Jumat , 22 November 2019
Beranda » Pendidikan » Jadikan Media Sebagai Arena Perang Hancurkan Hoax
Berdakwah menyampaikan tentang suatu kebenaran tidak hanya disampaikan melalui forum pertemuan atau pengajian seperti ini, tapi juga disampaikan melalui tulisan di media. (ft. SEA/dok)

Jadikan Media Sebagai Arena Perang Hancurkan Hoax

KITA bicarakan lagi perihal berita atau informasi hoax yang beberapa tahun terakhir ini telah merusak sendi-sendi kebersamaan dalam berbangsa dan bernegara. Bila kita tidak ingin bangsa ini tercerai-berai karena pengaruh hoax, maka tak ada pilihan lain selain melawan dan menghancurkan hoax tersebut.

Dalam kecamuk era-globalisasi dan digitalisasi dewasa ini, rasanya tidak ada alasan untuk tidak memanfaatkan peluang media pers yang strategis itu bagi pengembangan syiar agama, sekaligus melawan berita-berita hoax. Artinya, sudah saatnya kita memastikan sikap dan langkah menjadikan media pers sebagai sarana dakwah, termasuk dakwah dalam memerangi berita atau informasi-informasi hoax. Dan, bukanlah sesuatu yang bombas, kalau kita sepakat menjadikan media sebagai arena perang untuk melawan dan menghancurkan hoax.

Dakwah dalam bahasa aslinya (Arab) mempunyai pengertian sebagai ajakan, panggilan, seruan atau imbauan. Menurut ulama terpandang Syekh Ali Mahfudh dalam kitab Hidayatul Mursyidin, dakwah Islam memiliki arti mendorong manusia untuk melakukan kebajikan, kebaikan serta mengikuti petunjuk, menyuruh berbuat kebaikan serta melarang melakukan perbuatan mungkar, agar memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan dunia akhirat.

 

Tugas Mulia

Bagi setiap Muslim, berdakwah merupakan tugas mulia. Artinya, setiap Muslim haruslah menjadi “Serdadu Allah” yang bertugas dan berkewajiban menjadi pengajak, penyeru atau pemanggil kepada umat manusia untuk melaksanakan amar-makruf dan nahi-munkar. Mengajak kepada kebaikan dan meninggalkan kenistaan.

Simak juga:  Media Sosial Kini Menakutkan

Tugas dan kewajiban mulia itu tertera jelas dalam firman Allah, di antaranya: “Dan hendaklah ada di antara kamu, umat yang berdakwah, yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh mengerjakan yang benar dan melarang perbuatan salah atau kemungkaran. Mereka itulah orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104)

Cara berdakwah di mana pun pada dasarnya memiliki prinsip yang sama. Demikian pula pada persoalan materi dan ideologi dakwah yang diemban tidak akan pernah berbeda. Semuanya bermuara dan berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

Akan tetapi berdakwah melalui media pers, memiliki teori-teori atau cara yang sangat berkaitan erat dengan metode-metode jurnalistik yang ada dalam kaidah-kaidah ilmu komunikasi massa.

Dalam visualisasinya, Jurnalistik Dakwah tentu harus mengembangkan Jurnalisme Dakwah. Jurnalisme Dakwah adalah Jurnalisme Islami, yakni jurnalisme yang mengedepankan syiar Islam dan mengutamakan amar-makruf nahi-munkar. Jurnalisme mulia ini tidak hanya bertumpu pada keberadaan ilmu komunikasi massa semata, tetapi juga harus ditopang dengan ‘keampuhan’ beberapa ilmu lainnya, seperti psikologi, sosiologi, politik, antropologi, sejarah, bahasa, kebudayaan, agama dan lainnya.

 

Pahami Kondisi Umat

Kondisi umat atau masyarakat yang akan dijadikan sasaran dari Jurnalistik Dakwah itu pun haruslah terlebih dulu dipahami. Terlebih dalam perang melawan hoax, haruslah lebih dulu dicari sebab dan dipahami mengapa ada masyarakat yang mudah terpengaruh atau percaya dengan berita-berita hoax. Umat atau masyarakat bila digolongkan tingkat pemikirannya akan terbagi dalam tiga kelompok. Pertama: umat yang berpikiran kritis. Kedua: umat yang mudah dipengaruhi. Ketiga: umat yang bertaqlid.

Simak juga:  Derap Kebangsaan XXV: Media, Demokrasi Digital, dan Ekonomi Komunikasional

Dengan melihat pada kondisi umat yang ada, Jurnalistik Dakwah haruslah mampu memilih tema dan sasaran dakwah yang tepat, sehingga apa yang disampaikan akan mengena pada maksud dan tujuannya. Penulis atau pendakwah harus mampu merangsang dan membawa pembacanya pada pokok sasaran yang diinginkan, sehingga pembaca akan terbawa serta terlibat dalam persoalan yang disajikan.

Jadi, ketika kita memberikan pemahaman tentang apa dan bagaimana berita-berita atau informasi-informasi hoax, masyarakat yang dituju dengan cepat dan mudah memahaminya. Bila umat atau masyarakat sudah bisa diberi pemahaman tentang bagaimana ciri-ciri berita hoax, bagaimana bahayanya, bagaimana akibat-akibat yang bisa ditimbulkannya, maka peran melawan hoax sudah di pintu gerbang kemenangan.

Ini saja dulu perbincangan kita. Besok disambung lagi. Salam.

 

Sutirman Eka Ardhana

Tulisan ini telah dimuat di elang2016.wordpress.com (20/10/2019)

Lihat Juga

Lawan Hoax dengan Jurnalistik Dakwah

BERMULA dari obrolan di warung angkringan. Di warung angkringan yang biasa saya datangi, saya duduk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x