Minggu , 21 Juli 2019
Beranda » Humaniora » Diskusi Kebangsaan XXIV: Bitingan Borongan Glundhungan
(ft. archiveofourown.org)

Diskusi Kebangsaan XXIV: Bitingan Borongan Glundhungan

SELIRIA EPILOGUS

KETIKA peradaban mencapai tataran adat bertukar, transaksi terjadi. Menolak transaksi, maka kepentingan, kebutuhan, dan kepuasan tertahan. Nilai bertukar untuk dan atas nama transaksi, jika melampui kalkulasi, untung. Jika kurang dari espektasi, rugi. Berbeda, dalam adat berbagi, kalkulasi tidak terlalu penting. Bukan dalam hitungan untung-rugi. Tidak ada transaksi dalam adat berbagi. Adanya untung bersama atau kalau pun rugi, rugi bersama. Pertarungan adat bertukar dan adat berbagi.

Bertukar hitung satu satu, bitingan. Seberapa dibayar, seberapa pula (akan) didapatkan. Bertukar terkoordinasi, borongan. Seberapa dibayar, terkurang untuk jasa penerima borongan, sebe-rapa pula jumlah yang dijanjikan akan didapatkan. Bertukar percaya penuh, glundhungan. Seberapa dibayarkan, sebegitu pula telah dikuasakan. Layak dibayar, percaya penuh. Padahal, dalam soal hasil, ketiganya belum tentu realitas, bisa jadi ilusi dan fatamorgana. Transaksi ilusional.

Maka, yang bergentayangan di transaksi bitingan, borongan, dan glundhungan adalah pialang-pialang transaksi yang cakap dalam rayuan, cerdas dalam bujukan, piawai dalam pengaturan, dan canggih menjalankan taktik transaksional. Memainkan halusinasi kemenangan.

Simak juga:  Cinta

Mitra transaksi idealnya adalah juragan-juragan yang punya “ideologi bertukar”. Di hadapan juragan yang punya “ideologi berbagi”, mereka bisa mati kutu. Mereka yang lebih suka berbagi tentu sulit menjalankan praktik transaksi bitingan, borongan, dan atau glundhungan. Dalam berbagi tak ada imbal beli. Dalam berbagi, adanya imbal hati. Adat bertukar, serba itung-itungan. Adat berbagi, sama rasa untuk mencapai keadilan yang merata. Lalu, adakah yang diutungkan?

Demikian pun, dalam praktik hidup di era peradaban konvensional, adat modern, dan adat kontemporer. Amat mudah dikenali beda antara adat bertukar dan adat berbagi. Bedanya, apakah keduanya dikapitalisasi untuk beragam dukungan tertentu? Salah satu kebutuhan dukungan tersebut, akumulasi amunisi suara menuju tampuk kuasa dalam berbagai tingkatan. Mengapa dukungan suara? Ya karena kanal dukungan itu menggunakan sarana setor suara alias voting. Kenali saja, apakah setiap kandidat punya naluri bertukar atau berbagi. Pertanyaannya, apakah dalam bertukar tak ada berbagi, atau dalam berbagi tak ada bertukar?

Jawabnya, lihatlah ujung daun dan akar rumput pun bergoyang. ***

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVI: Mulailah dengan Satu Pohon

 

PURWADMADI ADMADIPURWA

Lihat Juga

Derap Kebangsaan XXVI: Untuk Membangun Kerukunan, Harus Ada Ketulus-ikhlasan

DR. BADRUN ALAENA M.SI, KETUA PUSAT STUDI PANCASILA DAN BELA NEGARA UIN SUNAN KALIJAGA: SYUKUR …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *