Minggu , 21 Juli 2019
Beranda » Humaniora » Derap Kebangsaan XXV: Bukan Arus Utama
(ft. archiveofourown.org)

Derap Kebangsaan XXV: Bukan Arus Utama

SELIRIA EPILOGUS

Kemolekan pemenang, merangsang perhatian. Pemenang, pemegang arus utama. Diberi kekuatan kuasa, dan didewakan. Energi sedotnya luar biasa. Demikian pun dalam area balap, menjadi pemenang adalah target, bahkan tujuan tunggal. Area balap adalah sirkuit kompetisi. Adu kuat, adu cepat, adu kuasa, dan ruang tarung untuk meraih yang terbaik sekaligus tercepat.

Intinya, dalam pacuan media, pemenang menjadi dominan dan menentukan. Jadi acuan, pedoman, bahkan mendikte perubahan. Yang demikian disebut arus utama. Demikianpun dalam arus kuasa media menjaja informasi, dikenal adanya media arus utama.

Sayangnya, media arus utama dimaksud tak sebatas daya aruh dan kewibawaan muatan-muatan informasi dan opini yang membawa arus perubahan peradaban, melain-kan juga terikut di dalamnya keraksasaan keperusahaannya. Aset, modal, sumber daya lain dan mega usahanya alias gurita kapitalis yang digerakkannya. Media yang menentukan arus arah kapitalisasi informasi.

Ternyata, tiang sangga bisnis informasi tidak hanya pada konten, melainkan juga pada instrumen yang tersusun dalam bentuk teknologi informasi dan komunikasi, yang mengubah wajah pengarusan informasi dalam area bisnisnya, dari area bisnis padat modal, padat tenaga, padat waktu, padat mobilitas personal, padat penguasaan region wilayah gerografis, menjadi area bisnis yang padat teknologi tetapi terbilang murah dan mudah dalam menjaja informasi, bahkan bisa lebih cepat seperti tak kenal hambatan waktu menjangkau segala area dan sudut dunia, yang selama ini terselip sekalipun. Jika media arus utama ketat dalam mensyaratkan kapasitas kompetensi SDM, saat ini seolah ditumbangkan oleh “kebebasan kompetensi”, untuk tidak mengatakan tak ada syarat kom-petensi, dalam bisnis informasi.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIV: Dialog

Dengan pemahaman seperti itu, maka sejatinya tidak ada media arus utama yang tumbang melainkan mereka ditantang untuk lolos alih sarana, instrumentasi “nampan jajaan” informasi. Jika media arus utama selama ini terkatagori ke dalam “media kon-vensional”, maka saat ini cuma ada pilihan, yaitu akan tetap bertahan konvensional atau alihkonvensi, bermetamorfosa bersama perubahan karakter instrumen “nampan jajaan” informasi yang sudah sangat berbeda. Media arus utama akan selalu ada dengan menurutkan teknologi media yang digunakannya. Karena, yang terang, informasi konten bisnis media tetap tidak berubah. Akurat dan dapat dipercaya, apapun medianya dan seberapapun besar perusahaan pengelolanya. Akurat dan dapat dipercaya. Kharisma dan wibawa isi media, pasti dibangun melalui upaya susah payah, bukan kerja iseng sejenak dan sambil lalu.

Semua media harus berupaya menjadi media arus utama, bukan dari keraksasaan perusahaannya. Kalau hanya dari “kebesaran perusahaan” pengelolanya, dari besarnya keuntungan usahanya, dan melupakan daya aruh pemberitaannya, maka bisa kehilangan makna kearusutamaannya. Media arus utama karena akurasi alir arus informasi terus menerus, cepat dan presisi, menarik hati dinikmati. Pembawa perubahan peradaban, pencerah warga mengarungi samudera kehidupan. ***

Simak juga:  SERI PANCASILA (9): Surat Pengusiran

 

PURWADMADI ADMADIPURWA

Lihat Juga

Derap Kebangsaan XXVI: Untuk Membangun Kerukunan, Harus Ada Ketulus-ikhlasan

DR. BADRUN ALAENA M.SI, KETUA PUSAT STUDI PANCASILA DAN BELA NEGARA UIN SUNAN KALIJAGA: SYUKUR …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *