Kamis , 14 November 2019
Beranda » Humaniora » Kyai Haji Mas Mansur dan ‘Penolakan’ Gamelan

Kyai Haji Mas Mansur dan ‘Penolakan’ Gamelan

PERNAH membaca buku ini? Buku berjudul “Rangkaian MUTU MANIKAM dari KYAI HADJI MAS MANSUR”. Ini buku lawas yang diterbitkan Penerbit Penyebar Ilmu & Al-Ichsan Surabaya tahun 1968.

Saya beruntung punya hobi blusukan ke penjual atau kios-kios buku bekas. Hobi ini saya geluti sejak muda dulu, hingga kini. Berkat hobi itulah, beberapa tahun lalu saya mendapatkan buku ini. Walau terkesan usang, dan warna kertasnya memburam termakan usia, tapi buku ini, buat saya sungguh sesuatu yang berharga. Banyak hal yang sebelumnya tidak saya ketahui dari riwayat perjalanan dan keberadaan Muhammadiyah, bisa diperoleh di buku ini. Ada wawasan baru dan pencerahan di dalamnya.

Buku ini merupakan kumpulan buah pikiran Kyai Haji Mas Mansur. Di dalamnya terhimpun sebanyak 40 karya tulisan yang ditulis Kyai Haji Mas Mansur sepanjang tahun 1930-an dan 1940-an.

Kyai Haji Mas Mansur yang lahir di Surabaya, 25 Juni 1896 merupakan salah satu tokoh terkemuka di negeri ini. Pada tahun 1937 ia terpilih menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah. Karena ketokohan serta jasa-jasanya yang besar dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, pada tahun 1964, Presiden Sukarno mengangkatnya menjadi Pahlawan Nasional.

Simak juga:  Material Gamelan dan Konteks Budaya

Banyak hal menarik diperoleh dari kumpulan tulisan Kyai Haji Mas Mansur ini. Sebelum membaca buku ini, saya pernah mendapat informasi dari seorang teman, bahwasanya di awal-awal kelahiran, Muhammadiyah pernah tak mau bersinggungan dengan musik gamelan, yang notabene merupakan musik tradisional Jawa tersebut.

Tapi setelah membaca buku ini, saya menjadi paham, kenapa sikap ketidaksukaan terhadap musik gamelan itu sempat muncul. Dari buku ini dapatlah diketahui alasan kenapa sejak awal berdiri hingga sekitar 25 tahun usianya Muhammadiyah alergi dengan musik gamelan.

Dalam pertemuan Islam Studie Club di Pendopo Sono Budoyo Yogyakarta pada Agustus 1938, PA Surjodiningrat bertanya kepada Kyai Mas Mansur, kenapa Muhammadiyah tidak suka dengan musik gamelan dan justru menyukai musik Barat. Apakah sebab-sebabnya suara musik Barat diperkenankan oleh Muhammadiyah, sedangkan suara gamelan diperlakukan sebagai anak tiri dan dipandang haram? Ini pertanyaan dari PA Surjodiningrat.

Pertanyaan itu dijawab oleh Kyai Mas Mansur. Menurutnya, semua itu dikarenakan pengaruh dari semangat Demak yang membenci segala hal yang berasal dari Majapahit. Semangat Demak inilah yang masih menghinggapi sebagian besar kaum Mutihan zaman sekarang. Gamelan adalah suatu warisan dari Majapahit dan karenanya diboikot oleh kaum Mutihan  (Muhammadiyah).

Simak juga:  Min Haitsu Yogya La Yahtasib

Untunglah sikap alergi terhadap musik gamelan itu sudah berlalu. Semuanya sudah berubah. Bahkan kini, Muhammadiyah memberikan peran besar dalam mengembangkan seni-seni tradisi di Tanah Air, termasuk seni karawitan, musik gamelan, wayang kulit, dan lain-lainnya.

Nah, menarik kan? *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Pemberdayaan Lanjut Usia Melalui Keahlian Mendongeng

DINAS Sosial Kota Yogyakarta kembali membuat gebrakan nyata dalam upaya mewujudkan Gersala atau Gerakan Sayang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x