Jumat , 18 Oktober 2019
Beranda » Pendidikan » Kyai Sadrach, Padukan Budaya Jawa ke Nilai-nilai Kristiani
Gereja peninggalan Kyai Sadrach di Karangyoso, Purworejo, saat ini dalam bentuk barunya setelah direnovasi. (ft. wikipedia)

Kyai Sadrach, Padukan Budaya Jawa ke Nilai-nilai Kristiani

Kyai Sadrach (ft. net)
BAGI umat Kristiani di Purworejo, Jawa Tengah, dan sekitarnya, Kyai Sadrach adalah nama dan sosok yang melegenda. Bahkan dalam sejarah atau riwayat penyebaran agama Kristen di Jawa, nama Kyai Sadrach sangat dikenal dan dipandang sebagai tokoh pribumi penyebar Injil yang terkemuka.

Namanya lebih dikenal dibanding petugas-petugas zending kulit putih (Eropa). Dalam penginjilan di daerah Purworejo dan wilayah Kedu lainnya, ia jauh lebih berhasil dibanding petugas-petugas zending tersebut.

Dalam riwayat perkembangan ajaran-ajaran Kristiani di Jawa, Kyai Sadrach merupakan orang pertama yang mencapai sukses besar dalam penginjilan di desa-desa. Menurut C. Guillot, pada tahun 1889 ia sudah memiliki jemaah yang mencapai angka 3.000 orang di Purworejo serta wilayah Kedu lainnya.

Padahal petugas-petugas zending yang melakukan penginjilan jauh lebih lama hanya mendapatkan pengikut atau jemaah puluhan orang saja. (lihat: C. Guillot, Kiai Sadrach – Riwayat Kristenisasi di Jawa, Grafiti Pers, 1985).

Keberhasilan Kyai Sadrach dikarenakan kemampuannya memadukan prinsip-prinsip budaya Jawa, terutama yang berkaitan dengan religi Jawa, ke dalam ajaran-ajaran Kristiani. Cara-cara yang ditempuhnya memang mengingatkan kepada apa yang telah dilakukan para Wali Sanga, ketika menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Para Wali Sanga mempertemukan dan memadukan tradisi atau religi Jawa ke dalam pemahaman Islam. Hasilnya memang luar biasa. Islam dengan cepat berkembang dan menyebarkan pengaruhnya di seantero Jawa.

Langkah yang hampir sama seperti itu jugalah yang ditempuh Kyai Sadrach. Ia memperkenalkan ajaran-ajaran Kristiani dan mengembangkannya ke penduduk di desa-desa dengan memadukan tradisi atau religi Jawa ke dalamnya. Penduduk-penduduk desa di Purworejo dan sekitarnya yang kental dengan tradisi dan religi Jawa, tidak merasa terusik dengan ‘ajaran baru’ yang dibawa Kyai Sadrach.

Bahkan, karena kemampuannya dalam berkomunikasi, serta ketokohannya sebagai seseorang yang disegani, ajaran-ajaran Kristiani yang dibawanya dengan cepat dan mudah diterima oleh masyarakat setempat.

 

Jumpa Ki Tunggul Wulung

Meski ia membangun komunitas atau jemaah di kawasan Karangyoso, Butuh, Purworejo, sesungguhnya Kyai Sadrach berasal dari Jepara, Jawa Tengah, dan lahir sekitar tahun 1835. Ia berasal dari keluarga petani yang miskin dan terlahir dengan nama Radin. Ketika muda, ia sudah tertarik terhadap hal-hal yang berhubungan dengan dunia spiritual. Ia banyak melakukan laku spiritual untuk meningkatkan kemampuannya.

Bahkan ia sempat belajar pada seorang guru ngelmu bernama Kurmen atau Sis Kanoman di Semarang. Merasa cukup dengan mendapatkan ‘ilmu’ dari Kurmen, ia pun kemudian mempelajari dan memperdalam Islam di pesantren.

Simak juga:  Pasar Beringharjo, Dulu Terindah Di Jawa

Tak hanya di satu pesantren saja, tapi ia mempelajari Islam dari satu pesantren ke pesantrean lainnya. Berkat belajar di pesantren itulah maka Radin bisa membaca Alquran atau mengaji, bisa menulis huruf pegon (bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab), di samping bisa membaca dan menulis dengan aksara Jawa.

Sehabis belajar di pesantren itu pula ia menambah nama “Abas” yang berbau  Arab di belakang nama aslinya. Sehingga ia pun kemudian sempat dikenal dengan nama Radin Abas.

Setelah sekian waktu mengembara menuntut ilmu, ia bertemu kembali dengan bekas gurunya, Kurmen alias Sis Kanoman. Pertemuan itu ternyata menjadi titik balik perjalanan keimanannya. Bekas guru ngelmu-nya tersebut, ketika itu sudah menjadi seorang Kristiani melalui penginjilan Ki Tunggul Wulung.

Lewat Kurmen, Radin Abas kemudian berkenalan dengan Ki Tunggul Wulung. Dari Ki Tunggul Wulung itulah, ia mendapatkan pemahaman dan pelajaran-pelajaran tentang agama Kristen. Karena pengaruh yang besar dari Ki Tunggul Wulung, Radin Abas pun kemudian menyatakan dirinya menjadi seorang Kristiani.

Ki Tunggul Wukung lalu membawa Radin Abas ke Batavia, dan memperkenalkannya kepada Mr. Anthing, Wakil Ketua Mahkamah Agung Belanda di Hindia Belanda. Radin Abas pun tinggal di Batavia, dan selama dua tahun mendapat pelajaran tentang iman Kristen. Kemudian pada 14 April 1867, ia pun dibaptis oleh Pendeta Ader, dan berganti nama Sadrach.

Singkat cerita, setelah beriman ke dalam Kristen, Sadrach sempat menetap di sebuah desa Kristen baru bernama Bondo, sebelah utara Jepara, bersama mantan gurunya, Kurmen. Desa Kristen ini dibuka oleh Ki Tunggul Wulung. Tapi kemudian, Sadrach meninggalkan desa itu, dan pergi ke arah barat untuk mencari jemaah bagi keyakinan barunya, Kristen. Ia pun menuju ke Purworejo, dan awalnya menetap di rumah keluarga Philips.

 

Rasul Jawa

Sadrach kemudian memilih desa Karangyoso, sekitar 7 km di selatan Kutoarjo, kota kecamatan di Purworejo, untuk membangun komunitas kerasulannya. Dan, oleh masyarakat atau jemaahnya di Karangyoso serta sekitarnya, Sadrach pun mendapat sebutan sebagai Rasul Jawa.

Di desa Karangyoso itulah Sadrach yang oleh para jemaahnya dipanggil Kyai itu membangun gereja. Dan, gereja itu selain sebagai tempat peribadatan, juga merupakan tempat berkumpulnya para jemaah.

Simak juga:  Material Gamelan dan Konteks Budaya

Bentuk bangunan gereja yang dibangun Kyai Sadrach di Karangyoso jauh berbeda dengan arsitektur gereja-gereja pada umumnya, terutama gereja-gereja yang dibangun oleh zending Belanda. Bangunan gereja Kyai Sadrach itu sepintas bentuknya seperti bangunan masjid yang berarsitektur Jawa, atau perpaduan arsitektur Jawa dan Islam (Arab).

Bentuk bangunan gereja seperti itu secara emosional memang lebih mudah diterima masyarakat Jawa di pedesaan, terutama di Karangyoso dan sekitarnya. Karena bangunan peribadatan itu penuh dengan elemen-elemen Jawa, maka masyarakat setempat yang baru saja menjadi Kristiani merasa tidak terlalu asing dengan gereja tersebut.

Akan tetapi kepopuleran Kyai Sadrach ternyata telah menimbulkan kecurigaan penguasa Belanda, termasuk para petugas zending dari Eropa. Bahkan posisi Sadrach sempat dipojokkan. Ajaran-ajaran Kristen yang dikembangkannya dipandang berbahaya dan bertentangan dengan ajaran-ajaran Kristen yang sesungguhnya, karena di dalamnya terdapat sejumlah ritual tradisi Jawa.

Langkah Kyai Sadrach memasukkan elemen-elemen budaya Jawa ke dalam nilai-nilai ajaran Kristiani, dipandang sebagai sesuatu yang di luar kelaziman. Bahkan jemaatnya dipandang sebagai kelompok yang menyempal dari jemaat Kristiani.

Kyai Sadrach dan jemaatnya diasingkan, dan diabaikan dari komunitas gereja Belanda. Sadrach dipandang melah melakukan sinkretisme antara Kristen dan kejawen. Ia juga dituduh  sama sekali tidak mengerti hakikat ortodoksi kekristenan.

Tidak hanya itu. Orang-orang Belanda terutama para misionaris menuduh Sadrach telah mengembangkan ajaran yang menganggap dirinya sebagai Ratu Adil. Ia dituduh telah menyatakan dirinya sebagai reinkarnasi dari Kristus, atau Ratu Adil dalam konsep Kristiani.

         

Ditahan Belanda

Akibatnya padatahun 1891, para misionaris mengeluarkan keputusan bersama untuk memisahkan diri dari jemaat Kyai Sadrach. Sadrach dan jemaatnya pun dikucilkan. Bahkan ia sempat mendekam di dalam tahanan Belanda, karena dituduh telah membangkang dan menyebarkan ajaran sesat, yang berbahaya bagi ajaran Kristiani.

Karena tidak lagi diakui oleh penguasa Belanda, gereja Kyai Sadrach melaksanakan kegiatannya secara mandiri. Dalam kurun waktu tigapuluh tahun (1894 – 1924), Kyai Sadrach dan jemaatnya yang mulai terbatas, tak lagi berhubungan dengan gereja-gereja Belanda atau para misionaris Belanda.

Dan, pada tanggal 14 November 1924, Kyai Sadrach meninggal dunia dalam usia 89 tahun. Gereja peninggalan Kyai Sadrach di Karangyoso, Purworejo, sampai kini masih terjaga dan terawat dengan baik. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

“Pemberontakan Wanita” dan “Psikologi Jawa”

DI Hari Buku, 23 April, saya tergoda untuk mengajak Anda berbincang tentang dua buku yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *