Minggu , 25 Agustus 2019
Beranda » Humaniora » Diskusi Kebangsaan XXIII: Korup Budaya
(ft. archiveofourown.org)

Diskusi Kebangsaan XXIII: Korup Budaya

SELIRIA EPILOGUS

ADA korupsi besar kebudayaan yang terlewat dari perbincangan. Korupsi banyak dibedah pada korupsi material bernilai finansial, korupsi janji atau tipu daya bernilai komersial, korupsi waktu berekses ekonomi, korupsi keuangan oleh sebab penyelewengan, penipuan rekadaya, manipulasi penggelapan, dan pencurian penggarongan untuk keuntungan memperkaya diri sendiri dan atau orang lain, dan korupsi yang bersifat multidimensional karena berbasis permu-fakatan jahat (kolusi) yang melibatkan banyak pelaku lintas kedudukan sosial, tingkatan ekonomi, dan tataran jabatan. Korupsi majemuk, bersifat rombongan.

Korupsi struktural, dan karenanya korupsi adalah kriminal super khusus, kejahatan mendasar, mencakar sendi-sendi moral, etika, logika, dan estetika kehidupan. Takaran medik, penyakit kronis tak tersembuhkan. Kedua-duanya sama-sama kronis, (1) koruptor mungkin bisa disembuhkan namun akibat perbuatannya menjadi luka panjang, dan (2) perilaku korup, tidak perlu disembuhkan melainkan langsung tegas: dibasmi. Bumi angus ja, Bung!

Sejatinya, bukan membasmi koruptor, melainkan membasmi perilaku korup. Secara kebudayaan, terdakwa utama kasus korupsi itu bukan hanya koruptor, melainkan perilaku koruptif.  

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan IV : Kebudayaan Adalah Ruh dan Spirit Kebangsaan

Ada korupsi besar kebudayaan yang terlewat dari perbicangan. Yaitu, reduksi nilai keragaman, reduksi bhinneka yang berketunggalikaan. Bahkan pembelokan. Keragaman yang mejemuk dan multidimen-sional, dan terbukti mampu membangun kerekatan dalam satuan kebangsaan, dikoyak melalui pendekatan anti kebangsaan, anti kemajemukan, dan pemuja ketunggalan dalam segala hal, termasuk ketunggalan dalam perilaku harian. Jelas, suatu kehendak buat membangun realitas simpang, realitas pengingkaran terhadap jati diri bangsa beragam. Realitas mendarahdagingnya keragaman, peradaban panjang yang memelihara toleransi dan menerima perbe-daan, dibelokkan melalui pintu-pintu ancaman berupa tuduhan salah jalan dan penjerumusan ke lembah kenistaan, untuk dan atas nama ketunggalan dalam segala hal dan urusan.

Pengingkaran terhadap keberagaman, keragaman yang berkerekatan membangun kesatuan bangsa, adalah korupsi terbesar kebudayaan. Korupsi atau penggelapan realitas kebudayaan, berupa upaya memanipulasi atas nilai-nilai peradaban yang mewujud dalam persaudaraan, keadilan, kesetaraan, toleransi, terbuka menerima perbedaan, bersikap tenggang rasa, serba saling bantu tolong-menolong, bersifat gotong royong, untuk tidak menciptakan permusuhan, tidak memelihara dendam, hidup berkarya untuk kenyamanan bersama adalah korupsi besar dan mendasar. Bahkan, tidak hanya dikorupsi, tetapi nilai-nilai peradaban dalam masyarakat berkebudayaan plural pun, telah dibelokkan untuk dicari kesempatan tepat buat ditenggelamkan.

Simak juga:  Gembira

Terhadap korupsi kebudayaan yang semacam ini, bangsa majemuk yang toleran, tidak boleh membiarkan. Keberagaman telah dikorup oleh mereka yang tidak lahir dan besar dalam konteks sejarah bangsa dibangun, dibangun oleh dan untuk hidup berkeragaman itu. Keberagaman adalah anugerah. Respon reaksinya, hikmat kesyukuran.

Perilaku korup terdahap kebudayaan hidup berkeragaman, tidak kalah besar skala daya rusaknya dibanding korup material bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Perhatian dalam pencegahan dan penindakan terhadap perilaku korup sama berharganya dengan upaya pencegahan dan penindakan terhadap korup perilaku. Korup kebudayaan, korup terhadap realitas peradaban panjang, yaitu tradisi hidup berkeragaman. Menjadi jelas, kepada pihak mana toleran dan intoleran itu seharusnya diperuntukkan. ***

 

PURWADMADI ATMADIPURWA

Lihat Juga

Derap Kebangsaan XXVI: Kesimpulan

Diskusi Derap Kebangsaan seri XXVI, yang menghadirkan 3 narasumber, yakni, Idham Samawi, Anggota DPR-MPR RI, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *