Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Pendidikan » WAYANG “PREMAN”: Tawuran, Bauran, Tawaran Kreasi
Wayang ''Preman'', tokoh Bilung yang ''Dewa'' (ft. ifid kh)

WAYANG “PREMAN”: Tawuran, Bauran, Tawaran Kreasi

“Wayang konvensi”, arus besar dunia wayang, sangat berbeda dengan wayang kreasi yang berkembang dan menyebar ke seluruh belahan bumi. Wayang konvensi, wayang yang secara filosofis konseptual, satuan-satuan estetika dominan yang sering disebut sebagai pakem-paugeran, sampai dengan praktik penerapan dalam seni pertunjukan tradisi, harus diakui memiliki beberapa faktor dominan pemegang kuasa etik dan estetik. Mungkin, kuasa dominan etik dan estetik pewayangan itu menyebabkan tumpukan kegelisahan berkepanjangan sehingga menggerakkan upaya untuk keluar dari tekanan etik dan estetik dan menemukan satuan etik dan estetik yang membeda.

Tahun 2017 lalu, RM Kristiyadi, mencetuskan “wayang preman”. Ia sering mengulang kegelisahan yang selalu menghantui dirinya sebagai kreator dunia seni pertunjukan, yang di antaranya sering mengolah dunia wayang. Yang dirasakan dirinya dari dunia wayang, (1) wayang adalah tontonan manusia dewasa, urusan manusia dewasa: kuasa, tahta, perang, asmara, senjata, ajian,  kesaktian diri, berebut benar,  dan nafsu penaklukan dan mengalahan, kuasa menguasai dan kewajiban bersetia. Begitu banyak sajian kekerasan; (2) urusan manusia dewasa karena pesan moral yang disampaikan dalam tataran tingkat substansi nilai hidup seperti kekuasaan, kesatriyaan, keadilan, kebenaran, keluhuran, terlalu jauh dengan tingkat pemahaman rata-rata anak-anak dan remaja; (4) wayang juga lebih menguras perhatian pada dunia laki-laki. Maskulinitas yang kental; (5) wayang banyak bicara problem hidup elite sosial, elite kultural, strata sosial tinggi, bangsawan dan priyayi, sementara problem jelata rakyat kebanyakan jarang tertampilkan, paling banter jadi rasanan dan objek  garapan. Persoalan dunia, persoalan hidup, bagai hanya milik para penguasan, kestriya dan elit sosial tinggi;  itupuan dalam stratifikasi yang ketat cenderung feodal; (6) menikmati dan mengolah wayang tertuntun oleh suatu kaidah tertentu yang baku dan sering dikeramatkan. 

Namun, justeru karena keadaan itu, wayang terus menantang untuk dikembangkan. Salah satu dobrakan atas kemamapan-kemapanan yang dibangun untuk dan atas nama pakem paugeran, gaya-gaya lokalitas kultural, keagungan dan kewibawaan budaya, jebakan visi nguri-uri dan ngurip-urip, sampai dengan pertahanan identitas, adalah dengan mengangkat kekuatan kreatif “manusia-manusia merdeka” atau manusia bebas yang independen pada kuasa kultural tertentu, serta teguh-hati menempuh jalan hidup sendiri dan berbeda. Namun, tetap memiliki jiwa persaudaraan, setia kawan, toleran, empati, kapasitas membela keyakinan, dan adaptif karena tuntutan harus lolos dari “seleksi sosial”, daya survival tinggi.   Jebakan persepsi buruk atas manusia-manusia merdeka boleh saja tetap disematkan, tetapi jalan lain menilik nilai lebih dan sisi baik mereka, menjadi bagian yang layak pula dimanfaatkan. Realitas dan persepsi buruk adalah bagian dari cara marginalisasi orang-orang merdeka dari kemapanan kuasa. Arus balik yang boleh dilakukan, marginalisasi elitisasi keluhuran dan kebenaran hidup oleh manusia-manusia dependen, manusia tidak merdeka karena tenggelam dalam dominasi kuasa kultural. Demokratisasi kelas sosial.

Simak juga:  Arjuna, Tokoh Pembebas Zaman Edan

Gerakan pembebasan wayang? Akan halnya penggunaan kata “preman” sejatinya upaya menjuah kuasa makna yang secara massif terdistribusikan secara sosial, bahwa “preman” adalah dunia gelap. Kekerasan, kebrutalan, pemerasan, pemaksaan, kriminal, jahat,  dan menjadi stigma. Paradigma stigmatik tentu memiliki kebenarannya, namun bersamaan dengan itu melupa sisi putih dari kegelapan stigmatik itu. Salah satunya, pembebasan atas kuasa dominan etik dan estetik melalui proses penyetaraan diri (demokratisasi kelas sosial) dan penerjemahan daya survival akibat tekanan kemajuan teknologi dalam balutan keleluasaan ekpresi kreasi dan kebersamaan (paseduluran) dalam keragaman pendukung baik secara pemikiran, kehendak, selera, dan acuan pandu tindakan.

Wayang “Preman” dalam rencana RM Kristiyadi, berusaha menyatukan formula “seni tradisi-seni kontemporer-seni popular” dengan memanfaatkan fasilitas teknologi informasi dan komunikasi, khususnya perangkat komunikasi berbasis digital. Satuan lain yang digerakkkan adalah keterlibatan penonton bersama alat pemudah komunikasi (aplikasi HP) sebagai bagian dari kesatuan pertunujukan. Bukan hanya diam menonton wayang tetapi terbuka untuk saling tonton di antara penghadir se lokasi maupun bersebar lokasi, saling menyumbang keutuhan pertunjukan.  Wayang “Preman”  meretas sekat-sekat wayang-dalang-penonton dan perangkat dukung pertunjukan. Wayang “Preman” bukan wayang final, kreasi akhir dan purna, malainkan suatu tawaran terbuka. Wayang melintas jaman dalam beragam pintu lewatnya. Wayang, “gedung lawang sewu”. (Purwadmadi, pengamat dan penulis seni budaya)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIX: Kepemimpinan Berdasar Pancasila

Prof. Dr. Kaelan, MS Topik yang kita letakkan sebagai substansi diskusi saat ini memang berada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.