Beranda » Peristiwa » Imlek, Bukan Ritual Keagamaan
Malam Tahun Baru Imlek di Meizhou Tiongkok (ft. wikipedia)

Imlek, Bukan Ritual Keagamaan

MASYARAKAT Tionghoa di Indonesian pada 5 Februari tahun ini merayakan Imlek atau tahun baru China ke-2570. Dalam beberapa tahun terakhir ini, Imlek dirayakan dengan penuh sukacita oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia, karena sebelumnya selama bertahun-tahun di era Orde Baru, perayaan tersebut dilarang oleh pemerintah. Terlebih lagi sejak tahun 2006, perayaan Imlek sudah resmi dijadikan hari libur nasional.

Sejak itu perayaan Imlek kembali dirayakan masyarakat Tionghoa pada berbagai daerah di Indonesia, dengan beragam kegiatan yang semarak. Bahkan, perayaan Imlek tersebut tidak hanya dirayakan oleh masyarakat Tionghoa yang beragama Budha, atau penganut Khonghucu, tetapi juga dirayakan oleh yang beragama Kristiani dan juga Islam.

Bagi yang tidak paham dengan Imlek, memang sempat bertanya-tanya, apakah Imlek itu merupakan ritual tradisi atau ritual agama. Nah, untuk mengetahuinya, perlulah disimak riwayat keberadaan Imlek itu.

 

Tradisi Petani

Dalam sejarahnya, perayaan tahun baru Imlek berawal dari tradisi petani di China. Perayaan yang disebut sebagai tradisi masyarakat petani dalam menyambut datangnya musim semi itu sudah dikenal sejak zaman Dinasti Hsia (2250-1766 SM). Kemudian pada sekitar tahun 104 SM yang merupakan zaman keemasan Dinasti Han, tradisi itu dikukuhkan. Namun tidak sedikit pula masyarakat di China yang berpendapat, bahwa tahun pertama Imlek itu bersamaan dengan tahun kelahiran Khonghucu.

Meskipun terdapat dua pendapat tentang asal mula perayaan Imlek tersebut, realitanya perayaan Imlek dari masa ke masa, dan dari tahun ke tahun, terus berkembang sebagai perayaan tradisi masyarakat China di seluruh dunia, termasuk masyarakat Tionghoa di Indonesia, sekalipun mereka bukan para petani.

Simak juga:  Merawat Keberagaman Melalui Seni Rupa

Biasanya masyarakat Tionghoa merayakan Imlek dengan kegiatan utamanya berkumpul bersama seluruh anggota keluarga, dengan makan-makan, dan merayakannya sampai pagi. Pada kesempatan berkumpul itu anggota keluarga yang muda memberikan ucapan selamat kepada orang-orang yang lebih tua. Acara pemberian ucapan selamat itu dikemas dalam acara yang disebut Kiong Hi atau Pai-pai. Selain itu perayaan Imlek juga ditandai dengan sembahyang atau berdoa di kelenteng, terutama bagi mereka yang beragama Budha, maupun penganut ajaran Khonghucu.

Beberapa hari menjelang perayaan Imlek biasanya serangkaian acara telah pula berlangsung dengan meriah. Misalnya, berbagai tempat hiburan dan pusat-pusat keramaian, menyelenggarakan berbagai kegiatan hiburan, dari  bazar murah sampai ke atraksi  barongsai dan liong. Tidak ketinggalan pula pentas tarian-tarian tradisional China menambah semaraknya perayaan Imlek. Dan, satu hal yang istimewa dalam perayaan Imlek adalah terdapatnya kue ranjang. Kue ranjang merupakan kue yang sangat istimewa dan khas dalam setiap perayaan Imlek.

 

Kalender China

Sesungguhnya awal mula kehadiran Imlek sangatlah erat kaitannya dengan kalender atau penanggalan China, yang didasarkan pada fenomena astronomi sebagaimana halnya kalender Hijriyah dan Masehi. Kalender Hijriyah (Islam) didasarkan pada penanggalan bulan dalam mengelilingi bumi. Kalender Masehi didasarkan pada pergerakan matahari semu dalam mengelilingi bumi. Sedangkan kalender China didasarkan pada pergerakan bulan dan matajari semu yang mengelilingi bumi sekaligus.

Simak juga:  Merawat Keberagaman Melalui Seni Rupa

Di dalam astronomi, sistem kalender atau penanggalan yang didasarkan pada pergerakan bulan disebut kalender bulan (lunar calendar). Sistem kalender yang didasarkan pergerakan matahari disebut kalender matahari (lunisolar calendar). Karenanya sistem kalender China disebut yin dan yang li, artinya kalender bulan dan matahari.

Perlu diketahui, sistem kalender China mengikuti siklus metonik yang merupakan penyesuaian antara 235 lunasi bulan, dan lamanya 6339.6886 hari dengan 19 tahun tropis yang lamanya 6939.6018 hari. Pemakaian siklus metonik ini menyebabkan pergeseran penanggalan sebanyak dua jam setiap 19 tahun, atau satu hari setiap 228 tahun. Selain itu pemakaian siklus metonik juga menyebabkan adanya tahun biasa yang terdiri dari 12 bulan dan tahun kabisat yang terdiri dari 13 bulan.

Kemudian dalam sistem kalender China, setiap 19 tahun terdapat tujuh tahun kabisat. Dan, adanya tahun biasa serta tahun kabisat itu dikarenakan interval waktu 19 tahun tropis setara dengan 19 x 12 lunasi bulan ditambah tujuh lunasi bulan. *** (Sutirman Eka Ardhana)

 

          ** Dari berbagai sumber

Lihat Juga

Merawat Keberagaman Melalui Seni Rupa

Di Yogya kita bisa menemukan banyak hal yang berbeda. Dalam keseharian orang Yogya bisa saling …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *