Sabtu , 8 Agustus 2020
Beranda » Sastra » Di Sastra Bulan Purnama Puisi Merekatkan Persahabatan
Dyah Kencono Puspito Dewi. (Ft: Ist)

Di Sastra Bulan Purnama Puisi Merekatkan Persahabatan

Menutup akhir tahun 2019, Sastra Bulan Purnama yang memasuki edisi 99, meluncurkan satu buku puisi, yang diberi judul ‘Penyair dan Rembulan’ ditulis 60 penyair dari berbagai kota di Jawa. Memang, dalam peluncuran yang diselenggarakan Jumat, 13 Desember 2019 di Pendhapa Tembi Rumah Budaya, jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Rumah Budaya, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, tidak semua penyair datang.  Tajuk dari Sastra Bulan Purnama edisi 99 ‘Penyair Membaca Tanda di Bulan Purnama.

Ada sekitar 40 penyair dari berbagai kota, Jakarta,  Surabaya, Sragen, Bekasi, Solo, Semarang, Magelang, Temanggung, Purwokerto, Purworejo, Mojokerto, Sidoarjo, Karanganyar dan tidak ketinggalan, penyair dari Yogyakarta datang dalam peluncuran buku puisi ini. Beberapa penyair muda yang ikut hadir di antaranya Daffa Randai, Darus Armedian dan Dimas Indiana Senja. Penyair muda ini sudah beberapa kali tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama. Dari Yogya, selain Krisbudiman, yang sehari-harinya mengacar di Pasca Sarjana UGM, Ninuk Retno Raras, dan beberapa lainnya. Tetapi lebih banyak penyair dari luar kota yang hadir untuk membaca puisi.

Masing penyair saling bersapa, karena kebanyakan sudah saling mengenal, sehingga terasa sekali puisi memberikan kebahagiaan, Penyair tidak hanya saling bersapa di antara penyair lainnya, tetapi juga bersapa dengan sahabat lain para pecinta sastra. Di Sastra Bulan Purnama, puisi merekatkan persahabatan.

Dari para penyair yang datang, hanya satu dua orang yang tidak ikut tampil membacakan puisi karyanya, namun sebagian besar membaca puisi. Bahkan, dua pelantun lagu puisi Yuditeha dari Solo dan Joshua Igho dari Magelang, tidak ketinggalan ikut tampil di Sastra Bulan Purnama 99. Menik Sithik orang Surabaya yang tinggal di Yogya juga ikut tampil mengalunkan lagu puisi.

Simak juga:  La Nosta, Wadah Komunitas Tembang Kenangan di Yogyakarta

Sebut saja, sastra akhir tahun di bulan purnama 99 dipenuhi gairah oleh para penyair, dan hadirin yang datang. Mereka bersama menghabiskan akhir tahun, dipertengahan bulan Desember 2019 dengan penuh riang dan saling canda. Para penyair yang datang,  ada yang sudah lama tidak tampil di Tembi Rumah Budaaya, setidaknya seperti Wanto Tirto dari Purwokerto, Dyah Kencono Puspita Dewi dari Bekasi, lebih dari 2 tahun dia tidak tampil di Tembi Rumah Budaya.

Ada juga Bontot Sukandar dari Tegal, Pipie J.Egbert  dari Surabaya, beberapa tahun lalu pernah membaca puisi di Sastra Bulan Purnama, dan di akhir tahun kembali ke Tembi, yang kiranya bukan hanya untuk membaca puisi, tetapi juga bertemu dengan sahabat penyair lainnya dari kota-kota yang berbeda. Dan masing-masing sudah saling akrab, rasanya sastra menghangatkan pergaulan.

Dua pembaca tamu, seorang di antaranya bukan dari latar belakang sastra, melainkan seorang ekonom, yang sehari-harinya mengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM, tetapi memiliki kemampuan membaca yang menarik, Nurul Indarti namanya. Seorang lagi,. Seorang perempuan, yang dalam usianya sudah tua, masih terus berkarya menulis naskah lakon dalam bahasa Jawa, dan sering dipentaskan bersama komunitasnya, Cicit Kaswani namanya.

“Boleh aku baca puisi di Sastra Bulan Purnama” tulis dia melalui pesan di WA.

Dan mengakhiri tahun 2020, Cicit membaca puisi karya Yudhistuira Adi Nugroho, yang ada didalam buku ‘Penyair dan Rembulan’.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan VII: Darurat Ideologi, Pancasila Harus “Working Ideology”

Karena lebih dari 50 penyair tampil membaca puisi, tentu tidak satu-satu secara bergantian membaca puisi, tetapi langsung lima orang diminta tampil untuk secara bergantian membaca puisi.

Sulis Bambang, seorang perempuan penyair dari Semarang, membawakan puisi secara spontan, dan puisinya sangat pendek. Karena dia lupa membawa kacata mata, sehingga tidak bisa membaca puisi karyanya yang ada di dalam buku puisi ‘Penyair dan Rembulan”.

“Karena kaca mata saya tertinggal di rumah, dan tidak mungkin saya mengambilnya di Semarang, maka saya akan membaca puisi secara spontan, yang saya gagas sambil duduk melihat teman-teman lain membaca puisi” ujar Sulis Bambang.

“Dia atas panggung, di depan mikropun, Sulis Bambang membacakan puisi, karya spontannya yang sangat pendek:

“Mas Ons, memang ampuh tenan” begitu puisi dia sambil kembali duduk di kursi.

Hadirin yang mendengar bertepuk tangan sambil tertawa lepas. Begitulah, persahabatan dalam sastra terasa sangat kuat.

Buku puisi yang diberi judul ‘Penyair dan Rembulan’ menyajikan 120 puisi karya 60 penyair dari berbagai kota, dan masing-masing penyair mengirimkan 2 puisi. Judul buku diambil dari puisi karya Dedet Setiadi, seorang penyair dari Magelang, karena judul puisi tersebut, berikut isinya terasa pas mewakili menjadi judul. Dedet Setiadi hadir, tetapi tidak ikut membaca puisi, demikian juga Hamdy Salad, seorang penyair dari Yogya. Keduanya hadir sampai acara selesai, dan menikmati kawan2 penyair lainnya membacakan puisi dengan gaya yang berbeda-beda.

Di Sastra Bulan Purnama, puisi merekatkan pergaulan dan menumbuhkan kecintaanya terhadap sastra. (*)

Lihat Juga

Dari Balkon Apartemen Lantai 6 dalam Poetry Reading from Home

Fajar Santoadi, orang Yogya dan pernah mengajar di Universitas Sanata Dharma, kini tinggal di Malaysia. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *