Senin , 30 Maret 2020
Beranda » Pariwisata » Hari Bela Negara 2019 Jadi Momentum Peresmian Desa Wisata Sejarah Kelor
Suasana peresmian Desa Wisata Kelor. (Ft: Ist).

Hari Bela Negara 2019 Jadi Momentum Peresmian Desa Wisata Sejarah Kelor

Tanggal 19 Desember 1948 Belanda melancarkan Agresi Militer II di Yogyakarta. Bung Karno, Bung Hatta dan anggota kabinet ditawan. NKRI tetap tegak berdiri karena tentara dan rakyat bersatu. Mereka bahu-membahu mempertahankan kemerdekaan. Desa-desa menjadi basis pertahanan sampai Belanda hengkang dari Indonesia. Peristiwa ini penting dikenang dan dipelajari olah generasi penerus bahwa kemerdekaan yang kita nikmati adalah hasil jerih payah para pejuang bersama rakyat.

Pesan kejuangan ini disampaikan oleh Ketua LVRI Kecamatan Turi, Mujilan, saat memberi kata sambutan pada peresmian Desa Wisata Sejarah Kelor di Dusun Kelor Bangunkerto Turi Sleman DIY (Kamis 19/12/2019). Dusun Kelor pernah menjadi markas Tentara Pelajar saat Clash II antara 1948-1949. Peninggalan sejarah yang ada di Kelor antara lain pendopo tua, belik yang digunakan untuk minum Tentara Pelajar, rute gerilya, dan beberapa anggota anggota Tentara Pelajar yang telah meninggal. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan dipimpin Panglima Besar Jenderal Sudirman dengan gerilya. Oleh pemerintah, 19 Desember ditetapkan sebagai Hari Bela Negara.

Lawatan Sejarah

Sementara itu Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Usaha Pariwisata Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Nyoman Rai Savitri, S.Psi, M.Ec, Dev, mengatakan, Kelor telah memberi contoh bagaimana mengeskplorasi potensi menjadi karakter desa wisata sehingga unik dan langka. “Ini yang kami harapkan akan memberikan nilai lebih dan membedakan Kelor dari desa wisata yang lain. Dari situlah kita akan menemukan keunggulan dan prospek ke depan” pesannya. Rebranding Dusun Kelor yang diresmikan sebagai desa wisata sejarah akan memberikan keunggulan dan andalan bagi Sleman. Hal ini menurutnya harus memotivasi para pengelola desa wisata agar senantiasa berusaha menemukan warna, karakter, dan keunikan agar semakin memberikan daya tarik bagi wisatawan.

Heri Istyawan dari Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta dalam sambutannya menegaskan sejarah adalah modal berharga bagi generasi penerus. Jejak, situs dan peninggalan sejarah yang ada di sekitar kita bisa dijadikan media pembelajaran bagi siapa saja agar kesinambungan sejarah bisa terus ditumbuh kembangkan, baik untuk pendidikan maupun pariwisata. “BPNB mempunyai program Lawatan Sejarah yang bisa dijadikan agenda bagi Kelor yang kini memiliki Omah Sejarah. Dengan memberdayakan jejak sejarah seperti di Dusun Kelor ini, akan menambah khazanah pengetahuan bagi bangsa Indonesia sebagai modal utama pendidikan karakter” sambungnya.

Simak juga:  Desa Wisata Budaya Rajek Wetan Segera Ramaikan Pariwisata Sleman

Senada dengan itu, Ketua STIE Pariwisata API Yogyakarta, Susilo Budi Winarno SH MHum yang hadir dalam acara itu mengatakan, peresmian Desa Wisata Sejarah Kelor ini menyadarkan banyak pihak tentang pentingnya kolaborasi antar stakeholder pariwisata, sehingga potensi yang dimiliki desa bisa dieksplorasi secara lebih maksimal. “Kelor bisa menjadi rujukan pengembangan pariwisata, tandasnya, tidak saja bagi Sleman tetapi juga Yogyakarta bahkan Indonesia. Dengan manajamen pariwisata yang benar, Desa Wisata Sejarah Kelor bukan tidak mungkin akan menjadi pusat pembelajaran sejarah khususnya Tentara Pelajar. Apalagi tadi diresmikan juga berdirinya Omah Sejarah” katanya.

Acara peresmian dan rebranding desa wisata Kelor sebagai desa wisata sejarah diawali dengan Nitilaku Jejak Juang Tentara Pelajar dipimpin R. Bambang Nursinggih, S.Sn dari LKJ Sekar Pangawikan diikuti seluruh warga Dusun Kelor. Dilanjutkan pemberian Penghargaan dan tali asih dari Dinas Pariwisata Kab. Sleman kepada para veteran dari Turi, ditutup dengan pembacaan puisi oleh tiga siswa SD Kelor, teatrikaliasi “Kidung Juang” oleh Wahjudi Djaja (dosen STIE Pariwisata API Yogyakarta) dan pentas musik Vivakustik dari Yogyakarta. Para anggota veteran yang hadir terkesan dengan Nimas Santosa yang melagukan “Caping Gunung” dalam irama bosanofa.

Simak juga:  Desa Wisata Budaya Rajek Wetan Segera Ramaikan Pariwisata Sleman

Ketua Pokdarwis Kelor, Purnomo, sangat bangga dengan dikukuhkannya Kelor sebagai desa wisata sejarah. “Kami akan menyiapkan beragam paket kesejarahan berkolaborasi dengan berbagai pihak agar Kelor lebih dikenal dan bermanfaat bagi bangsa dan negara. Ini akan menjadikan Kelor tampil beda, unik dan prospektif”, katanya. (*)

Lihat Juga

Kelola Desa Wisata Jangan Hanya Bermodal Semangat

Dalam mengelola desa wisata tidak hanya bermodal semangat belaka. Desa wisata harus dikelola dengan baik, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *