Sabtu , 14 Desember 2019
Beranda » Event » Fragmen Pohon-Pohon di Bulan Purnama
Eko Winardi (ft. Ist)

Fragmen Pohon-Pohon di Bulan Purnama

Pertunjukan puisi di Sastra Bulan Purnama edisi 96, yang diselenggarakan Jumat, 13 September 2019 di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, tidak hanya berupa pembacaan puisi, teapi juga diolah dalam satu fragmen yang dilakukan Viki dan Intan, keduanya mahassiswa jurusan Teater ISI Yogyakarta. Fragmen yang pentaskan mengambil puisi dalam buku yang berjudul ‘Investigasi Pohon-Pohon’.

Sastra Bulan Purnama yang diisi peluncuran antologi puisi berjudul ‘Investigasi Pohon-Pohon’ karya Chairul Anwar, seorang pengajar di Jurusan Teater ISI Yogya, selain dibacakan sendiri oleh penyair, sebagian besar dibacakan oleh mahasiswanya, atau alumni jurusan teater ISI, dan seorang dosen di jurusan yang sama.

Karena dari jurusan teater, yang tentu saja sudah diberi pelajaran akting, sehingga para mahasiswa ini betul-betul menghadirkan puisi Chairul Anwar sebagai satu pertunjukan. Fragmen hanyalah salah satu dari beberapa pertunjukkan lainnya, Memang ada yang hanya membaca laiknya orang membaca puisi, setidaknya seperti yang dilakukan Chairul Anwar, mengawali dengan membacakan dua puisi karyanya.

Pembaca lain, seperti Agus Leylor, seorang pengajar di Jurusan Teater ISI Yogya, memang tampil membaca puisi dan diiringi musik. Bukan jenis musik ‘live’ tapi merupakan lagu dari Mp3, atau lagu dari siaran radio, sehingga seolah Leylor hendak menunjukan, bahwa membaca puisi bisa disambi sambil mendengarkan lagu.

Simak juga:  Noorca, Yudhis dan Rayni Dalam Novel yang Berbeda

Evi Putrantri dan Iis Wulandari, keduanya juga dari ISI Yogya jurusan teater, tampil membacakan puisi karya  Chairul. Keduanya sungguh membaca laiknya pembaca puisi membacakan puisi. Keduanaya tampi pada urutan yang berbeda, dan tampaknya malah saling melengkapi.

Fragmen yang lain dibawakan oleh Muklis Muarif, dari jurusan teater ISI Yogya. Ia, Mukhlis mencoba menafirskan puisi Chairul Anwar melalui kultur lokal di mana Mukklis berasal, yakni Riau. Dari bahasa yang digunakan, ketika dia membacakan puisi Chairul Anwar, orang kiranya sudah menduga, bahwa Mukhlis bukan berasal dari Yogya.

“Melalui bahasa yang saya gunakan ini, saya kira orang bisa tahu dari mana asal saya” kata Mukhlis mengawali sebelum membacakan puisi Chairul Anwar

Eko Winardi,. Alumni jurusan teater ISI Yogya, salah seorang murid Chairul Anwar dari angkatan awal jurusan teater ISI, membacakan puisi Chairul dengan gaya yang berbeda, yakni dia menghafalkan teks puisi yang akan dibacakan, sehingga seolah dia, Eko Winardi seperti sedang melakukan deklamasi. Karena dalam deklamasi, teks puisi dihafalkan, bukan dibacakan.

“Saya senang bisa membacakan puisi karya guru saya semasa saya masih giat belajar atau kuliah” kata Eko Winardi.

Simak juga:  Rektor UGM Tampil di Sastra Bulan Purnama

Dalam pertunjukan puisi ini, ada diselipkan satu pertunjukan yang dikenal sebagai stand up comedy. Penampilnya adalah Chairul Awar, yang agaknya, ingin menyajikan satu jenis sajian yang lain dalam pembacaan puisi. Barangkali ingin suasana segar dalam membaca puisi. Kalau terbiasa melihat stand up comedy yang sering disiarkan di televisi, yang mengundang tawa, setidaknya seperti apa yang ditampilkan Radiya Dika atau Panji. Stand up comedy ini lain, tidak segera mengundang gelak tawa, namun menghadirkan senyuman.

Fragmen yang lain dipentaskan oleh Viki, Intan, Sulaiman dan Miftahul Jannah. Model frgamen yang disajikan, sebenarnya tidak berbeda dengan apa yang kita kenal sebagai dramatic reading, atau istilah lain, yakni pentas baca. Pembacaan puisi yang disajikan dalam bentuk fragemn, setidaknya memberikan pembeda, bahwa puisi tidak harus selalu dibacakan secara sendirian, tetapi bisa ditampilkan secara kolektif, dalam arti dibacakan oleh lebih dari 2 orang.

Karena Chairul Anwar, sehari-harinya sebagai pengajar di jurusan teater ISI Yogya, tampaknya ingin menyajikan tampilan yang lain dari pertunjukan puisi yang membawakan puisi-puisi karyanya yang terkumpul dalam buku puisi ‘Investigasi Pohon-Pohon’. (*)

Lihat Juga

Membaca Geguritan di Sastra Bulan Purnama

Bulan purnama tidak sembunyi di balik mendung, sehingga Sastra Bulan Purnama yang diselenggarakan tiap bulan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x