Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XII: Wayang dan Kebangsaan
Arieanto dan Ons Untoro (Foto: perwaracom)

Diskusi Kebangsaan XII: Wayang dan Kebangsaan

Kita tahu, kalau melihat pertunjuk-an wayang kulit, berbagai macam unsur seni ada dalam pertunjukan wayang tersebut. Dari seni musik, seni rupa, teater, monolog, dagelan bisa ditemukan. Dalam kata lain, pertun-jukan wayang selain mempertunjuk-kan beragam kesenian sekaligus mengolah persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara. Lakon-lakon yang disajikan, merupakan kisah perebutan kekuasaan, dan masing-masing pihak merasa perlu membela negara.

Jadi, dari wayang semangat kebangsaan telah ditumbuhkan. Maka, Diskusi Kebangsaan ke-12, Paguyuban Wartawan Sepuh Yogya-karta mengambil tema ‘Kebangsaan Dalam Pewayangan’, yang diseleng-garakan Senin 22 Januari 2018 di Ruang Museum Tembi Rumah Budaya, Jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Narasumber yang diha-dirkan Idham Samawi, anggota DPR RI dan Prof. Dr. Suminto Ahmad Sayuti, guru besar Universitas Negeri Yogyakarta.

Melalui wayang, kita akan mencoba memahami bagaimana kebangsaan ditumbuhkan. Karena kisah-kisah dalam pewayangan memberi gambar-an bagaimana membangun satu bang-sa, dan dari segi pertunjukan wayang kulit merepresentasikan berbagai ma-cam jenis kesenian. Maka, ada yang menyebut, pertunjukan wayang kulit merupakan pertujukan kesenian yang paling komplit.

 

Identifikasi Tokoh Melalui Wayang

Seringkali kita mendengar orang merujuk tokoh wayang untuk menje-laskan karakter seorang tokoh, yang dianggap menyerupai tokoh dalam pewayangan. Meskipun rujukan tersebut belum tentu tepat, tetapi orang bisa memiliki imajiansi karakter seorang tokoh yang dimaksud melalui karakter tokoh wayang. Kita tahu, Sengkuni, salah satu tokoh dalam pewayangan, yang berpihak pada Kurawa, berbeda karakternya dengan Karna, tokoh lain dalam pewayangan dan sama-sama berpihak pada Kurawa. Kesetiaan pada negara, baik Sengkuni maupun Karna, dan tokoh lain menunjukkan bahwa sikap nasionalisme menjadi penting untuk membela negara. Dalam konteks ini, tidak perlu dilihat negara yang dibela salah atau benar, tetapi negara yang selama ini memberi hidup terancam akan hancur.

Demikianlah perang antar negara.Masing-masing negara menanamkan pada warganya untuk memiliki nasionalisme, peduli terhadap bangsa-nya sehingga siapapun yang akan menghancurkan negara kita, harus dihadapi, dilawan.

Dalam kisah pewayangan, terutama dari kisah Mahabarata, peperangan antara kerajaan Hastinapura dan Indraprasta menelan banyak kor-ban dari masing-masing pihak. Perdamaian seperti sudah tak bisa dilakukan. Raja Hastinapura, Duryodhana merasa perlu menerus-kan perang dengan kerajaan Indra-prasta yang dipimpin Yudhistira.

Dalam kisah Mahabarata, setidak-nya bisa dibaca melalui buku karya Nyoman S. Pendit, terutama pada kisah yang diberi judul ‘Duryodhana Tewas Sesuai Swadharma-nya’ Maha Guru Kripa memberi nasehat pada Duryodhana. Kata Kripa:

“Didorong nasfu besar dan ambisi, kita korbankan banyak orang dalam perang ini walaupun mereka rela mengorbankan jiwa mereka. Sekarang satu-satunya jalan yang masih bisa kita tempuh untuk menghindari kemusnahan adalah berdamai dengan Pendawa, sebaiknya perang ini kita hentikan”.

Namun Duryodhana tidak setuju perdamaian. Dia merasa perlu me-ngalahkan lawannya, setidaknya karena nafsu besar dan ambisinya sudah mengusai hidupnya. Dengan nada perih, Duryodhana menjawab nasehat Maha Guru Kripa. Kata Duryodhana:

“Mungkin, dulu itu bisa dilaku-kan. Sekarang sudah terlambat. Perundingan seperti apa yang bisa kita usahakan ketika darah sudah tertumpah dan sudah tak terbilang korban berjatuhan di kedua pihak? Kalau aku menyerah untuk menghindari kemusnahan Kurawa dan sekutunya, siapakah yang tidak akan mengutuk aku dan menyumpahi aku? Kebahagian apa yang dapat kurasakan jika aku mundur sebagai pengecut? Kegembiraan seperti apa yang dapat kunikmati dalam kemegahan kerajaanku setelah semua saudara, keluarga dan kawanku tewas? Tidak! Setapak pun aku tidak akan mundur!”

Begitulah keteguhan untuk membe-la negara tidak goyah. Meskipun tahu kekalahan akan merenggutnya, tetapi demi negara dan rakyatnya yang su-dah berkorban, tak ada pilihan lain kecuali meneruskan perang.

Kita tahu, kekuasaan tidak akan ada habisnya. Orang yang telah meme-gang kekusaan seperti tidak mau mele-paskannya. Maka, perlu aturan, yang tak lain adalah undang-undang untuk mengaturnya.

 

Kebangsaan Melalui Wayang

Semangat kebangsaan kita yang sedang terkoyak memang tidak seperti kisah dalam wayang, terutama pada perang Baratayuda. Melainkan dari serpihan kisah dalam wayang kita bisa melihat bagaimana ajaran kesetiaan pada negara ditumbuhkan, meskipun di sana tak bisa disembunyikan menyangkut apa yang disebut rasa dendam, kebencian dan sejenisnya. Bangka kita, seperti sedang diiris-iris hal-hal seperti itu. Rasa benci ditumbuhkan dengan berbagai macam persoalan, yang seolah persoalan tersebut menusuk jantung kebangsaan kita. Hal-hal yang menyangkut sara mudah sekali dihangatkan untuk kemudian dipanaskan menjadi masalah yang mengancam kebersamaan.

Karna, seorang tokoh yang memi-liki keteguhan membela negaranya, dan tak bisa mundur untuk melawan Pandhawa, yang tak lain adalah sau-daranya sendiri. Tetapi pilihan untuk berpihak pada negara, yang selama ini memberi kehidupan bukan karena dia tidak mencintai saudara-saudaranya. Jalan perang memang telah dipilih dan dia tidak bisa mundur. Hal yang sama seperti apa yang dilakukan Arjuna, dia tidak sampai hati berperang melawan saudaranya dan juga membunuh guru-gurunya, tetapi tak ada pilihan lain kecuali saling berhadapan. Arjuna, dan tentu Pandawa, tak bisa lain harus mengambil alih negaranya yang sudah ‘dirampas’, dan jalan perang adalah untuk mengambil haknya.

 

Mengapa jalan perang?

Itu kisah dalam pewayangan. Dalam menumbuhkan kebangsaan, kita juga tidak lepas dari perang. Bukan karena kita begitu mencintai kekerasan, tetapi penjajah hendak menguasai negeri kita, dan tidak ada pilihan lain jalan perang yang diambil. Tentu, selain angkat senjata, jalan diplomasi juga diambil. Dua jalan saling mengisi untuk membangun kebangsaan kita, untuk membangun negara kita agar tidak dikuasi oleh penjajah.

Lalu bagaimana kebangsaan terus ditumbuhkan di jaman yang telah maju pesat seperti sekarang ini?

Kita perlu bersama menjaga, agar negara kita tidak pecah, tidak tercerai berai karena gesekan hal-hal yang sebenarnya seringkali dibuat-buat. Karena, bangsa kita satu sama lain selama ini sudah saling menerima, saling menghargai. Meskipun tahu keadilan dan kesejahteraan masih jauh untuk dirasakan. Tetapi, warga dari masing-masing daerah saling menerima dan menghormati karena tahu, bahwa sebagai bangsa, meski berbeda-beda kita adalah saudara. Dari segi pendidikan, meski kualitas daerah berbeda-beda, tetapi kesempatan untuk sekolah terbuka bagi semua warga negara Indonesia.

Yang perlu terus dikerjakan oleh pemerintah adalah, memperluas kesejahteraan dan keadilan sehingga warga masyarakat bisa merasakan kemerdekaan dalam arti sesungguhnya, atau bisa menikmati apa yang dimaksud dari yang tertulis dalam butir-butir Pancasila.

Kurun waktu 73 tahun kemerdekaan, kesejahteraan dan keadilan belum juga mendekat pada kehidupan warga masyarakat, kecuali hanya sedikit orang dari jumlah penduduk yang menghuni negeri ini, yang bisa menikmati.

Jadi, seperti kisah dalam pewayang-an, atau dalam kosa kata bahasa Jawa: Gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja. Memang hanya kisah, bukan kenyataan yang kita alami. (Ons Untoro)

Lihat Juga

Tumpengan Pancasila, Sultan Lesehan Bersama Rakyat

Panitia Bersama Bulan Pancasila 2018 berencana menggelar acara kolosal dahar kembul bersama Ngarsa Dalem Sri …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *