Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XII: Wayang, Menginspirasi Kebangsaan
Suasana Diskusi Kebangsaan XII "Kebangsaan dalam Dunia Pewayangan" Tembi Rumah Budaya 22/1/18 (Foto: perwaracom)

Diskusi Kebangsaan XII: Wayang, Menginspirasi Kebangsaan

Maka sampailah Diskusi Kebang-saan yang dihelat Paguyuban Warta-wan Sepuh Yogyakarta (PWSY) bekerjasama sama dengan berbagai institusi pada diskusi yang ke-XII. Kalau diskusi diselenggarakan sebulan sekali berarti diskusi sudah berlangsung selama satu tahun. Tema dipilih disesuaikan dengan kondisi bangsa yang sedang berjalan. Meliputi tema sosial, politik, hukum, kebudayaan, perekonomian, pertam-bangan, kehutanan, pertanian, sumber daya alam, pendidikan, religi dan agama, kepahlawanan pada era milenial (now), kepariwisataan dan ditutup dengan semacam orasi budaya mengangkat tema “Kebangsaan Dalam Dunia Pewayangan”. Dalam dunia pewayangan banyak kearifan kekuasaan dibicarakan dan dipertontonkan. Sangat hitam putih. Yang benar pasti akan menang dan yang congkrah culas pethakilan pasti akan kalah. Pada forum pungkasan ini diharapkan dunia pewayangan ini dapat menginspirasi kita dalam berbangsa dan bernegara. Baik pada tataran internal bangsa maupun gempuran dari luar negeri yang tidak rela bangsa ini maju dan berkembang.

Guna memberi apresiasi dan meng-hormati partisipasi para pakar yang telah berkontribusi dalam setahun diskusi kebangsaan perkenankan kami menyebut beliau satu persatu sebagai berikut: Prof Dr. Ir Eni Hermayani M.Sc (Dekan Fak Pertanian UGM), Prof. Dr. Umar Santoso, Dr. Ir Siti Samsiar MS (Fak Pertanian UPNVY), Prof. Dr. Mochammad Maksum Machfoedz, Dr. Sapuan Gafar, Ashadi Siregar, Dr. Imam Anshori Saleh, Drs. HM.I dham Samawi, Emha Ainun Nadjib, Drs. Sihono HT, Supardiyono (KPID DIY), Prof.Dr. Ir Sari Bahagiarti M.Sc (Rektor UPNVY), Prof. Dr. Ir. C. Danisworo M.Sc, Prof. Dr. Ir. Mohammad Naiem MAGR, Kol. (L) Kartoli SE (Dan Lanal Yogya), Nur Ismanto (LBH Yogya), KGPAA Sri Paku Alam X (Wakil Gubernur DIY), Prof. Dr. Faruk HT, Dr. Achmad Charris Zubair, Dr. Greg Wuryanto (Arsitek), Untung Basuki (Seniman), Prof. Dr Sri Edi Swasono (Ketua Majlis Luhur Taman Siswa), Prof. Dr. Wuryadi, I.Gede Ardika (Mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata), Suhendroyono S.H.,M.M.,M.Par, Dr. Ir. Djoko Wijono M.Arch (Ka Pusat Studi Pariwisata UGM), Herman Tony (PHRI DIY), Dr. Ning Rintiswati, Dr. Sri Nurhartanto S.H., LLM (Rektor UAJY), Dr. Bambang K. Prihandono (Sosiolog), Dr. Zuli Qodir M.Si (Fisip UMY), Prof.Dr. Sudjito SH, M.Si, Prof Dr. H. Amin Abdullah (UIN Sunan Kalijaga), Prof.Dr. Suwardi Endraswara, Dr. Anton Haryono, Dr. H. Purwanta, Drs. Johanes Eka Priyatna M.Sc.,Ph.D (Rektor Univ Sanata Darma), Prof. Dr. Sudjarwadi (Mantan Rektor UGM), Dr. Arie Sujito (Fisip UGM), Kol Purn Sutikno, Dr. Sugeng Bayu Wahyono (Dalang/ Sosiolog UNY), GKR Hemas (Anggota DPD RI DIY) yang karena sesuatu hal digantikan Dr. Sari Murti Widyastuti S.H., M.Hum (Pusat Studi Wanita UAJY) dan Hj. Sri Roviana M.A. (Majlis Kessos PP Aisyiyah), Prof. Dr. Suminto A. Sayuti (Dalang/UNY).

Demikian pula lembaga/institusi yang merespon positip untuk bekerjasama karena sejalan dengan prinsip kebangsaan yang sangat urgen dihayati dapat dikemukakan sebagai berikut: Tembi Rumah Budaya, UPN Veteran Yogya, UST Sarjana Wiyata Taman Siswa, STIPram, UAJY, Universitas Sanata Darma, Hotel Forriz, Museum Yogya Kembali, Pura Paku Alaman, DPD RI DIY.

Muncul pertanyaan dari mana dana untuk mendukung terselenggaranya diskusi kebangsaan yang berlangsung satu tahun itu. Dana tersebut berasal dari dana sosialisasi MPR berkaitan dengan sosialisasi Pancasila,UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Tepatnya adalah dana sosialisasi untuk jatah Anggota MPR/DPR Drs. HM Idham Samawi. Jatah untuk Pak Idham itulah yang menggulirkan kegiatan diskusi kebangsaan. Kalau target setiap diskusi minimal harus dihadiri 150 orang, maka diskusi PWSY diikuti oleh berlipat-lipat peserta. Karena diskusi kebangsaan PWSY memanfaatkan konvergensi media. Selain diskusi diikuti peserta, diskusi juga diresonansi dengan agenda menerbitkan Jurnal Kebangsaan, diunggah di portal PWSY, live striming ketika diskusi berlangsung, direcord oleh Yogya TV utk serial siaran tunda dan akhirnya dirangkum dalam penerbitkan majalah dwi bulanan Warta Kebangsaan. Serial diskusi ini juga diliput media cetak dan elektronik lokal dan nasional.

Barangkali ada yang bertanya untuk apa PWSY/Perwara.com melakukan semua itu? Jujur jawabannya adalah tidak ada niat maupun ambisi meraih satu target tertentu. Terkecuali semata-mata hanya ingin mendarma-bhaktikan sisa usia sebagai Wartawan Sepuh demi tegaknya NKRI berazas Pancasila dan UUD 1945 dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.Itu saja dan tidak ada tujuan lain. Wartawan adalah profesi seperti halnya dokter. Terikat dengan ketentuan Kode Etik Profesi. Tidak mengenal pensiun kecuali ybs memensiunkan dirinya sendiri. Pensiun dalam arti putus hubungan kerja dengan perusahaan di mana dia bekerja, ya. Ini masalah administrasi. Tapi sebagai Wartawan disandangnya hingga akhir hayat dikandung badan.

Paguyuban Wartawan Sepuh tidak mengenal adanya sekat kelembagaan. Tidak membawa-bawa institusi asal. Apakah berasal dari media cetak atau elektronika tidak dipersoalkan. Wartawan Sepuh lebur ke dalam wadah “paguyuban”. Dengan demikian PWSY tidak punya beban politis apapun dan juga tidak terikat pada kekuatan politik apapun. Menjunjung azas kebenaran hati nurani.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberkati. Amin.

Merdeka !

Oka Kusumayudha

Lihat Juga

Tumpengan Pancasila, Sultan Lesehan Bersama Rakyat

Panitia Bersama Bulan Pancasila 2018 berencana menggelar acara kolosal dahar kembul bersama Ngarsa Dalem Sri …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *