Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » WARISAN LELUHUR BAGI PEMIMPIN: Dari Pegangan Gajah Mada, Hingga Asthabrata
Ilustrasi suku Bali. (ft. wikipedia)

WARISAN LELUHUR BAGI PEMIMPIN: Dari Pegangan Gajah Mada, Hingga Asthabrata

NENEK moyang bangsa di Nusantara ini mempunyai beberapa pegangan untuk dipergunakan di dalam memimpin masyarakatnya. Kebanyakan sudah terkristalisasi dalam berbagai bentuk tembang dan juga nasehat luhur. Diantara yang paling menonjol adalah pegangan yang dipergunakan oleh Mahapatih Gajahmada ketika memimpin Majapahit.

“Pustaka Asta Dasa Parateming Prabu” atau 18 ilmu kepemimpinan. Pitutur luhur ini pernah diterapkan Maha Patih Gajah Mada pada jaman keemasan Kerajaan Majapahit di bumi Nusantara ini. Ke-18 prinsip-prinsip kepemimpinan tersebut permulaannya disebut ‘Wijaya’. Artinya pemimpin harus mempunyai jiwa tenang, sabar dan bijaksana serta tidak lekas panik dalam menghadapi berbagai macam persoalan. Hanya dengan jiwa yang tenang masalah akan dapat dipecahkan.

Yang kedua ‘Mantriwira’; Artinya pemimpin harus berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan tanpa terpengaruh tekanan dari pihak manapun.

Ketiga ‘Natangguan’; Artinya pemimpin harus mendapat kepercayaan dari masyarakat dan berusaha menjaga kepercayaan yang diberikan tersebut sebagai tanggung jawab dan kehormatan.

Keempat ‘Satya Bhakti Prabhu’; Pemimpin harus memiliki loyalitas kepada kepentingan yang lebih tinggi dan bertindak dengan penuh kesetiaan demi nusa dan bangsa.

Kelima ‘Wagmiwak’; Pemimpin harus mempunyai kemampuan mengutarakan pendapatnya, pandai berbicara dengan tutur kata yang tertib dan sopan serta mampu menggugah semangat masyarakatnya.

Keenam ‘Wicaksaneng Naya’; Artinya pemimpin harus pandai berdiplomasi dan pandai mengatur strategi dan siasat.

Ketujuh ‘Sarjawa Upasama’; Artinya seorang pemimpin harus rendah hati, tidak boleh sombong, congkak, mentang-mentang jadi pemimpin dan tidak sok berkuasa.

Kedelapan ‘Dhirotsaha’ ; Artinya pemimpin harus rajin dan tekun bekerja, memusatkan rasa, cipta, karsa dan karyanya untuk mengabdi kepada kepentingan umum.

Kesembilan ‘Tan Satrsna’ ; Maksudnya seorang pemimpin tidak boleh pilih kasih terhadap salah satu golongan, tetapi harus mampu mengatasi segala paham golongan, sehingga dengan demikian akan mampu mempersatukan seluruh potensi masyarakatnya untuk mensukseskan cita-cita bersama.

Kesepuluh ‘Masihi Samasta Bhuwana’; Maksudnya seorang pemimpin mencintai alam semesta dengan melestarikan lingkungan hidup sebagai karunia Tuhan dan mengelola sumber daya alam dengan sebaik-baiknya demi kesejahteraan rakyat.

Kesebelas ‘Sih Samasta Bhuwana’; Maksudnya seorang pemimpin dicintai oleh segenap lapisan masyarakat dan sebaliknya pemimpin mencintai rakyatnya.

Keduabelas ‘Negara Gineng Pratijna’; Maksudnya seorang pemimpin senantiasa mengutamakan kepentingan negara dari pada kepentingan pribadi ataupun golongan, maupun keluarganya.

Ketigabelas ‘Dibyacitta’ ; Maksudnya seorang pemimpin harus lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain atau bawahannya (akomodatif dan aspiratif).

Keempatbelas ‘Sumantri’ ; Maksudnya seorang pemimpin harus tegas, jujur, bersih dan berwibawa.

Kelimabelas ‘Nayaken Musuh’ ; Maksudnya dapat menguasai musuh-musuh, baik yang datang dari dalam maupun dari luar, termasuk juga yang ada di dalam dirinya sendiri.

Keenambelas ‘Ambek Parama Artha’; Maksudnya pemimpin harus pandai menentukan prioritas atau mengutamakan hal-hal yang lebih penting bagi kesejahteraan dan kepentingan umum.

Ketujubelas ‘Waspada Purwa Artha’;

pemimpin selalu waspada dan mau melakukan mawas diri (Instropeksi) untuk melakukan perbaikan.

Kedelapan belas ‘Prasaja’ :Artinya seorang pemimpin supaya berpola hidup sederhana (Aparigraha), tidak berfoya-foya atau serba gemerlap.

 

Asthabrata

Lain pula dengan apa yang disebut Asthabrata. Asthabrata pada awalnya merupakan ajaran yang diberikan Rama kepada Wibisana. Ajaran tersebut terdapat dalam Serat Rama Jarwa Macapat, tertuang pada pada 27 Pangkur, jumlah bait 35 buah. Pada dua pupuh sebelumnya diuraikan kekalahan Rahwana dan kesedihan Wibisana. Disebutkan, perkelahian antara Rahwana melawan Rama sangat dahsyat. Seluruh kesaktian Rahwana ditumpahkan dalam perkelahian itu, namun tidak dapat menendingi kesaktian Rama. Ia gugur olah panah Gunawijaya yang dilepaskan Rama. Melihat kekalahan kakaknya, Wibisana segera bersujud di kaki jasad kakaknya dan menangis penuh kesedihan.   

Demikian antara lain diungkap Dosen Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sastra UGM, di hadapan peserta sarasehan Jumat Kliwonan Lembaga Javanologi.  Rama menghibur Wibisana dengan memuji keutamaan Rahwana yang dengan gagah berani sebagai seorang raja yang gugur di medan perang bersama balatentaranya. Oleh Rama, Raden Wibisana diangkat menjadi Raja Alengka menggantikan Rahwana. Rama berpesan agar menjadi raja yang bijaksana mengikuti delapan sifat dewa yaitu Indra, Yama, Surya, Bayu, Kuwera, Brama, Candra, dan Baruna. Itulah yang disebut dengan Asthabrata, seperti yang juga dilansir oleh Istana Jawa Org.

Simak juga:  Mengatasi Revolusi Peradaban : Mengedepankan Kearifan Nusantara

Masing-masing ajaran sebagaimana terdapat dalam Serat Rama Jarwa Macapat, Nitisruti dan Ramayana Kakawin Jawa Kuna disebut-sebut satu persatu dewa dengan segala keunikannya. 

Sang Hyang Indra adalah dewa hujan. Ia mempunyai sifat menyediakan apa yang    diperlukan di bumi, memberikan kesejahteraan dan memberi hujan di bumi.

Sang Hyang Yama adalah Dewa Kematian. Ia membasmi perbuatan jelek dan jahat    tanpa pandang bulu.

Sang Hyang Surya adalah Dewa Matahari. Sifatnya pelan, tidak tergesa-gesa,   sabar, belas kasih dan bijaksana.

Sang Hyang Candra adalah dewa Bulai ia selalu berbuat lembut, ramah dan   sabar kepada siapa saja.

Sang Hyang Bayu adalah Dewa Angin. Ia bisa masuk ke mana saja ke seluruh    penjuru dunia tanpa kesulitan. Segala perilaku baik atau jelek kasar atau    rumit di dunia dapat diketahui olehnya tanpa yang bersangkutan    mengetahuinya. Ia melihat keadaan sekaligus memberikan kesejahteraan yang    dilaluinya.

Sang Hyang Kuwera adalah Dewa Kekayaan. Sifatnya ulet dalam berusaha    mengumpulkan kekayaan guna kesejahteraan warga masyarakatnya. Ia sebagai    penyandang dana.

Sang Hyang Baruna adalah Dewa Samudera. Sifat Samudera bisa menampung   seluruh air sungai dengan segala sesuatu yang ikut mengalir di dalamnya.

Namun samudera tidak tumpah. Hyang Baruna seperti samudera bisa menampung    apa saja yang jelek ataupun baik. Ia sabar dan berwawasan sangat luas,    seluas samudera.

Sang Hyang Brama adalah dewa Api. Sifat api bisa membakar menghanguskan dan    memusnahkan benda apa saja. Ia pun dapat memberikan pelita dalam kegelapan     Hyang Brama seperti api bisa membasmi musuh dan segala kejahatan sekaligus    bisa menjadi pelita bagi manusia yang sedangdalam keadaan kegelapan.

Kalau dirangkum amanat Asthabrata yang harus dimiliki pemimpin itu sebagai berikut : Dapat memberikan kesejukan dan ketentraman kepada warganya: membasmi kejahatan dengan tegas tanpa pandang; bersifat bijaksana, sabar , ramah dan lembut; melihat, mengerti dan menghayati seluruh warganya; memberikan kesejahteraan dan bantuan dana bagi warganya yang memerlukan; mampu menampung segala sesuatu yang datang kepadanya, naik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan; gigih dalam mengalahkan musuh dan dapat memberikan pelita bagi warganya. Ajaran ini tetap relevan bagi para pemimpin kita hingga kini sampai ke masa depan.

Versi lain Hastha Brata juga tersirat di dalam beberapa surat. Hastha berarti delapan sedangkan Brata berarti laku, watak atau sifat utama yang diambil dari sifat alam.

Jadi arti Hastha Brata adalah delapan laku, watak atau sifat utama yang harus dipegang teguh dan dilaksanakan oleh seorang pemimpin atau siapa saja yang menjadi pemimpin di kantor, di sekolah, di masyarakat, di rumah bahkan sebagai pemimpin bagi dirinya sendiri secara konsekuen. Delapan watak utama tersebut diambil dari sifat matahari , bulan, bintang, mendung, bumi, lautan (air), api dan angin.

Pertama sifat Matahari. Terang benderang memancarkan sinarnya tiada pernah berhenti. Segalanya diterangi, diberinya sinar cahaya tanpa pandang bulu. Sebagaimana matahari, seorang raja ( pemimpin) harus bisa memberikan pencerahan kepada rakyat, berhati-hati dalam bertindak seperti jalannya matahari yang tidak tergesa-gesa namun pasti dalam memberikan sinar cahayanya kepada semua mahluk tanpa pilih kasih.

Kedua sifat Bulan. Sebagai planet pengiring matahari bulan bersinar dikala gelap malam tiba, dan memberikan suasana tenteram dan teduh. Sebagaimana bulan, seorang pemimpin hendaknya rendah hati, berbudi luhur serta menebarkan suasana tentram kepada rakyat.

Ketiga sifat Bintang. Nun jauh menghiasi langit dimalam hari, menjadi kiblat dan sumber ilmu perbintangan. Seorang pemimpin harus bisa menjadi kiblat kesusilaan, budaya dan tingkah laku serta mempunyai konsep berpikir yang jelas. Bercita-cita tinggi mencapai kemajuan bangsa, teguh, tidak mudah terombang-ambing, bertanggung jawab dan dapat dipercaya.

Simak juga:  Terkabul

Keempat sifat Mendung. Seakan-akan menakutkan tetapi kalau sudah berubah menjadi hujan merupakan berkah serta sumber penghidupan bagi semua makluk hidup. Seorang pemimpin harus berwibawa dan menakutkan bagi siapa saja yang berbuat salah dan melanggar peraturan. Namun disamping itu selalu berusaha memberikan kesejahteraan kepada rakyat sesuai dengan haknya.

Kelima sifat Bumi. Sentosa, suci, pemurah memberikan segala kebutuhan yang diperlukan makhluk yang hidup diatasnya. Menjadi tumpuan bagi hidup dan pertumbuhan benih dari seluruh makluk hidup. Sebagaimana bumi, seorang pemimpin seharusnya bersifat sentosa, suci hati, pemurah serta selalu berusaha memperjuangkan kehidupan rakyat yang tergambar dalam tutur kata, tindakan serta tingkah laku sehari-hari.

Keenam sifat Lautan. Luas, tidak pernah menolak apapun yang datang memasukinya, menerima dan menjadi wadah apa saja. Sebagaimana lautan seorang pemimpin hendaknya luas hati dan kesabarannya. Tidak mudah tersinggung bila dikritik, tidak terlena oleh sanjungan dan mampu menampung segala aspirasi rakyat dari golongan maupun suku mana pun serta bersifat pemaaf.

Ketujuh sifat Api. Bersifat panas membara, kalau disulut akan berkobar dan membakar apa saja tanpa pandang bulu, tetapi juga sangat diperlukan dalam kehidupan. Sebagaimana sifat api, seorang pemimpin harus berani menindak siapapun yang bersalah tanpa pilih kasih dengan berpijak kepada kebenaran dan keadilan .

Kedelapan sifat Angin. Meskipun tidak tampak tetapi dapat dirasakan berhembus tanpa henti, merata keseluruh penjuru dan tempat. Demikian juga hendaknya, seorang pemimpin . keberadaannya harus dapat dirasakan dihati rakyat maupun bawahannya, dan tiada henti-hentinya berupaya meningkatkan kesejahteraan hidup rakyat atau bawahannya. Berupaya mengamati sampai kepelosok penjuru untuk mencari tahu segala hal yang berkaitan dengan tugas dan kewajibannya. Dengan demikian tidak ragu-ragu dalam menentukan kebijakan.

 

Pijakan Filosofi

Dalam Istana Jawa Org, disebutkan orang Jawa dalam hidupnya menyerahkan diri kepada hukum Illahi dengan bertitik tolak pada penghayatannya terhadap alam semesta (jagad besar) dan menjadikannya sebagai tempat belajar atau guru sehingga mendapatkan hikmah bagi dirinya (jagad kecil). Ketika melihat matahari, bulan, bintang dan benda-benda alam raya, maka yang ada dalam penghayatannya adalah ingin mengidentifikasikan kekuatan dan sifat-sifat benda-benda di alam raya tersebut untuk dihayati dalam upaya membangun keluhuran akhlak dan budi pekertinya.

Ajaran Hastha Brata pada dasarnya mengambil tamsil dari sifat kosmos yang mempunyai ciri-ciri berjalan sesuai dengan kodrat dan hukum Ilahi, serta tidak akan pernah menyimpang dari kodratnya. Misalnya matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat setiap hari. Unsur-unsur Hastha Brata secara mikrocosmos terdapat dalam diri manusia. Ketika manusia menyadari hal tersebut dan mengerti akan kodratnya, maka ia bisa memahami jati dirinya yang tergambar dalam tindakannya, sehinggga dalam berbuat segala sesuatu disesuaikan dengan posisi dan porsinya. Maka akan terbentuk individu-individu yang arif bijaksana, penuh pengertian, sabar dan ikhlas, yang wujud nyatanya adalah pengendalian diri. Ketika Hastha Brata dirujuk kepada hukum-hukum alam, dan secara vertikal dihadapkan pada Sang Pencipta, maka yang terjadi adalah sebuah kesadaran bahwa semua laku yang kita lakukan merupakan sebuah ibadah.

Jika seluruh masyarakat Indonesia telah bertindak seperti yang diajarkan Hastha Brata dengan dilandasi keimanan kepada Tuhan yang maha esa sesuai dengan agama yang dipeluknya, maka ambisi, kecurigaan, kebohongan, kesewenang-wenangan, perbenturan kepentingan pribadi dan kelompok, perselisihan serta pertentangan antar Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan tidak akan terjadi. Dengan demikian ancaman disintegrasi bangsa tidak akan terjadi. Perwujudan cita-cita bersama membangun masyarakat yang bersatu berdaulat adil dan makmur akan segera tercapai. (SW-berbagai sumber)

Lihat Juga

Terkabul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *