Jumat , 14 Desember 2018
Beranda » Humaniora » Untuk Menjaga Sejarah Yogya Harus Punya “Senior Citizen”
Sesi foto Paguyuban Wartawan Sepuh di Tembi Bantul tahun 2016 silam (ft. Agus Aniams)

Untuk Menjaga Sejarah Yogya Harus Punya “Senior Citizen”

Yogyakarta dikenal sebagai kota bersejarah, banyak pembesar mengenyam sejarah perjuangannya di kota ini. Banyak diantara mereka sudah pensiun. Mereka ini bukannya orang-orang tua yang tidak berpotensi, tetapi lansia yang masih menyimpan enerji, hanya tidak lagi mempunyai jabatan dalam masyarakat. Padahal kemampuan pikir, dan pengalaman hidupnya masih bisa dimanfaatkan bagi pendidikan generasi muda.

Banyaknya lansia sehat yang masih berpotensi ini terlihat dari banyaknya paguyuban-paguyuban yang lahir di Yogyakarta, entah paguyuban para pensiunan, entah para lansia yang mencoba menggali kembali budaya negeri yang sudah hampir punah lewat paguyuban olah jiwa. Entah yang berorientasi kepada kesehatan jasmani, terapi alternatif, dan sejenisnya. Pada dasarnya mereka ini masih mempunyai greget untuk menyumbangkan sesuatu bagi perkembangan negeri ini, meski sebenarnya juga untuk kesehatan jiwa mereka sendiri.

Kalau kita mau terbuka, lansia di Yogyakarta, makin lama makin bertambah banyak. Sebut saja mereka itu adalah mantan rektor, para mantan guru, mantan wartawan, para pensiunan pejabat di departemen tertentu. Mereka ini paling tidak mempunyai pengalaman hidup yang panjang, pengalaman di bidang pendidikan, sosial, politik, keamanan, kemasyarakatan, kerumahtanggaan, keluarga dan sejenisnya. Mereka mempunyai segudang pengalaman hidup nyata yang sebenarnya bisa dimanfaatkan demi pendidikan generasi muda Yogyakarta khususnya dan Indonesia umumnya.

Soal ini saya ketengahkan  lantaran banyaknya masalah keluarga dan masyarakat yang makin rumit di kota ini atau pun di kota-kota di Indonesia. Sebagai contoh, bahwa sekarang ini mau tidak mau setiap pagi kita disuguhi oleh berita-berita mengenai perceraian persengketaan dalam rumah tangga. Banyaknya perceraian seolah-olah menyadarkan kita bahwa perlu adanya pendidikan calon orangtua.

Selama ini orang hidup di masyarakat kita seolah mengalir, lahir-anak-anak-dewasa menjadi orangtua, jadi kakek-nenek, tanpa sangu pendidikan.

Dahulu ketika jaman ibu atau kakek kita, bisa jadi mereka berguru menjadi orangtua lewat ‘Serat-serat’ atau piwulang Jawa yang termuat dalam tembang-tembang. Tetapi sekarang siapa yang mau menengok dan mempelajari tembang yang berisi petuah dan piwulang luhur itu? Bahasa sudah menjadi kendala. Kita tidak boleh menyalahkan keadaan, dan juga tidak boleh terlalu lama menengok ke belakang. Di depan, masa depan masih sangat panjang. Oleh sebab itu perlu pemecahan masalah sesegera mungkin.

Mempersiapkan manusia menjadi orangtua memang dahulu pernah diajarkan oleh leluhur lewat berbagai wahana ‘tembang, macapat, Wedatama, Wulangreh, Sasana sunu, Wulang putra, dan wulang-wulang lainnya, tetapi kini tidak ada lagi yang mengajarkan.

Kelompok pensiunan inilah yang bisa dijadikan pedoman untuk pendidikan keluarga di masa datang. Mereka ini masih mempunyai kemampuan pikir, paling tidak, meski raganya sudah tidak sekuat dulu lagi. Tetapi setidaknya pikiran dan pengalaman menjadi orangtua sangat dibutuhkan oleh generasi masa kini.

Mereka ini perlu diwadahi, tentu bukan dalam wadah yang berbau politis, tetapi lebih-lebih bermanfaat bagi manusia dalam pergaulan hidup sesamanya. Dengan demikian mereka yang lansia ini masih merasa dimanusiakan  lantaran masih dibutuhkan paling tidak pengalamannya.

Di beberapa negara maju mereka tergabung dalam komunitas ‘Senior Citizen Organization’,-Warga Masyarakat Senior’. Kedudukan ini lebih memanusiakan mereka dan membuat para pensiunan ini masih mempunyai greget hidup yang semakin panjang.’ ‘Bikin hidup lebih hidup’.

Bisa jadi mereka ini diwadahi dalam lembaga swadaya masyarakat, tetapi juga diwadahi dalam lembaga non struktural di pemerintahan daerah, ataupun apa saja bentuknya.

Apabila sudah terbentuk wadah lansia yang tergabung dalam ‘Senior Citizen Organization’ pelayanan mereka perlu ditekankan pada aspek yang populer di masyarakat, seperti aspek psikologi, pendidikan, sosial, kemasyarakatan, keluarga, pendidikan jiwa, keagamaan, keamanan dan sejenisnya.  Tentu mereka ini sudah sangat berpengalaman dalam mengenyam asam manisnya dunia, banyak yang bisa diceritakan kepada mereka yang mau konsultasi, sehingga ada manfaat dan bisa menjadi wahana mengikis masalah sosial yang ada di masyarakat. Mereka banyak tahu mana yang salah dan benar yang dilakukan di masa lalu yang tidak bakal dilaksanakan di masa depan.

Oleh karena itulah marilah kita berjuang membangun negeri ini lewat Yogyakarta sebagai kota tua pertama di Indonesia agar masalah sosial kemasyarakatan di kota ini semakin menipis dan masyarakatnya menjadi semakin bermartabat dan berbudaya seperti sandangan kota budaya. (Sugeng Wiyono Al)

*) Penulis pengamat Budaya tinggal di Bangunjiwa Bantul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *