Selasa , 28 September 2021
Beranda » Humaniora » Foto Human Interest Mampu Menggugah Emosi
SAHABAT ANAK. Rullyanto, seorang anggota TNI dari Koramil Danurejan, Yogyakarta, yang menjadi Babinsa untuk wilayah Kelurahan Tegalpanggung, sedang berbincang-bincang akrab dengan anak-anak sambil duduk di kawasan pinggir Kali Code. Dia telah memposisikan dirinya sebagai sahabat bagi anak-anak. (ft. Ist)

Foto Human Interest Mampu Menggugah Emosi

KITA berbincang lagi mengenai fotografi, khususnya fotografi jurnalistik. Dan, perbincangan kali ini tentang foto human interest.

Foto human interest merupakan foto yang menyajikan hal-hal berkaitan dengan daya tarik manusiawi, atau foto yang berbicara tentang masalah-masalah kemanusiaan dan kemasyarakatan. Foto human interest merupakan salah satu jenis foto jurnalistik yang mampu menggugah emosi kemanusiaan kita yang melihatnya.

Perlu dipahami, foto human interest memiliki daya tarik yang berbeda dengan jenis-jenis foto jurnalistik lainnya. Setidaknya ada tiga daya tarik yang dimiliki foto human interest. Pertama, mampu bercerita mengenai keadaan manusia dengan segala pesonanya. Kedua, mampu bercerita atau berkisah banyak dibanding berlembar-lembar halaman tulisan. Dan yang ketiga, mampu menggugah emosi atau memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perasaan serta pikiran, disamping mampu mengembangkan imajinasi.

 

Di Mana Mencarinya?

Bagaimana dan di mana mencari foto human interest? Pertama-tama yang harus dipahami, foto human interest itu bisa diperoleh dengan terlebih dulu direncanakan (dicari atau ditarget), tapi juga diperoleh secara tiba-tiba (insidentil).

Jangan khawatir, tak bisa memperoleh objek foto human interest tersebut? Karena foto human interest bisa diperoleh atau didapatkan di mana pun. Bisa di sekitar lingkungan tempat tinggal kita. Bisa di belakang rumah. Bisa di tetangga sebelah. Bisa di dalam keramaian pasar, keramaian mall, di keriuhan jalan raya, di trotoar-troatoar jalan, di tempat pameran. Pendek kata, di mana pun objek foto human interest bisa didapatkan.

Simak juga:  Wartawan, Profesi yang .....

Bila ingin mendapatkan foto yang baik, khususnya foto human interest, maka seorang wartawan atau fotografer tidak harus tinggal diam di kantor maupun di mana, menunggu perintah. Tapi ia harus rajin ‘berkeliling’ atau ‘memburu’ objek foto di mana pun. Karena dengan ‘berkeliling’ atau’memburu’ itu seringkali diperoleh foto-foto human interest yang berkualitas.

Misalnya, seorang wartawan (jurnalis) foto atau fotografer merencanakan untuk mencari objek foto di suatu desa yang jauh dari kota. Di dalam benak si wartawan sudah ada rencana-rencana target foto yang akan diambilnya atau difoto ketika berada di desa tersebut. Sebut misalnya, suasana kehidupan masyarakat desa yang damai, rumah-rumah penduduknya, kesibukan para petani di ladang atau di sawah, kesibukan anak-anak desa bermain, pemandangan-pemandangan yang indah di desa, dan lainnya lagi.

Di perjalanan, tiba-tiba sang wartawan atau fotografer melihat pemandangan yang menarik di suatu sungai. Di sungai yang penuh bebatuan gunung itu terlihat beberapaibu dan perempuan-perempuan muda sedang mencuci, ada pula yang sedang memandikan anak-anak balitanya. Ada juga yang sedang mandi. Beberapa anak yang sudah usia sekolah dasar terlihat pula sedang sibuk mandi dan bermain air. Mereka semua tampak ceria dan gembira.

Simak juga:  Derap Kebangsaan XXVI: Pasrawungan

 

Jangan Lupakan Etika

Di mata si wartawan atau fotografer, pemandangan yang dilihatnya di sungai itu merupakan objek pemotretan yang menarik. Terutama tentu untuk foto human interest. Objek foto yang tidak direncanakan. Ojek pemotretan yang diperoleh secara tiba-tiba. Dan, objek pemotretan yang diperoleh tiba-tiba itu bisa menjadi foto-foto human interest yang menarik dan berkualitas.

Akan tetapi ada hal yang perlu diingat, yakni tentang etika dalam memotret. Karena objeknya berkaitan dengan sosok-sosok kaum perempuan yang sedang berada di sungai, baik mencuci atau mandi, tentu ada nilai-nilai etika dan moral yang harus dijaga.

Jangan sampai hasil pemotretan itu justru mengumbar tubuh perempuan. Karenanya tak ada salahnya saat ingin memotret objek seperti itu, terlebih dulu memberi tahu, meminta izin atau kesediaan mereka difoto.

Ingat, jangan asal main jepret atau klik kamera saja!

Sutirman Eka Ardhana

Tulisan ini telah dimuat di cahayakatablog.wordpress.com (24/10/2019)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *