Beranda » Pendidikan » Gamelan, Kerja Besar Kebudayaan Libatkan Banyak Bidang Keahlian
Ilustrasi perangkat gamelan (ft. wikipedia)

Gamelan, Kerja Besar Kebudayaan Libatkan Banyak Bidang Keahlian

GAMELAN, gangsa, rapatan dari suku kata ga dan sa, tembaga dan rejasa, gabungan unsur logam ga (Cu – tembaga) dan logam sa (Sn, rejasa, timah putih) yang dilebur, ditambah unsur kecil logam seng (Zn) dan timah hitam (Pb) menjadi logam perunggu yang merupakan campuran logam 2CuCl+H2O+Cu2O+2Hcl. 


Ga
dan sa juga kependekan dari tiga (3) dan sedasa (10) karena perunggu yang berkualitas adalah campuran 3:10, yaitu 3 bagian timah putih dan 10 bagian tembaga. Ga-sa, lama-lama menjadi gangsa.[1]

Perunggu logam yang cukup kompleks dan memiliki bobot simbolik sekaligus campaian teknologis sejak ribuan tahun silam, serta logam yang memiliki watak tertentu sehingga menjadi “logam terbaik” untuk menjadi bahan baku wilahan gamelan, alat musik karawitan, suatu strata tinggi  kompleksitas karya budaya musik

Jadi gamelan disebut gangsa karena terbuat dari logam perunggu (yang terbaik), meskipun dapat pula dibuat dari kuningan atau besi. Soal gamelan itu perkara menempatkan bunyi bernada, bunyi musikal, ke dalam logam keras melalui proses keahlian metalurgi, keahlian pemadatan melalui kerja tempa, dan keahlian melaras bunyi, keahlian ripta komposisi irama bunyi, cikal bakal nada dalam orkestrasi musik yang terstruktur secara sistemik. Gamelan, buah keahlian dan keterampilan keteknikan lebur-tempa logam, kecerdasan sosio-kultural, dan kemahiran seni. Alhasil, gamelan adalah mahakarya budaya umat manusia.

Saking adiluhungnya, lalu dibuatlah kisah bahwa gamelan (untuk pertama kalinya) bukan dibuat oleh manusia, melainkan diturunkan dari langit, ciptaan para Dewa dalam wujud Gamelan Swargaloka, bernama Gamelan Lokananta. Bahkan, Gamelan Lokananta diturunkan ke muka bumi karena akan digunakan untuk mengiringi tarian bedhaya-srimpi ciptaan manusia sebagai tarian persembahan kepada Dewa, dan untuk mengiringi wayang sebagai ritus pemujaan. Jadi, gamelan sejak awal “kelahirannya” sudah fungsional. Setidaknya, sebagai bagian dari upaya melegitimasi kekuasaan raja. Sumarsam (2003:28) menyebut, tidak hanya status raja yang ingin dilegitimasi, tetapi seni pertunjukan kerajaan. … seni pertunjukan memungkinkan memelihara atau meningkatkan sejauh mana raja dijunjung tinggi oleh rakyatnya[2]. Hal demikian terjumpai pada karya-karya istana yang hampir semua dipersembahkan kepada penguasa, atau sekurangnya disebut karya “nunggak semi” (mereproduksi sebutan karya terdahulu), karya leluhur yang mereka agungkan sebagai bentuk penghormatan. Puncaknya, Gamelan ditempatkan sebagai “hadiah” dari Dewa dengan kemerduan alunan bunyi setara musik surga.

Simak juga:  Tumetesing Kacuwan, Dadiya Rerentenging Kanugrahan

Begitulah peradaban, selalu menciptakan proto tipe untuk karya-karya besar kebudayaannya, dan menautkan kaitannya dengan kekuatan yang lebih besar, makrokosmos, bukan hanya untuk melegitimasi dominasi budaya dan persepsi politik kekuasaan, tetapi sejatinya legitimasi ketinggian kecerdasan generasi itu sendiri.

 

Hebatnya, sebutan Gamelan tidak hanya mencakup pada wujud material instrumentasi seperangkat alat musik yang beragam dalam jumlah banyak dan mencakup. Menyebut gamelan selalu terikut produksi musikalitas bunyinya. Musikalitas yang menyusun satuan-satuan komposisi karawitan melalui gending-gending  beragam jenis, watak, dan peruntukannya, berikut teknik dan tata cara pakem paugeran memainkan untuk berbagai skala kepentingan. Gamelan juga menuntun pada pemaknaan berbagai macam simbol dan kaidah nilai yang terkait dengan etika dan keluhuran hidup. Gamelan bisa memerankan fungsi edukasi karakter dan perilaku.

 

Gamelan satuan karya budaya yang terpadu, lengkap, dan mencakup. Tidak seorangpun menolak asumsi bahwa dalam gamelan tercakup pula sistem simbol karawitan yang sarat nilai. Gamelan satuan-satuan instrumen musik yang membangun paduan suatu kerjasama. Dimainkan secara tunggal tidak semenarik apabila dimainkan secara bersama, sebagian atau lengkap, karena setiap bunyi yang timbul dari instrumen gamelan kait-mengait dalam aturan siklus dan periode orbit irama karawitan. Pengertian gamelan bersifat majemuk, tidak pernah bisa tunggal, dan bukan hanya perkara musik.***

Simak juga:  Astutijati

[1]Cara Membuat dan Merawat Gamelan”, Empu Triwiguno, 1983
[2] Sumarsam, selanjutnya juga menyebut, lebih agung kebesaran seseorang, nyata atau legenda,  kepada siapa kesenian itu didistribusikan, dan lebih jauh awal ia berasal, lebih agunglah prestasi seni tersebut. “Gamelan, Interaksi Budaya dan Perkembangan Musikal di Jawa”, 2003:28.

 

 

Lihat Juga

“Pemberontakan Wanita” dan “Psikologi Jawa”

DI Hari Buku, 23 April, saya tergoda untuk mengajak Anda berbincang tentang dua buku yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *