Jumat , 22 November 2019
Beranda » Pendidikan » Cerita Dongeng Harus Sampaikan Nilai-nilai Positif kepada Anak-anak
Ilustrasi Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari (Ft: Wikipedia)

Cerita Dongeng Harus Sampaikan Nilai-nilai Positif kepada Anak-anak

GARA-GARA mengikuti Workshop Pemberdayaan Lanjut Usia Melalui Keahlian Mendongeng, Sabtu 2 November lalu, saya pun kembali teringat bahwa dulu saya suka menulis cerita-cerita dongeng atau cerita untuk anak-anak.

Ya, walaupun bukan penulis produktif, tapi setidaknya di tahun 70-an, 80-an dan 90-an, saya sering juga menulis cerita-cerita dongeng atau cerita untuk anak-anak tersebut. Terlebih di tahun 1994/1995, saya pernah terlibat menggarap majalah anak-anak “PuterKita” dan majalah “Dongeng Kak Seto” yang terbit di Jakarta. Sehingga di tahun-tahun itu, saya agak rajin menulis cerita-cerita dongeng atau cerita untuk anak-anak.

Jujur saya akui, workshop yang diselenggarakan Dinas Sosial Kota Yogyakarta itu telah membangkitkan dan merangsang kembali kesukaan terhadap dunia anak-anak. Workshop itu telah merangsang dan menggelorakan semangat serta keinginan saya kembali untuk mulai menulis cerita-cerita dongeng atau cerita untuk anak-anak.

Tak hanya itu, yang pasti workshop tersebut telah menumbuhkan kesukaan dan keinginan untuk menjadi pendongeng di depan anak-anak. Jadi, tak hanya menulis cerita dongengnya, tapi juga mendongengkannya.

Pesan Mendidik

Simak juga:  Menulis Bisa Sampaikan Pesan Tentang Menjaga "Ke-indonesiaan"

Menulis cerita dongeng atau cerita untuk anak-anak, sepertinya terkesan mudah. Karena ceritanya hanya untuk anak-anak. Padahal sesungguhnya menulis cerita dongeng atau cerita untuk anak-anak tidaklah semudah dan sesederhana yang dibayangkan.

Menulis cerita dongeng atau cerita untuk anak-anak tidak hanya asal menulis begitu saja. Penulis harus benar-benar memilih apakah yang ditulisnya itu benar-benar sesuai untuk anak-anak atau tidak.

Berangkat dari pengalaman saya menulis dulu, cerita dongeng atau cerita untuk anak-anak tersebut haruslah memiliki pesan-pesan yang mendidik. Dengan kata lain cerita dongeng atau cerita untuk anak-anak itu menyampaikan nilai-nilai yang positif bagi perkembangan kehidupan anak-anak. Nilai-nilai yang menumbuhkan atau mengembangkan jiwa anak-anak untuk senantiasa berbuat kebaikan dan menjauhi kejahatan.

Misal, pesan-pesan untuk selalu berbuat baik kepada siapa pun, menghormati atau menghargai orang lain terutama kepada yang lebih tua, menjauhkan diri dari berbuat kejahatan. Menghormati keberagaman dan perbedaan. Melalui dongeng atau cerita, anak-anak bisa mendapatkan nilai-nilai seperti berbuat kebajikan dengan menolong orang lain merupakan suatu perbuatan yang mulia.

Simak juga:  Menulis atau Mati

Anak-anak diberi pemahaman, bila kita menanam kebajikan, pasti kelak akan menuai buah kebajikan pula. Juga tak kalah pentingnya menyampaikan pesan kepada anak-anak untuk mau bekerja keras, dan tidak pernah berputus asa dalam menjalani kehidupan.

Ceritakanlah tentang apa pun, asalkan itu sesuai dengan jiwa serta kemampuan berpikir anak-anak. Selain memiliki pesan-pesan atau nilai-nilai yang positif, cerita juga harus mampu menghibur serta membuat anak-anak bahagia dan gembira.

Hindari cerita yang justru membuat anak-anak takut, tertekan, stres, bersedih, tidak gembira, dan semacamnya. Jadi, hindari cerita-cerita tentang hantu, jin dan mahluk halus lainnya, atau cerita-cerita horor yang menangkutkan.

Mari menulis cerita dongeng yang bernilai dan mendongengkannya kepada anak-anak. ***

 

Sutirman Eka Ardhana

Tulisan ini telah dimuat di ekaardhana.wordpress.com (6/11/2019)

Lihat Juga

Mendongeng Bisa Jalin Hubungan Batin dengan Anak

SAYA beruntung bisa mengikuti Workshop Pemberdayaan Lanjut Usia Melalui Keahlian Mendongeng yang diselenggarakan Dinas Sosial …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x