Jumat , 10 Juli 2020
Beranda » Humaniora » ORANG KAMPUNG (1): Indahnya Cari Ikan di Parit dan Makan Sayur Daun Paku
Daun Paku Pakis. (ft. Ist)

ORANG KAMPUNG (1): Indahnya Cari Ikan di Parit dan Makan Sayur Daun Paku

KEBANGGAAN saya sebagai orang kampung tak pernah pudar hingga hari ini. Walau sudah hampir 50 tahun saya tinggal di Yogya, dan sebelumnya tiga tahun di Kebumen, saya tetap merasa sebagai orang kampung.

Memang begitulah realitanya. Saya lahir dan berangkat remaja di kampung yang penuh dengan kebun-kebun karet (pohon para), kebun nenas, dan lain-lain. Di sekitar rumah saya banyak tumbuh liar pohon-pohon senduduk dan semak-semak daun paku (pakis). Parit-parit di kampung saya warnanya pun coklat bagaikan air teh. Ou, betapa indah dan menyenangkan mandi di parit yang airnya sejuk itu.

Karena kampung saya berada di sebuah pulau kecil, maka jarak ke pantai tidaklah terlalu jauh. Jadi, hari-hari saya tak hanya memandang hijaunya daun-daun pohon karet, tapi juga memandang laut dan ombaknya.

Saya tak mungkin melupakan kampung, karena di sanalah tempat dilahirkan.
Sungguh, sampai hari ini, saya tetap bangga sebagai orang kampung.

 

Cari Ikan di Parit

Jangan pernah malu jadi orang kampung. Jangan pernah merasa rendah diri. Jangan pernah tersinggung, kalau disebut sebagai orang kampung. Karena sejatinya memang orang kampung. Dan, realita itu tak boleh dipungkiri.

Saya bangga sebagai orang kampung. Karena saya yakin, sebagai orang kampung, orang yang lahir dan tumbuh di kampung, saya memiliki banyak pengalaman yang indah dalam kehidupan. Saya memiliki pengalaman masa kecil yang kaya dengan warna-warni kehidupan.
Ketika kecil dulu, bila libur sekolah, salah satu kegiatan favorit saya adalah menangguk ikan di parit. Dengan tangguk yang terbuat dari anyaman bambu, saya pun terjun ke parit depan rumah yang memang tak dalam itu. Paling dalam airnya sebatas dada saya.

Simak juga:  Apresiasi Karya di Ambenan Ijogading

Alangkah bahagianya, jika tangguk saya itu berhasil menangguk ikan-ikan kecil dan sedang. Paling sering tertangguk itu ikan sepat, dan ikan-ikan kecil. Maaf, saya lupa namanya, yang teringat warnanya kemerah-merahan, seperti ikan hias (kalau di kota). Tapi tak jarang pula, tangguk saya mendapat ikan gabus (kutuk) dan ikan keli (lele) sebesar lengan saya.
Sering pula ikan keli itu saya peroleh dengan menangkapnya langsung di dalam lubang-lubang atau lorong-lorong kecil di pinggir-pinggir parit. Ikan keli (lele) memang suka membuat lubang-lubang di parit. Biasanya di dalam lubang-lubang kecil itu berkumpul dua atau tiga ekor ikan keli. Tanpa ada rasa takut, tangan kecil saya pun masuk ke dalam lubang-lubang. Gembiranya saya kalau di dalam lubang itu ada ikan keli. Padahal sering kali nenek saya menasehati, jangan sembarang memasukkan tangan ke lubang-lubang di parit, karena bisa saja di dalam lubang itu tak ada ikannya, tapi justru ular yang ada. Untunglah, saya tak pernah menemukan ular di dalam lubang-lubang di parit itu.

Ikan keli memang suka berlindung di balik akar-akar pohon yang menyeruak di dalam parit, atau di balik potongan kayu-kayu yang terendam di dasar parit. Di usia kanak-kanak seperti itu, saya sudah punya keterampilan menangkap ikan keli dengan aman, artinya tidak terkena sengatan atau dipatil patilnya. Walau pun begitu saya sempat juga beberapa kali terkena sengatan atau dipatil ikan keli. Sengatan itu terasa sakit, apalagi buat anak-anak seusia saya.
Kalau ikan-ikan sepat atau ikan-ikan kecil yang diperoleh tak terlalu banyak, biasanya saya masukkan ke dalam toples kaca untuk hiasan. Tapi kalau ikan gabus atau ikan keli seberapa pun jumlahnya pasti saya berikan ke nenek untuk menggorengnya.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIV: Perempuan Pelestari Pancasila

Dan kini, saya rindu akan kegembiraan, kebahagiaan dan kesenangan menangguk ikan-ikan di parit-parit itu. Sungguh, suatu kenangan yang indah dalam kehidupan saya.

 

Sayur Daun Paku

Orang-orang kota (yang lahir dan besar di kota) mungkin tak mengenal daun ini, yakni daun paku (pakis). Andaikan tahu atau mengenal, pasti tak percaya kalau daun ini bisa dimakan, tentunya setelah dimasak terlebih dulu. Karena menganggap daun paku atau pakis ini hanya tanaman liar, yang tumbuh bersama semak-semak ilalang.

Tapi buat saya, yang merasa orang kampung, karena lahir dan tumbuh di kampung, daun paku atau pakis ini bukanlah sesuatu yang asing. Bahkan daun paku ini terasa begitu akrab dengan kehidupan saya.

Betapa tidak. Daun paku atau pakis ini banyak tumbuh secara liar di sekitar rumah saya. Tumbuh di pinggiran parit-parit sekitar rumah. Apalagi di kebun belakang rumah, di antara pohon-pohon karet (getah), pohon-pohon senduduk, di dalam gerumbul semak-semak, dan tetumbuhan perdu lainnya.

Dan, satu hal yang istimewa, daun paku atau pakis ini, sangat nikmat dan lezat bila disayur. Bila ingin memasaknya, tinggal memetiknya di sekitar rumah. Saya sangat suka sekali, bila daun paku ini disayur tumis (ditumis) atau dioseng-oseng. Ou, sedapnya. Bila ada sayur tumis daun paku, makan saya pun pasti lahap.

Tiba-tiba saya rindu lezatnya tumis daun paku. Rindu betapa indahnya menjadi orang kampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *