Beranda » Sastra » Sulis Bambang dan Bengkel Sastra Taman Maluku di Sastra Bulan Purnama
Sulis Bambang (Foto: Ist)

Sulis Bambang dan Bengkel Sastra Taman Maluku di Sastra Bulan Purnama

Bengkel Sastra Taman Maluku dari Semarang yang dipimpin Sulis Bambang, seorang perempuan penyair yang bukunya berjudul ‘Hanya Untukmu’ dan merupakan kolaborasi antara puisi dan fotografi diluncurkan di Sastra Bulan Purnama edisi 78.

Sastra Bulan Purnama sudah memasuiki edisi 78, artinya sudah lebih dari 6 tahun berlangsung. Selain tiga penyair yang akan membacakan puisi karyanya, juga akan menampilkan pembaca puisi lainnya. Jadi, selain akan ditafsirkan oleh penyairnya sendiri, akan ada pembaca lain yang menafsirkan puisi dari penyair yang tampil. Setiap orang, tidak hanya penyair boleh menafisrkan puisi, dan penafsirannya bisa berbeda dari penyairnya.

Tiga penyair, masing-masing Bambang Widiatmoko (Bekasi), Handry TM dan Sulis Bambang (Semarang) tampil membacakan puisi karyanya di Sastra Bulan Purnama edisi 78, Jumat 2 Maret 2018 di pendhapa Tembi Rumah Budaya, jalan Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Ketiganya meluncurkan buku puisi karya masing-masing penyair, sehingga ada 3 buku puisi yang dilaunching bersama. Buku puisi ketiganya di terbitkan penerbit ‘KKK, Jakarta, dan dietrbitkan tahun 2017. Bambang Widiatmoko bukunya berjudul ‘Silsilah Yang Gelisah’, Handry  TM judul bukunya ‘Eventide’ dan Sulis Bambang buku puisinya berjudul ‘Hanya Untukmu’.

Karena puisinya berjumlah banyak, dan ada tiga buku puisi sehingga hampir 300 puisi dari tiga buku yang diluncurkan, masing-masing penyair tidak membacakan semua pusinya, bahkan hanya membacakan beberapa puisinya, tidak lebih dari  4 puisi yang dibacakan Bambang Widiatmoko dan Handry TM, karena selain keduanya ada pembaca lain yang membacakan puisi karya Bambang Widiatmoko dan Handry.

Selain tiga penyair di atas, ada Bengkel Sastra Taman Maluku dari Semarang, yang tampil dengan satu pertunjukan sastra. Kelompok ini memadukan antara puisi, musik dan tarian. Ketiganya seling-seling saling mengisi untuk menghidupkan puisi yang diolah menjadi satu pertunjukan.

Sulis Bambang, salah satu dari tiga penyair yang tampil adalah pimpinan dari Bengkel Sastra Taman Maluku. Dia mengolah puisinya menjadi satu pertunjukan yang dipentaskan oleh Bengkel Sastra Taman Maluku. Perpaduan antara puisi, musik dan tari adalah upaya untuk menghidupkan puisi karya Sulis Bambang.

“Buku puisi saya ini berbeda dengan dua buku yang diluncurkan bersama, karena puisi saya dipadukan dengan karya fotografi, sehingga dua karya bertemu dalam satu buku, yaitu puisi dan fotogtrafi, dan yang membedakan lagi puisi saya tidak ada judul, melainkan hanya saya beri nomor, foto yang tertera saya rasa bisa mewakili sebagai judul puisi” kata Sulis Bambang memberikan pengantar sebelum membaca puisi.

Bambang Widiatmoko, yang kini tinggal di Bekasi, pernah lama tinggal di Yogya, kota kelahirannya. Sejak tahun 1980 dia sudah produktif menulis puisi dan dipublikasikan di media cetak lokal maupun nasional, dan pada tahun itu sudah menerbitkan antologi puisi. Buku puisi yang diluncurkan ini merupakan buku puisi tunggalnya yang terbaru. Selain itu, puisi-puisinya banyak diterbitkan dalam bentuk antologi puisi bersama.

Bambang Widiatmoko membaca 2 puisi, selebihnya dibacakan oleh pembaca lain, Choen Supriyatmi, Nunung Rita dan Latifah.

“Selain akan saya bacakan sendiri, ada beberapa teman yang nanti akan membaca puisi karya saya” kata Bambang Widiatmoko sebelum membacakan puisi karyanya.

Handry TM selain menulis puisi juga menulis novelete dan esai. Buku puisinya yang sudah terbit di antaranya Telepon (1990), Tuhan Kemana Cinta (2009). Di Sastra Bulan Purnama 78 ini Handry membacakan dua puisi karyanya, selebihnya dibacakan para pembaca yang lain.

“Terimakasih saya telah dipabtis menjadi penyair. Karena kata orang, sebelum tampil di Tembi belum dianggap sebagai penyair” kata Handry bergurau untuk mengawali sebelum membacakan puisi karyanya.

Ketiga penyair yang tampil di Sastra Bulan Purnama ini, membacakan puisi dengan ekspresi masing-masing dan sangat bersahaya, tidak dengan teriakan, sehingga terdengar suaranya melengking. Kalau pun ada sedikit teriakan seperti dilakukan Handry TM, bukan teriakan yang melengking, tetapi merupakan penfsiran atas duka, sehingga terikaan ‘hore,,,’ dari Haandry merupakan ekspersi duka.

Sulis Bambang, dengan permainan musik, tarian dan puisi. membawa dalam satu suasana putik. Tarian yang dilakukan seperti mengeksperiskan dari puisi yang sedang dibacakan, dan pertunjukan dari Bengkel Sastra Taman Maluku, pimpinan Sulis Bambang, betul-betul menempatkan sastra, dalam hal ini puisi sebagai satu pertunjukan. (*)

Lihat Juga

Jadwal Dimajukan, Festival Budaya Isen Mulang 2018 Dijamin Tetap Meriah

Jadwal Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) dimajukan. Awalnya, even ini akan dihelat 19-24 Mei. Namun, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *