sejumlah predikat yang populer lainnya. Di tahun 50-an dan 60-an, Yogyakarta dikenal dengan sebutan “Kota Sepeda”, karena jalan-jalannya dipenuhi pengendara sepeda. Sekadar informasi saja, di tahun 50-an itu di Yogyakarta terdapat sekitar 60 ribuan lebih sepeda. Predikat-predikat populer lainnya yang disandang Yogyakarta di antaranya sebagai Kota Gudeg, Kota Pelajar, Kota Perjuangan, Kota Budaya, Kota Andhong dan Kota Pariwisata.

Predikat sebagai “Kota Tembang Kenangan” memang layak disandang Yogyakarta.  Betapa tidak. Sejak beberapa tahun terakhir, komunitas-komunitas pecinta atau penggemar tembang kenangan (lagu-lagu nostalgia), yakni lagu-lagu era tahun 50-an, 60-an, 70-an dan 80-an, baik lagu-lagu Indonesia maupun Barat, tumbuh subur di Yogyakarta.

Bagaikan jamur di musin hujan, komunitas-komunitas tembang kenangan bermunculan di banyak tempat seantero wilayah Yogyakarta. Di kawasan pemukiman, di komplek perumahan, di lembaga-lembaga swasta maupun pemerintahan, di kampung-kampung, desa-desa, dan lain-lainnya.  

Sekarang ini belum ada data pasti berapa jumlah komunitas tembang kenangan di Yogyakarta. Dari pengamatan sementara, jumlahnya mungkin duaratusan lebih. Atau bahkan tiga ratusan lebih, dan seterusnya. Walau data pastinya belum ada, tapi kehidupan komunitas tembang kenangan di Yogyakarta benar-benar meriah dan semarak. Boleh dibilang, di Yogyakarta dewasa ini tiada hari yang tanpa aktivitas komunitas-komunitas tembang kenangan.

 

La Nosta

Menariknya, tak ada kesan persaingan di antara sesama komunitas-komunitas tembang kenangan tersebut. Merasa memiliki kegemaran yang sama dalam hal menyanyi dan kesukaan terhadap lagu, terlihat hubungan antara satu komunitas dengan  komunitas lainnya sangat akrab dan guyub.

Untuk lebih mendekatkan atau mengakrabkan hubungan antar sesama komunitas, beberapa komunitas tembang kenangan kemudian membentuk wadah bersama. Salah satu wadah kegiatan bersama komunitas tembang kenangan di Yogyakarta adalah La Nosta.

Wadah komunitas-komunitas tembang kenangan dibentuk pada tahun 2015 lalu, setelah sebanyak 16 komunitas pecinta lagu-lagu lawas itu sepakat membentuk wadah kegiatan bersama.

“Tepatnya wadah bersama itu dibentuk pada awal Mei 2015. Pada awalnya hanya sebanyak 16 komunitas yang bergabung membentuk wadah bersama, yang kemudian diberi nama La Nosta. La Nosta itu singkatan dari Laras Nostalgia. Kebetulan ke-16 komunitas yang sepakat bersatu dalam satu wadah itu merupakan komunitas-komunitas tembang kenangan yang rutin mengisi acara Laras Nostalgia di Radio Swara Kenanga Yogyakarta,” ujar Nasrun Sidqi yang dipercaya sebagai Sekretaris I La Nosta pekan lalu, dalam satu kesempatan bertemu di Yogyakarta.

Menurut Nasrun Sidqi, sejak berdiri hingga sekarang, La Nosta tidak pernah sepi dari kegiatan. Dalam setiap minggunya selalu diadakan acara nyanyi bersama, yang tempat atau lokasinya berpindah-pindah. Tak jarang aktivitas nyanyi bersama itu diselenggarakan secara bergantian di rumah para anggotanya. Dan, yang menggembirakan jumlah komunitas tembang kenangan dari tahun ke tahun terus bertambah.

         

Paseduluran  Saklawase

Ketua La Nosta, Eddi Haryogya, dalam kesempatan yang sama menjelaskan, tujuan utama dari wadah bersama komunitas tembang kenangan yang sekarang dipimpinnya itu untuk mendukung siaran acara Laras Nostalgia di Radio Swara Kenanga, Yogyakarta, setiap Minggu siang, maupun hari-hari istimewa lainnya.

Selain itu, jelas Eddi Haryogya, sekaligus juga untuk menjalin silaturrahim antara para anggotanya dengan prinsip “Paseduluruan Saklawase, Guyub-rukunSaklawase“. Sambil meningkatkan kemampuan anggotanya, yang berasal dari beragam komunitas tembang kenangan itu dalam berolah-vokal.

Baik Eddi Haryogya maupun Nasrun Sidqi, sama-sama menyatakan tekadnya untuk menjaga kekompakan dan kebersamaan di dalam La Nosta, dan membawa wadah komunitas-komunitas tembang kenangan ini menjadi lebih maju dan cemerlang lagi.

“Yogyakarta ini merupakan Daerah Istimewa. Sebagai warganya, kami mencoba mengisi keistimewaan itu dengan menghadirkan Yogyakarta sebagai Kota Tembang Kenangan,” kata Nasrun Sidqi, yang juga dibenarkan Eddi Haryogya.

Secara lengkap sosok-sosok yang menggerakkan roda kepengurusan La Nosta sebagai wadah komunitas tembang kenangan di Yogyakarta tersebut terdiri: Ketua Eddi Haryogya, Wakil Ketua Heru Purwanto, Sekretaris I Nasrun Sidqi, Sekretaris II Martan Kiswoto, Bendahara I Rapiningsih, Bendahara II Ike Yunita Sari. Sedang Dewan Pengurus terdiri Heru Kartono, Ken Utami, Rumijati Roemy, Hera Wati dan Suharno. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *