Jumat , 22 November 2019
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Hidup Harus Senafas dengan Huruf Jawa
Hanacaraka. (ft. wikipedia)

Hidup Harus Senafas dengan Huruf Jawa

KALAU orang Jawa mau cermat dan teliti terhadap situasi alam, sebenarnya sudah diingatkan oleh para leluhur dengan berbagai macam ‘sasmita’.  Sasmita  atau tanda-tanda itu berupa peringatan secara tertulis dalam lambang tahun bahwa di tahun Yuyu yang berbuntut sembilan pada tahun Alip Windu Kuntara menunjukkan cakrawati yang mengerikan. Kebetulan tahun ini tahun Jawa 1939 Alip dan Yuyu jalannya miring. Bumi pada saat ini amat panas, manusianya gampang marah. Hutan mudah terbakar, bumi bergerak amat agresif. Tanah begitu mudah goyah. Dan bencana-bencana alam mudah sekali muncul tanpa bisa diprediksi sebelumnya. Peristiwa ini bakal terus berlangsung sampai menjelang tahun Be, Januari . Disitulah kita berharap mulai ada suatu perbaikan hidup yang lebih berkualitas.

Lalu bagaimana menghadapi situasi yang bergejolak itu. Para leluhur mengingatkan bahwa orang Jawa sudah diingatkan untuk ‘tidak heran’, tidak kagetan dan tidak gampang takabur.-‘aja gumunan’-‘aja kagetan’, dan ‘aja dumeh.’. Semua lantaran orang Jawa sudah dibekali dengan sebuah ilmu kehidupan yang tersirat dan tersurat di dalam pusaka aksara yakni aksara Jawa.

Dalam Sastra Gendhing karya Sultan Agung disebutkan secara ringkas bahwa “hawiya kongsi ngaku darah yen tan wignya marang  kawi reh kang kawrat ing sandining sastra. Kadidene sastra kalih dasa. Tuduh pangesti kareping puji , puji asale tumuwuh.‘-Jangan mengaku orang Jawa (yang arif bijaksana) kalau tidak mengenal ilmu luhur yang termuat di dalam bahasa sandi atau lambang yang termuat dalam aksara Jawa yang berjumlah dua puluh. Karena di situlah sumber hidup dan kehidupan untuk bertindak arif bijaksana bisa digali dan dikaji secara benar.

Nenek moyang Jawa sudah memberikan panduan untuk mengenali hidup dan kehidupan untuk tidak mudah kaget terhadap gejala alam yang aneh-aneh. Bencana itu sudah suatu hal yang lumrah yang amat lekat dengan sejarah nenek moyang. Oleh karena itulah berbekal kepandaian mengutak-utik huruf Jawa manusia Jawa semakin bijak dan paham terhadap gejala alam sebagai tanda kebesaran Sang Pencipta.

Simak juga:  Paguyuban Anggara Kasih, Mencintai Jawa, Menjaga Indonesia

Dalam Serat Darmogandhul diingatkan lagi bahwa manusia Jawa perlu sadar akan kedaulatan spiritualnya dan jangan sampai terjajah oleh budaya asing agar jatidiri bangsa bisa mengemuka dan orang Jawa kuat menghadapi perubahan zaman. Dan dengan huruf Jawa itulah bisa digali berbagai macam ilmu, dari ilmu sastra, ilmu jiwa, ilmu spiritual, ilmu alam, mantra, harapan, doa, dan ilmu kesehatan. Bahkan asal usul dan arah tujuan manusia hidup bisa dipelajari di dalam huruf Jawa yang jumlahnya 20 itu.

Banyak cara mempelajari huruf Jawa, antara lain dengan mengotak-atiknya menjadi sebuah kunci untuk menapaki kehidupan. Olehkarena itulah manusia Jawa perlu memahami rahasia di balik huruf Jawa supaya bisa memahami hidup dan kehidupan.

Sebagai contoh terungkap membalik huruf atau carakan, Jawa menjadi Nga, tha, ba, ga, ma, nya ya ja dha pa, la, wa, sa, ta, da, ka, ra, ca, na, ha..

Perlu dibedah satu persatu diungkap bahwa ‘ngathabagama’ disebutkan sebagai akhir tulisan Jawa. ‘Ngathabagama iku pungkasaning tulis. Patuladhan uripingmanungsa akhire sumendhe ing Gusti’. Bahwa itu adalah akhir dari nasib manusia bahwa ia harus selalu bersandar kepada kekuasaan Sang Pencipta. Apapun yang terjadi dengan kehidupan manusia ia harus bersandar dalam kekuasaan Allah. Entah itu tengah susah, entah gembira, entah suka entah duka semua dikembalikan kepada kekuasaan Hyang Maha Tinggi. Peringatan ini harus senantiasa diingat dan dilaksanakan dalam setiap tindakan dan berbagai peristiwa yang terjadi.

Kemudian huruf selanjurnya adalah ‘nyayajadhapa’iku pakartining jalma kang isine mung kalih, ala becik, bener-luput, susah-bungah, apik ala tan nate pisah. Samubarang wis ginaris ing pesthi. Manungsa mung sakdermo nglakoni’. Bahwa nyayajadhapa’ itu adalah sikap dan tindak manusia yang isinya cuma yakni jelek dan baik, benar dan salah, sedih dan suka, baik dan buruk yang tidak terpisahkan. Sesuatunya sudah digariskan dalam kepastian. Manusia hanya sekadar melakoninya. Kekhawatiran di sini tidak diperlukan lantaran semua sudah dipasrahkan kepada Yang Maha Pencipta. Kalau tidak aneh-aneh atau ‘ora neka-neka’ manusia bakal menjalaninya dengan mengalir ‘nut jaman kelakone’. semua bakal baik dan selamat.. Di sinilah manusia diingatkan untuk tidak terlalu sedih kalau sedang sengsara, dan jangan terlalu gembira apabila tengah mengalami kejayaan. Semua harus berjalan dalam rangkaian kehidupan yang mengalir indah, bagai rangkaian bunga yang indah. ‘tumetesing kacuwan dadiya rerentenging kanugrahan’-kekecewaan bisa menjadi rangkaian kebahagiaan. Ini suatu upaya untuk mengubah hidup yang sengsara dan menderita menjadi bahagia..

Simak juga:  Darmogandhul, Pesan Islam dalam Pemahaman Jawa

Dalam kaitan ini manusia diingatkan akan awal kehidupan yang berasal dari orangtua yang melahirkannya. . “lawasatada“-dadining wiji sinamadan dating Gusti. Bapa biyung mung kinarya lantaran. Untuk itulah manusia jangan sampai melupakan asal dan muasalnya. Meski sukses di dalam kehidupannya, tetapi tidak boleh melupakan orangtua yang telah melahirkannya ke dunia. Di sini juga mengandung arti bahwa orangtua juga tidak boleh terlalu menguasai anak lantaran anak hanyalah titipan Hyang Maha Kuasa. Menjaga anak, membesarkan dan menjadikannya sebagai manusia yang berbudaya dan bermartabat, itulah tugas orangtua.

Semua itu harus dilakukan dalam suasana yang mendukung turunnya rahmat Ilahi.Dan itu diformulasikan dalah ‘karacanaha’-tuhu heneng, hening, haneng sunyaruri. Antuk rachmating Gusti, tumuruning Nurjati. Winwengku ing mangsa kala. Kaberkahan manunggaling roch illahi, ambabar jabang bayi.

Semuanya dilakoni dalam suasana yang sabar sareh, narima dalam suasana spiritualitas yang sangat indah dalam jalur ikatan keilahian sehingga menurunkan rachmat Ilahi dan kapan saja mampu bersatu kembali dengan Hyang Maha Suci sambil memberikan sebuah benih kehidupan yang baik.

Semua itu ternyata membutuhkan apa yang disebut dengan kedaulatan spiritual. Artinya kemandirian dalam bertindak dan bersikap tanpa pengaruh dan tekanan dari pihak manapun. Percaya pada kemampuan diri memang dibutuhkan untuk mampu mengarungi kehidupan yang penuh dengan terpaan badai kehidupan yang kadangkala garang dan ganas. Namun semua ini bisa dilakoni dengan baik kalau manusia yakin akan kemampuan dan yakin akan pertolongan Hyang Mempunyai Hidup. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Mencoba Menjadi Jawa

MENGOBROL atau berbincang dengan seseorang seringkali bisa memunculkan ide-ide yang menarik. Ya, saya ngobrol dengan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x