Minggu , 21 Juli 2019
Beranda » Event » Gunung Api Dalam Puisi di Sastra Bulan Purnama
Dari kiri: Dheni Kurnia, Kidung Permana & Arther Panther Olii, Yudha (ft. Ist)

Gunung Api Dalam Puisi di Sastra Bulan Purnama

Penyair dari berbagai kota di Indonesia, bahkan termasuk penyair dari Malaysia, menulis puisi dengan mengambil tema ‘Gunug Api’, bukan hanya sekedar erupsi Merapi. Di Indonesia ada banyak gunung api yang masih aktif, dan para penyair merespon kehidupan aktifitas gunung api dalam puisi dan diterbitkan dalam bentuk buku, yang diberi judul ‘Cincin Api’

Mereka, para penyair dari berbagai kota tersebut, termasuk dari Malaysia sedang melakukan ziarah, sebut saja mereka sedang melakukan ziarah sastra, dan perjalanan ziarah itu berakhir di Sastra Bulan Purnama edisi 93, Sabtu, 26 Juni 2019 di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, jl. Parangtritis Km, 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Para penyair membacakan puisi karyanya yang terkumpul dalam antologi puisi ‘Cincin Api’, dan sekaligus diluncurkan di Sastra Bulan Purnama. Penyair dari Suamtara Barat, Syarifuddin Arifin membacakan puisi karyanya dengan ekspresif, terasa sekali bahwa dia sudah memiliki pengalaman panggung, dan tentu saja sudah sering membaca puisi di pangung-panggung sastra.

Dheni Kurnia, dari Riau membacakan puisi karyanya yang ada dalam buku puisi tunggal karyanya yang berjudul ‘Bunatin’. Buku ini mendapat penghargaan Hari Puisi Indonesia 2018. Menganakan t’shirt warna merah dan kepalanya ditutupi topi, Dheni membaca dengan sungguh-sungguh, kadang suaranya keras, seolah seperti sedang mengeksprsikan kalimat dalam puisinya.

“Buku puisi saya ini, saya cetak 1500 eks dan sudah habis, hanya tinggal 1 buku puisi yang saya bawa, dan ini satu-satunya buku puisi yang saya miliki, dan akan saya serahkan ke mas Ons Untoro. Karena buku saya ini sedang akan dicetak lagi” kata Dheni Kurnia.

Simak juga:  Tiga Guru Besar Tampil di Sastra Bulan Purnama

Seorang sastrawan dari Malaysia Yassinsaleh namanya, tampil mengalunkan lagu puisi karyanya, tetapi tidak diambil dari buku antologi puisi ‘Cincin Api’, karena dia tidak ikut menulis dalam antolog puisi.

“Karena saya mau jujur, sebab tidak memiliki pengalaman dalam erupsi merapi, maka saya memilih tidak ikut antologi puisi Cincin Api. Saya tidak mau menulis puisi sekaligus berbohong” kata Yassinsalleh.

Ada yang menarik,  penyair dari Menado, Arther Panther Olii membacakan puisi karyanya sambil diiringi tiupan harmonika oleh seorang penyair dari Ciamis, Kidung Permana namanya. Keduanya saling berinterkasi menghidupkan puisi.

Selain pembacaan puisi, dihadirkan juga pertunjukan pantomim, dari seorang pantomimer dari Sumatra Barat, Rhamanda Yudha Pratomo namanya, dan lebih akrab dipanggil Yuda. Pantomin yang dia mainkan menyajikan kisah mengenai kerusakan lingkungan. Yudah, melalui gerak-gerak yang dia tampilkan mencoba menyajikan detil apa yang dia maksud sebagai kerusakan lingkungan, dan melalui pertunjukannya dia merasa memiliki kepedulian terhadap kerusakan lingkuan itu.

Tidak ketinggalan, dua lagu puisi mengalun di Sastra Bulan Purnama, seperti kebiasaan SBP, kependekan dari Sastra Bulan Purnama, selalu ada pertunjukan musikkalisasi puisi atau lagu puisi. Kali ini, lagu puisi dialunkan oleh Daladi Ahmad, seorang penyair dari Magelang, yang sehari-harinya bekerja sebagai guru SMP. Dia, Daladi, sudah berulangkali tampil mengalunkan lagu puisi di Sastra Bulan Purnama.

Simak juga:  Cerpen Tiga Paragraf di Sastra Bulan Purnama

Penampil yang lain, pembaca puisi sambil diiringi musik tardisional, yang dimainkan oleh Otok Bima Sidharta mengiringi pembaca puisi Choen Supriyatmi, yang membacakan dua puisi, satu puisi karya Iman Budhi Santosa dan satu puisi karya Bambang Widiatmoko.

Perempuan penyair dari Jawa Barat, yang puisinya ada dalam buku ‘Cincin Api’ Ummi Risa namanya, ikut tampil membacakan puisi karyanya.  Dua puisi Ummi Risa yang ada dalam buku “Cincin Api’ berjudul ‘Percakapan Erupsi dan Merapi’ serta ‘Gending Layun Gunung Wutoh’.

Puisi ‘Cincin Api’ dimaksudkan untuk merespon gunug api yang ada di Indonesia, bukan hanya erupsi Merapi yang ada di Yogyakarta, tetapi gunung api yang bisa dijumpai di daerah-daerah lain di Indonesia.

“Meskipun banyak puisi yang merespon erupsi Merapi di Yogyakarta, tetapi sesungguhnya yang dimaksudkan setiap penyair bisa menggali segala segi gunung api yang ada di daerah masing-masing penyair” ujar Iman Budhi Santosa, seorang penyair dan sekaligus bertindak sebagai kurator dari buku ‘Cincin Api’. (*)

Lihat Juga

Pameran Andra Semesta, 12-24 Juli 2019 di Tembi Rumah Budaya

Ardiandra Achmadi Semesta, yang biasa dipanggil Andra Semesta, akan memamerkan lukisan-lukisannya pada 12-24 Juli 2019 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *