Sabtu , 20 April 2019
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XXII: Dialog

Diskusi Kebangsaan XXII: Dialog

Ratmiasih: Perlu Kiat Khusus

Nama saya Ratmiasih, alamat saya Piyungan, saya dari Partai Nasdem, caleg DPRD Provinsi Dapil IV Bantul Timur, Bapak Ibu. Di sini saya ingin bertanya kepada Ibu Win, saya ingin bertanya Ibu, saya ini di politik kan masih baru ya. Saya ingin tanya kiat-kiat Ibu Win sehingga mencapai ibu yang sukses, sebagai seorang Ibu Bupati, saya juga sedikit Ibu, saya ingin Ibu memberikan kiat-kiat kepada saya.

 

Timbul Mulyono: Guru tidak bisa digantikan Mesin

Nama saya Timbul Mulyono dari Dewan Pendidikan DIY. Yang pertama, saya tadi dari rumah sudah bawa KR, ada dua berita utama yang mari kita sengkuyung. Pertama, anggota Dewan Pendidikan DIY, Ratu Hemas melawan, mohon doa restu kepada Ibu-Ibu, itu yang pertama. Kita berusaha mendukungnya. Yang kedua, halaman 9, salut di DIY sudah dilantik Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia DIY, termasuk Bu Idham, Bu Windu, Bu Yani kita ucapkan selamat.

Kemudian pertanyaannya, meru-pakan tantangan, pada Hari Guru kemarin, Joko Widodo sebagai Presiden, itu memberitahukan fungsi guru tidak bisa digantikan oleh mesin, maka tugas guru berat sekali, sekali lagi, pata guru ditantang oleh Presiden Joko Widodo bahwa fungsinya tidak bisa digantikan oleh mesin. Karena dia punya tugas yaitu harus menyelenggarakan pendidikan karakter dan penumbuhan budi pekerti sejak anak-anak usia dini. Nah tadi Pak Idham Samawi sudah menunjukkan, di Lampung Ibu ini merintis juga guru-guru sudah disuruh belajar. Pak Idham sudah lama ya dulu ya ketika menjadi Bupati, S-2 banyak sekali, sekarang sudah pensiun, karena seangkatan saya. Kami dari dewan pendidikan bertanya, usaha apa kira-kira dari ibu-ibu yang bisa membantu guru melaksanakan pendidikan karakter, di mana di Indonesia sebenarnya sudah dirintis sejak tahun 2010. Dan penumbuhan budi pekerti agar anak bangsa itu betul-betul menjadi penerus generasi kita yang sudah tua-tua ini. Tiga itu saja, terimakasih.

 

Ibu Rita: Tantangannya Tidak Mudah

Saya Ibu Rita dari Aisyiyah. Perlu saya tanyakan dan menarik sekali yang disampaikan oleh Ibu, dua-duanya, ibu yang cantik dan cerdas. Berbahagialah kita menjadi ibu. Hari ini kita bersama dengan kedua ibu yang cantik didampingi juga Bapak yang gantheng. Yang perlu saya tanyakan di sini kepada Ibu Win adalah apa yang menjadi tantangan Bu Win untuk membangun Lampung yang tentunya tantangannya tidak mudah ya Bu, mulai dari persaingan dengan bapak-bapak dan juga pembangunan Kota Lampung sendiri tidak gampang. Jadi semua bidang dan Ibu Win sendiri sebagai ibu rumah tangga, begitu, tentunya juga tidak bisa dilupakan.

Jadi tantangan itu apa sih yang membuat Bu Win semangat untuk membangun bangsa Indonesia ini. Dan kepada Ibu Alim, pakarnya di politik, saya juga ingin ke sini tapi aduh, saya ingin sekali mendengarkan ceramah-ceramah beliau, cuman baru hari ini bisa berkesempatan mengikuti beliau. Yang perlu saya tanyakan di sini, untuk perempuan itu diberi batasan 30%. Nah karena menurut, kita membaca dari media gitu ya, waduh di daerah ini tidak mencapai 30%, belum mencapai 30%, 20% atau berapa gitu, tetapi yang menjadi tantangan kita itu, bagaimana perempuan ini sama dengan laki-laki. Laki-laki tidak dibatasi 30%.

Simak juga:  Pemimpin-26

Menurut prediksi Ibu Alim apakah bisa kita mencapai level segitu. Karena tadi Bu Alim juga mengatakan bahwa peran perempuan itu banyak sekali ya dibandingkan laki-laki seperti tadi dicontohkan waktu akan menikahkan anak, jadi ibu menyiapkan segala macamnya, tetapi bapak ketika mau menikahkan hanya mengiyakan, begitu kan? Saya menyetujui itu. Tantangan ke depan seperti apa, apakah mungkin nanti perempuan itu bisa sama levelnya dengan laki-laki.

 

Sri Harwati: Gotong-royong merupakan Karakter Bangsa

Nama saya Ibu Sri Harwati, atau lebih dikenal dengan nama Ibu Lalu Hidayat, almarhum adalah wartawan KR, yang 12 tahun yang lalu sudah meninggal. Dan saya bergabung dengan Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia di bawah pimpinan Ibu Idham Samawi. Di sini mungkin saya tidak akan menyampaikan masalah politik, tetapi saya akan melanjutkan apa yang tadi disampaikan oleh Ibu Win mengenai salah satu solusi dari kepemimpinan yang dilakukan oleh Ibu Win di Tulang Bawang, itu dengan gotong-royong. Yang mana gotong-royong ini juga merupakan salah satu karakter bangsa Indonesia yang harus kita tanamkan di dalam pendidikan, karena gotong royong adalah merupakan ciri khas bangsa Indonesia sejak sebelum merdeka bahkan ketika mencapai kemerdekaan, bangsa Indonesia juga dengan bergotong-royong, dapat meraih kemerdekaan.

Yang ingin saya tanyakan kepada Bu Win atau kepada Bapak Idham Samawi juga Ibu Alimatul, beberapa kali saya menjumpai kalimat sifat kegotongroyongan masyarakat Indo-nesia itu semakin memudar. Bahkan ini saya temukan juga di dalam buku pelajaran PPKn yang saya ajari Bapak, memang dulu seperti apa yang disampaikan oleh Bapak kita, Bapak Idham, pelajaran Pancasila itu sejak reformasi itu tidak diajarkan kembali. Tetapi alhamdulillah dua tahun akhir ini berubah lagi menjadi yang tadinya PKn, PKn itu Pendidikan Kewarganegaraan kemudian diubah lagi dua tahun ini menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

Nah kalimat yang saya temukan itu sangat merasa mengganjal di hati saya sebagai, maaf sebagai guru PPKn yang mengatakan sifat kegotongroyongan bangsa Indonesia ini semakin memudar. Apakah betul Bapak Ibu? Bagaimana caranya supaya sifat itu jangan memudar. Karena salah satu tadi solusi adalah dengan gotong-royong, kita akan dapat meraih kesuksesan atau apa yang kita inginkan.

 

Titik: Caleg Perlu Belajar Terus

Selamat siang Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu, mohon maaf mungkin pertanyaan saya sederhana, Bapak Idham tadi, nandalem tadi, kuota perempuan 30% gih Bapak. Di tempat kami kuota Yogyakarta sudah banyak yang 50%. Rumah saya di sekitar jembatan layang itu, kuota terkuat 50%. Itu yang membanggakan. Tapi pertanyaannya, apakah mereka para caleg itu sudah benar-benar siap dengan isu-isu yang ada sekarang. Pertanyaan yang berkaitan dengan Bapak, yang berkaitan dengan Bapak bahwa tugas guru tidak bisa tergantikan oleh mesin. Di sini saya ingin matur bahwa tugas Ibu juga tidak bisa digantikan oleh asisten dan gadget.

Simak juga:  Pemimpin-7

Karena sekarang banyak sekali anak-anak kecil diberi gadget sementara ibunya rapat, sementara itu di koran-koran ditulis penggunaan narkoba banyak dilakukan oleh usia produktif. Kemudian penderita HIV meningkat tajam, ternyata penderitanya terbanyak usia produktif, yang kedua ibu rumah tangga. Kemudian adanya klithih, itu tanggung jawab siapa, walaupun ada persamaan, persetaraan tanggung jawab antara ayah dan ibu. Tapi kita tetap saja bahwa perempuan lebih harus memelihara anak.

Kemudian yang sedikit lagi, untuk caleg yang perempuan tadi, di samping sudah siap isu-isu tersebut, bagaimana dengan kapasitas diri mereka, apakah mereka mau belajar dan selalu belajar sepanjang hayat. Karena kadang-kadang ketika mereka kampanye, banyak sekali staf ahli di belakangnya, sehingga ketika dia duduk dia klabakan ketika tidak ada staf. Tambah sedikit lagi Bapak dan Ibu, untuk isu kesehatan, kasihan sekali di koran-koran di Jogja, UKDW meluluskan sekian doktor, UMY, UII, apalagi UGM. Tapi faktanya yang ada di lapangan, orang-orang antri untuk mendapatkan pelayanan puskesmas pertama, kedua, dan seterusnya. Jadi ini mohon maaf pertanyaan sederhana mohon diterangkan, terimakasih. Nama saya Titik, anggota PWS.

 

Dina Febriani: Pendidikan Cara Utama Menuju Melek Politik

Perkenalkan nama saya Dina Febriani, saya dari UIN Sunan Kalijaga, mahasiswanya Ibu Alim. Yang mau saya tanyakan di sini, sebelumnya saya lahir di Jawa Timur dan orang tua saya asli dari Madura. Dan sekarang tinggal di Yogyakarta. Menurut penelitian, tetapi bukan penelitian, seperti ketika saya balik ke Madura, itu kan sebuah kota yang kecil dan tidak terlalu mendapatkan ekspos yang dalam perihal pendidikan dan lain sebagainya.

Soalnya di situ yang pertama saya lihat pernikahan dini itu cukup tinggi, juga pendidikan umum ya seperti inilah misalnya seminar-seminar seperti ini sangat jarang terjadi di sana. Dan kemudian dalam berpolitik, itu di sana rata-rata adalah laki-laki. Dan di sana seseorang yang ingin mencalonkan menjadi pemimpin itu saya kira itu hanya sebatas seseorang yang ingin berkuasa. Bukan untuk mewujudkan kebijakan-kebijakan yang memberdayakan sekitarnya. Kemudian yang saya tanyakan, ini mungkin lebih ke eksperimen atau pengalaman Ibu Win atau Ibu Alim, perihal bagaimana caranya kita sebagai mahasiswa untuk mematangkan pola pikir kita, bagaimana ke depannya gitu? Agar permasalahan yang ketiga itu dapat diminimalisir, itu saja,

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XXIII: Korupsi Satu Pilihan, atau Kutukan?

Tidak sedikit yang merasa pesimis bahkan secara ekstrim menyatakan tidak mungkin terwujud, bahwa tahun 2019 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *