Minggu , 21 Juli 2019
Beranda » Humaniora » Derap Kebangsaan XXV: Jangan Hancurkan Rumah Kita
Drs. Oka Kusumayudha (kedua dari kiri), (ft. Ist)

Derap Kebangsaan XXV: Jangan Hancurkan Rumah Kita

Tidak ada seorangpun di dunia ini yang mampu menghentikan perkembangan teknologi informasi yang sedang berlangsung dalam era revolusi industri 4.0. Digitalisasi menjadi penanda utama dalam menjalani kehi-dupan di hampir semua sektor. Kemudahan ditawarkan dengan menggunakan jasa teknologi ini. Ibu-ibu rumah tangga tidak perlu susah payah pergi ke pasar atau ke mall untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan menggunakan jasa aplikasi handphone, semuanya bisa dilakukan dari rumah. Tinggal menunggu kiriman yang diantar jasa pengiriman, semua kebutuhan itu terlayani dengan baik. Telah terjadi revolusi di bidang industri. Akibatnya, tidak sedikit akhirnya tenaga kerja dirumahkan. Prinsip efisiensi ekonomi memang terpenuhi. Tapi memakan korban tenaga kerja. Pusat belanja (mall) mengeluhkan semakin berkurangnya pengunjung. Mall semakin sepi. Hal ini tentu mengarah pada ancaman bangkrut. Lantas siapa yang diuntungkan dengan adanya revolusi industri 4.0 ini ?

Tidak pelak lagi kemajuan teknologi juga merambah ke ranah media massa atau dunia pers. Dengan begitu pesatnya perkembangan media sosial (medsos) seolah-olah piranti ini dianggap dapat menggantikan dunia pers. Padahal antara keduanya ini ada perbedaan yang sangat hakiki. Dunia pers dikerjakan berdasarkan semangat profesi. Ada ketentuan teknis, etika dan menjunjung azas kebenaran berdasarkan fakta. Sementara medsos, bisa dilakukan siapa saja tanpa memerlukan persyaratan. Menyiarkan kebenaran berdasarkan fakta tidak dijadikan pertimbangan. Bahkan tidak sedikit terjadi pemutarbalikan fakta dan seolah-olah men-jadi suatu kebenaran. Yang salah seolah-olah benar dan sebaliknya. Perkembangan ini akhirnya membawa dampak semakin terjepitnya kehidupan pers bergeser kepada penggunaan media digital. Sehingga tidak sedikit media pers cetak bermigrasi ke media digital. Menyadari perkembangan ini tidak kuasa dilawan, maka perlu dicari solusi jangan sampai kita menjadi korban. Jangan sampai “rumah” kita hancur dilalap kemajuan teknologi. Terakhir ada informasi, sebuah penerbitan berupa Koran bisnis di Sumatera Utara menyatakan “Vaya condios” kepada sidang pembacanya. Akibat tidak mampu lagi mempertahankan penerbitannya. Terpaksa gulung tikar dan migrasi ke media digital untuk mempertahankan idealisme pengelolanya.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XV: Bangsa Ini Harus Banting Stir Kembali ke Pancasila

Bertalian dengan hal yang diuraikan di atas, Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta menyelenggarakan diskusi Derap Kebangsaan bertema : “Tantangan Media Mainstream di Era Industri 4.0”. Menampilkan nara sumber: Dr. Imam Anshori Saleh MH (Pemred Senayan Pos), Dr. S. Bayu Wahyono MS (Dosen UNY) dan Drs. HM Idham Samawi (Anggota DPR/MPR RI). Sebagai moderator Dra. Esti Susilarti M.Pd.

Diskursus mengenai perkembangan revolusi industri 4.0 sudah menjadi wacana di berbagai kalangan. Sejauh mana solusi yang ditawarkan dari berbagai forum itu, masih belum tampak hasilnya. Sementara itu, Jepang sebagai negara maju di bidang teknologi sudah menyatakan sedang mempersiapkan langkah-langkah untuk memasuki revolusi industri 5.0. Seperti apa perkembangannya? Kita nantikan hasilnya.

Dari hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh kalangan akademisi di UNY, diperoleh hasil semakin berkurangnya minat baca di kalangan masyarakat. Semakin mempriha-tinkan lagi kaum milenial termasuk golongan masyarakat yang sangat kurang menyenangi literasi. Jelas hal ini membawa dampak pada masa depan bangsa yang tidak menggembirakan. Semoga saja masyarakat segera sadar, bahwa ravolusi industri 4.0 bukanlah segala-galanya. Bahkan jadikan dia tantangan untuk meningkatkan kemajuan bangsa. ***

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XX: Pemuda, Jangan Layu Sebelum Bersemi

                               

Oka Kusumayudha.

Lihat Juga

Derap Kebangsaan XXVI: Untuk Membangun Kerukunan, Harus Ada Ketulus-ikhlasan

DR. BADRUN ALAENA M.SI, KETUA PUSAT STUDI PANCASILA DAN BELA NEGARA UIN SUNAN KALIJAGA: SYUKUR …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *