Kamis , 20 Juni 2019
Beranda » Pendidikan » Gamelan dan Instrumentasi Sosial-Budaya
Alunan musik gamelan yang ditampilkan kelompok Topong Bang, grup gamelan asuhan KBRI Budapest beranggotakan 12 orang warga Hongaria mengalun di ajang The 8th Babel Sound Interactive World Music Festivals di Hongaria. (ft. antaranews)

Gamelan dan Instrumentasi Sosial-Budaya

Gamelan adalah penanda penting kebudayaan. Bahkan menjadi bagian dari penetapan identitas kultural. Secara keseluruhan wujud dan fungsi gamelan (Jawa), dalam komposisi instrumen lengkap, mengandung lebih banyak unsur kesamaan. Baik dalam wujud fisiknya, wujud tengara auditifnya, sistem penyusunan pakem-paugeran memainkannya, etika perlakuannya, pencapaian estetika gendingnya, para empu-empu karawitan yang mashur, peruntukannya bagi ritual, upacara adat, iringan pertunjukan tradisi, maupun kemegahan bentuk dan kualitas materialnya. Namun, perbedaan yang ada, yang bersifat varian itu, sering dianggap sebagai pembeda dan dipegang sebagai penanda identitas kelompok, kerabat, dan hal-hal yang bersifat lokalitas lainnya. Tentu saja, “keragaman gamelan” secara intrinsik maupun ekstrinsik, sejatinya adalah pelajaran atau kehendak untuk hidup nyaman di tengah keragaman, bukan menggunakan keragaman untuk bersaing mendapatkan pengakuan keunggulan. Demikian pun yang tampaknya terjadi pada dunia gamelan.

Begitu disebut “Gamelan Yogyakarta”, maka akan langsung menempatkan kutub pembeda, Gamelan Surakarta. Padahal, inti dari penyebutan dan penyematan gamelan sebagai warisan karya budaya, sejatinya untuk semua gamelan. Pelajaran penting dari tradisi pelahiran perangkat lengkap gamelan adalah, pada lingkar budaya pertama, memperlihatkan bahwa di dalam satu satuan perangkat gamelan lengkap, slendro-pelog, terdapat keragaman bentuk, karakter, dan fungsi. Namun ketika seluruh dan atau sebagian perangkat itu digerakkan fungsinya dalam sistem karawitan yang baik, maka akan melahirkan orkestrasi musik yang hebat.  

Pada lingkar budaya kedua, ialah ketika perangkat lengkap tersebut disandingkan dengan perangkat lengkap lainnya, sudah pasti melahirkan “watak produksi bunyi” yang berbeda, meskipun masih dalam lingkup wilayah nada karawitan. Hal ini mengajarkan, bahwa sama-sama gamelan seberapapun perbedaannya, tetap dalam satu kesatuan penyangga identitas karawitan dan gamelannya.

Pada lingkar budaya ketiga, perangkat gamelan selengkap apapun, sehebat apapun kualitasnya, masih amat tergantung kepada para pengrawit dan komposisi gending yang ditabuhkannya. Artinya, gamelan apapun tidak akan “berbunyi” dengan baik jika tidak dibawakan oleh ahlinya. Lingkar-lingkar ini tidak memisah dan memilah gamelan dalam perbedaannya, namun justeru menyatukan persamaannya dalam kekuatan bersama membangun penguatan identitas “masyarakat bergamelan”.

Gamelan Yogyakarta adalah gamelan masyarakat Yogyakarta dan tidak terbatas gamelan Kraton Yogyakarta. Namun, harus diakui otoritas budaya dan sumber estetika Jawa, masih menoleh kepada kekuatan kultural kraton. Rupanya, pembagian kraton Jawa ke dalam dua kerajaan mayor, Surakarta-Yogyakarta (Perjanjian Giyanti, 1755) dan dua istana minor, Mangkunagaran (Perjanjian Salatiga, 1757) dan Pakualaman (1813), menjadi titik penentu pencarian identitas dan wacana pembeda, termasuk dalam berkesenian. Peristiwa “palihan negari” ini membuka ruang pencarian identitas khas tiap-tiap kraton, termasuk tentu saja terkait dengan budaya gamelan.

Setiap kraton merasa penting membedakan kebanyakan aspek-aspek kehidupannya dari kraton yang lain, mulai dari pakaian sampai gaya seni tontonan. Akibatnya, timbullah perbedaan gaya-gaya yang jelas dalam gamelan, tari, dan wayang antara Kraton Surakarta dan Yogyakarta. Karena kekurangan narasumber, perkembangan dua gaya ini sukar untuk dilacak.[1]

Tidak mudah menemukan perbedaan secara detail dan lengkap. Meski demikian, ada anggapan-anggapan sederhana yang sering menjadi sadaran berpikir. Meski, argumen  tersebut tidak cukup kuat untuk menemukan perbedaan antar kedua gaya. Jika demikian halnya, kesamaannya jauh lebih penting daripada perbedaannya. Sumarsam menulis,

 

“Membicarakan perbedaan gaya antara gemelan Yogyakarta dan Surakarta…. Kebanyakan perbedaan itu sangat pelik. Pada garis besarnya dapat dikatakan bahwa gamelan gaya Yogyakarta menonjolkan gaya tabuhan yang tegap dan gagah, dan Solo dikenal dengan gaya permainan yang lemah lembut dan rumit. (2003:67).

 

Jika Perjanjian Giyanti 1755 menjadi patokan penelusuran “gaya gamelan” tersebut maka perihal Gamelan Sekati menjadi titik penting. Tentu, banyak hal lain ditemukan sebagai ikibat sikap, pendirian, dan pilihan budaya yang diputuskan oleh pendiri Kraton Yogyakarta, Pangeran Mangkubumi (Sultan HB I, 1717-1792). Diyakini, Gamelan Sekati itu gamelan yang dibuat oleh para Walisanga untuk kepentingan syiar Islam melalui peristiwa perayaan Sekaten setiap bulan Maulid di lingkungan Masjid Gedhe Demak. Gamelan slendro pelog tersebut terwariskan ke Kraton Mataram, yang pada saat palihan negari akibat Perjanjian Giyanti, gamelan sekati Guntur Madu dan Guntur Sari itu dibagi antara Yogyakarta dan Surakarta. Pangeran Mangkubumi atau Sultan HB I mendapatkan gamelan Guntur Madu dan diboyong ke Kraton Yogyakarta. Gamelan Sekati Guntur Madu itu kemudian dibuatkan pasangannya untuk melengkapi, yang kemudian diberi nama Naga Wilaga. Gamelan Sekati memiliki ukuran wilah dan pencon yang lebih tebal dan lebih besar dari ukuran gamelan pada umumnya. Keduanya sampai sekarang memerankan fungsi Gamelan Sekati yang setiap bulan Mulud ditabuh di Bangsal Pagongan Masjid Gedhe sebagai penanda Perayaan Sekaten dan keluarnya sedekah dalem Gunungan/Pareden.[2]

Simak juga:  DALAM BINGKAI FILOSOFI JAWA: Pancasila Menjadi Pedoman Perilaku

Di samping mendapatkan “separo” Gamelan Sekati, Kasultanan Yogyakarta juga mendapatkan gamelan kuna dari masa sebelumnya. Yaitu gamelan monggang, Guntur Laut dan gamelan kodhok ngorek, Kebo Ganggang. Gamelan-gamelan ini terbilang gamelan pusaka yang keramat di lingkungan Kraton Yogyakarta. Guntur Laut dan Kebo Ganggang, konon, gamelan yang berasal dari masa kerajaan Majapahit dan dimainkan hanya pada waktu-waktu tertentu. Saat ini, Kraton Yogyakarta memiliki 18 perangkat gamelan. Sebanyak 16 perangkat masih dapat dimainkan, dan sebanyak 2 perangkat, yaitu gamelan Kyai Bremara dan Kyai Panji sudah tidak dimainkan karena dalam kondisi kurang baik.[3]

Pertanyaannya, apakah gamelan pusaka dan atau gamelan yang ada di istana menjadi sumber atau induk (babon) dari gamelan-gamelan sesudahnya di Yogyakarta? Jika benar sebagian awal koleksi gamelan Kraton Yogyakarta adalah warisan dari Surakarta, yaitu gamelan-gamelan yang sudah ada pada periode waktu sebelumnya, maka tidak langsung dan serta merta lahir gamelan “gaya Yogyakarta”. Tidak serta merta dalam pengadaan perangkat gamelannya, tetapi sangat mungkin dalam gaya tabuh dan ragam susunan karawitannya segera terwujud selaras dengan perjalanan estetik pada karya-karya tari bernafas keprajuritan pada masa Sultan HB I (1755-1792). HS Kusumo menyebut bahwa dalam upaya memperbanyak jumlah gamelan Yogyakarta, Sultan HB I diteruskan oleh Sultan HB II, VI dan VII rajin melakukan pengadaan. HS Wiwoho juga menyebut mereka yang berjasa masa-masa itu dalam menyempurnakan gamela ragam Yogyakarta, seperti GPH Suryoputro, KPH Cokrodiningrat (BKPAA Danurejo) dan RM Joyodipuro. Sultan HB VIII semasa masih dalam kedudukan Pangeran Adipati Anom juga membuat gamelan ragam baru.[4]  Jelas sekali arah perkembangan gamelan ragam Yogyakarta berangkat dari semangat Sultan HB I dalam membangun identitas kebudayaan DIY tanpa menidakkan terhadap karya budaya terdahulu. Pengembangan gamelan gagrak atau gaya Yogyakarta Mataraman bermula atas dasar kebutuhan transformasi budaya masyarakat “negara baru” Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan landasan filosofi pembangunan negara yang berbeda tetapi tidak tercerabut dari akar budaya Mataram, dan berusaha menempatkan posisi pertalian erat dengan masa silam, tradisi Mataram.

Kebutuhan gamelan gaya Yogyakarta bukan hanya tuntutan untuk melengkapi tanda kebesaran raja dengan pusaka-pusaka gamelan, gending-gending kebesaran, melainkan lebih untuk memenuhi kebutuhan ekspresi seni budaya, adat dan tradisi. Gamelan untuk memenuhi kebutuhan dengan lahirnya Tari Lawung Ageng, Beksan Trunajaya, beksan-beksan lainnya yang bernafaskan keperwiraaan dan keprajuritan. Termasuk lahirnya wayang wong gaya Yogyakarta yang memerlukan dukungan perangkat gamelan beserta komposisi karawitan yang berbeda dari masa sebelumnya.

Transformasi menuju masyarakat sipil dari suasana militeristik karena 9 tahun berperang melawan penjajah Belanda, merupakan tantangan spesifik masa itu. Sehingga kebutuhan gamelan gaya Yogyakarta tidak sebatas pemenuhan ekspresi seni yang gagah dan bersemangat, melainkan juga gamelan untuk pemeliharaan semangat perjuangan dan keprajuritan masyarakat sipil di Yogyakarta. Karena itu, gamelan Yogyakarta tak terlepas dari teks dan konteks politik budaya zamannya.

Tentu saja prinsip karawitan Jawa, gamelan karawitan gaya Yogyakarta tetap menggunakan konsepsi dasar yang ada. Para ahli waris tradisi gamelan Yogyakarta terus mengembangkannya, sehingga karawitan gaya Yogyakarta dimainkan pula dengan gamelan “laras ngayogyan”, terus berkembang baik. Tidak hanya di lingkungan istana melainkan juga berkembang keluar tembok kraton. Gending-gending gaya Yogyakarta semakin banyak ditulis dan dimainkan menggunakan gamelan gaya Yogyakarta. Gamelan sebagai instrumen menyatu dengan gamelan sebagai sistem karawitan. Teks dan konteks budayanya makin menguat karena bersamaan dengan itu gamelan dan gending gaya Yogyakarta Mataraman banyak digunakan bersama karya budaya seni lainnya seperti tarian, beksan, langendriya, langen mandra wanara, wayang wong, wayang kulit, dan seni kerakyatan lainnya, atau bahkan untuk sekadar diperdengarkan melalui uyon-uyon.

Simak juga:  Kyai Sadrach, Padukan Budaya Jawa ke Nilai-nilai Kristiani

Pada masa selanjutnya, gamelan Yogyakarta beserta para pelaku pendukungnya berinteraksi dan berkomunikasi dengan lapisan-lapisan budaya universal. Akibat persinggungan lintas dan antar budaya musik-musik dunia, maka dalam khazanah gamelan gaya Yogyakarta juga mengikuti perkembangan sistem notasi sebagaimana dalam musik Barat. KRT Wiraguna (1876-1937), cucu Sultan HB VI atau keponakan Sultan HB VII dikenal luas sebagai empu karawitan gaya Yogyakarta Mataraman sampai dengan tahapan menulis naskah dan notasi gending. Karya gendingnya sampai sekarang juga masih banyak digunakan baik dalam iringan tari maupun tanda budaya dalam upacara adat di lingkungan Kraton Yogyakarta. 

KRT Wiraguna menulis buku “Teori Karawitan Gaya Yogyakarta Mataraman” dan “Notasi Pekem Wirama Wileting Gendhing Berdangga” yang selesai ditulis tahun 1932. Saat itu telah diselesaikan lebih dari 1200 judul gending dengan Notasi Andha, atau sejumlah 6 volume slendro dan pelog. Dari jumlah itu, sekitar 200 judul adalah gending karya KRT Wiraguna sendiri.[5] Notasi Andha yang digunakan sebagai sarana ekspresi KRT Wiraguna dalam menulis naskah gending sangat dikenal luas di kalangan etnomusikolog dan pengkaji budaya di dunia. Pakar asing sepeti Margaret Kartomi, Jennifer Lindsay, Anthony Seeger, Mary Zurbuchen, Els Bogaerts, dan Clara Brakel mengenal karya-karta KRT Wiraguna. Notasi Andha model KRT Wiraguna juga dikenal dan dikoleksi oleh Tropenmuseum di Amsterdam, Rijksuniversitet te Leiden, dan UCLA Archieves of Departement of Ethnomusicology.[6]

Pencapaian Gamelan Yogyakarta tidak sebatas penyediaan gamelan sebagai material instrumen musik, melainkan mencapai dataran konsepi budaya identitas dan pembangunan karakter, beserta teks dan konteks sejarah politik budaya yang menyertainya, sampai dengan susunan sistem karawitan dan penciptaan teori gending serta penulisan naskah notasinya. Lebih dari itu, gamelan juga instrumen sosial pembangunan peradaban masyarakat berbudaya. Gamelan Yogyakarta bukan hanya media ekspresi seni malainkan juga penanda peran-peran perubahan sosial dalam masyarakat DIY. Bahkan juga menjadi diplomasi budaya strategis sebagaimana diperlihatkan oleh Ki Tjokrowasita (KPH Natadipura) dalam menduniakan gamelan melalu perannya sebagai guru besar karawitan di USA. Atau gaung gamelan yang dihelat melalui International Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) setiap tahunnya. Atau gamelan dalam dunia pendidikan, sejak sebelum kemerdekaan Ki Hadjar Dewantara juga memanfaatkan gending gamelan untuk mengenalkan arti penting memahami wirama kepada anak-anak secara natural, melalui bermain dan berseni di sekolah, keluarga, dan masyarakat.  Ki Hadjar juga berusaha agar notasi geding karawitan gamelan (pentatonis) dapat dimainkan menggunakan  piano (diatonik) dengan metode sariswara. Silih ganti terus menerus dunia gamelan Yogya ditekuni oleh para pengkaji budaya kelas dunia, sementara itu generasi muda di Yogya terus melakukan eksperimentasi gamelan. Gamelan Yogyakarta piranti besar membangun katakter dan jatidiri masyarakat, tidak berhenti sebatas klangenan. ***

 

Purwadmadi, mantan wartawan.
Kini pemerhati dan penulis seni-budaya.
Anggota Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda,
Dinas Kebudayaan DIY.
Artikel gamelan ini juga telah menjadi salah satu tulisan
dalam buku “Goresan Peradaban #1” tahun 2018.
Buku terbarunya,
Yogya, Ekspresi Ragam Budaya” (2019) kumpulan esai

[1] Sumarsam, ibid, 66-67. Selanjutnya Sumarsam mengutip, Sutton, 1984:225, menyebutkan bahwa pada umumnya musisi percaya gamelan Yogyakarta mewakili suatu kesinambungan gaya sebelum pembagian Mataram, sedangkan gamelan gaya Solo dikembangkan menuju gaya baru sesudah pembagian kerajaan. Kutip Sumarsam, bahwa Sutton juga memaparkan bahwa Mangkubumi, sultan pertama Yogyakarta, mengembangkan sesuatu yang akan menampilkan dua hal: kesinambunagan dengan masa lalu dan identitas yang berbeda dari gaya Surakarta.
[2] Baca: Buku Profil Yogyakarta City of Philosophy, Dinas Kebudayaan DIY, 2017
[3] ibid, 2017
[4] HS Wiwoho dalam artikelnya pada buku “200 Tahun Kota Jogjakarta”, 1955.
[5] RM Pramutomo dalam buku “KRT Wiroguno, Riwayat, Hasil Karya, dan Pengabdiannya”, 2008:18
[6] Ibid, 2008:23

Lihat Juga

“Pemberontakan Wanita” dan “Psikologi Jawa”

DI Hari Buku, 23 April, saya tergoda untuk mengajak Anda berbincang tentang dua buku yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *