Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Spirit Ratu Kidul Demi Kemuliaan Manusia
Ilustrasi Ratu Kidul

Spirit Ratu Kidul Demi Kemuliaan Manusia

Berbicara masalah Mitos Ratu Kidul kita perlu landasan. Ada beberapa landasan yang saya gunakan:  Yang pertama perlu diingat bahwa Bahasa Jawa adalah bahasa rasa dan Jawa penuh simbul, sarat sanepa, sarat perlambang. Oleh karena itulah saya lebih banyak bicara lambang yang ada dalam pemahaman ini. Satu kata Jawa misalnya Kayu—— krama menjadi Kajeng- lalu kanjengipun kadospuni:

Guyonan—krama menjadi gegujengan- lalu maknanya berubah menjadi sesuatu yang positif;    Jawa sendiri mempunyai makna bersayap: Jawa berarti Njaga wibawa dan Jawa yang artinya Nguja Hawa yang sangat tipis batasnya.

Dasar kedua adalah Peringatan dari Mas Ngabehi Suradipa dalam Serat Andupara (Nyleneh) bahwa apa yang ada di dalam legenda, catatan sejarah ataupun mitos perlu dipahami secara mendalam jangan sampai diterima mentah mentah.. Contohnya Ketika Pangeran Diponegara menendang tembok dan jebol. Memang ada bekasnya, tetapi yang dimaksud tentu kungkungan Kompeni atau tradisi Kraton yang mengungkung kemerdekaan beliau harus dijebol. Dll

Dasar ketiga adalah adanya tembang Sinom kalau tidak salah:

Nuladha laku utama
Tumraping wong tanah Jawi
Wong Agung ing Ngeksi Gandha
Panembahan Senapati
Kepati Amarsudi 
Sudane hawa lan nepsu
Pinesu ing tapa brata
Tanapi ing siyang ratri
Amemangun karyenak tyasing sesama.

 
Dasar yang keempat adalah nalar dan naluri para leluhur. Ini yang agak sulit dan abstrak dipahami apalagi oleh manusia jaman Now.

Bagi saya Kanjeng Ratu Kidul adalah sebuah pencapaian atau hasil akhir dari sebuah perjalanan spiritual panjang yang dilakoni oleh Raja Jawa. Sayang lara lapa ketika dalam proses perjuangan tidak tergambarkan secara utuh sehingga menjadi mitos dan legenda yang susah ditangkap maknanya. Padalah manusia Jawa dahulu sangat mengedepankan proses daripada hasil akhir. Karena itu hasil akhir itulah yang dilihat orang. Sementara untuk menjabarkan prosesnya manusia perlu teliti telaten taberi ngudi sregep neges. Dan itu susah untuk dikatakan, sehingga untuk memudahkan pembicaraan hasil akhir itu saja yang dikatakan.

Oleh karena itulah saya mencoba untuk mendasarkan pembicaraan kita dari tembang.
Orang Jawa kalau berbicara sesuatu harus ada dasar. Atau Jawanya rambatan. Maka saya menggunakan rambatan Tembang Sinom tadi.

Menurut para leluhur: Tembang iku rakitane basa kang ngemu perlambang sasmitaning urip, sing ngambang buwangen, dene sing cunduk cumondhok candhinen ana sariranta. Artinya Tembang atau nyanyian itu adalah untaian bahasa yang penuh simbol hidup dan kehidupan yang tidak berguna buanglah tetapi yang bermakna tangkaplah dan jadikanlah pegangan hidup.

Untuk memahami Tembang ada catatan penting yang bisa kita kembangkan
Nulandha Laku utama, catatan pertama, laku utama
Tumraping wong tanah Jawi
Wong agung ing Ngeksi ganda: catatan kedua Ngeksi ganda:

Simak juga:  Dewi Lanjar, Kecantikannya Menyaingi Ratu Kidul

Laku utama bagi orang Jawa adalah dengan menghormati kesepakatan yang sudah dibuat bersama: Urip tata manungsa yang mengedepankan Trape trapsila dadiya pusakane pasrawungan, trape urip den bisa tepa slira. Yakuwi Jiwa Jawi kang luhur. Kesetiaan kepada aturan entah itu dari Allah ataupun yang dibuat manusia sendiri harus dipegang, dan kalau hidup harus mampu bertenggang rasa. Manusia Jawa harus menghormati aturan. Dan ini harus dilakukan dalam kehidupan sehari hari. Itulah laku utama. Urip tata manungsa.

Lalu catatan yang kedua adalah Wong Agung ing Ngeksi Ganda. Apa ini artinya. Punapa ingkang kaeksi. Tentu saja ganda arum. Oleh karena itulah semboyanya dan ini dilestarikan kalau netonan ada semacam matram : Niyat ingsung nyebar ganda arum, jagad paring berkat, bumi paring rejeki, lintang rembulan kang madhani jagad pulung atiku. Itu doa untuk diri sendiri. Sementara doa itu harus dilakoni dengan semangat: Niyat ingsun nyebar ganda arum;

Tyas manis kang mantesi, Aruming wicara kang mranani, Sinembuh laku utama.

Tentu tekad ini perlu dikembangkan untuk era sekarang. Apa itu artinya Tyas manis kang mantesi, orang ini tidak pernah mempunyai rasa curiga dan selalu bersikap positif thinking terhadap siapa saja dan apa saja. Hati yang baik yang selalu dikedepankan.  Berbicaranya juga indah mengajak kepada kebaikan, tidak malah menjadi provokator: Ingat kata ki dalang: Mbenjang sang aji mijil  lathinya ngendhali wuwus. Tidak hanya lathinya ngedali wuwus dan malah lathinya medal ilunya. Apa yang dibicarakan juga berbobot bermakna bagi kehidupan.

Dan yang terakhir adalah keteladanan dengan “sinembuh laku utama” hidup penuh keutamaan, sehingga menjadi teladan bagi lingkungannya.

Dan selanjutnya apa yang dilakukan oleh Panembahan Senapati. Dia melatih hidupnya dalam suasana doa dan matiraga.

Oleh karena itu itu Beliau tapa ngeli di derasnya sungai Opal ditemani gethek atau sampan kecil dari bambu. Ngeli manut rahsa bukan nefsu. Ini juga amat sulit karena kebanyakan terkontaminasi dengan nafsu. Karena kepasrahan kepada Allah bukan lagi kehendak manusia yang terjadi tetapi kehendak Hyang Maha Kuasa. Oleh karena itulah manusia perlu belajar dari Air. Matirta mardawaning Jalma. Manusia belajar dari bambu, Sejak dahulu manusia Jawa senantiasa belajar dari Bambu, maka filosofi bambu menjadi sangat penting. Bambu adalah Kandel le eling atau Kendel eling: Ingat sama Sang Empunya Hidup.

Cara orang Jawa belajar mengasah rasa dari air, beragam. Ada yang ‘kungkum“, berendam di sumber mata air pada tengah malam, ada yang mandi air bunga dan masih banyak lagi. Ada yang mengatakan, ‘nempur’, ‘tuk pitu'(methuk pitulungan), ‘tuk telu’, ‘tuk sewelas'(metuk kawelasan) , dan lain sebagainya.

Simak juga:  Dewi Lanjar, Kecantikannya Menyaingi Ratu Kidul

Dalam budaya Jawa pemahaman akan nasihat dibarengi dengan tindak- Ngelmu iku kelakone kanthi laku, lekase lawan khas, tegese khas nyantosani….’. Meski demikian pelakon harus mampu membaca isi dari petuah tersebut.

Suatu ketika Sultan Hamengku Buwono X pernah mengatakan bahwa kalau ingin jadi pemimpin yang benar-benar demokratis harus mempunyai sifat baik seperti yang dipunyai oleh air.

Air mempunyai sifat empat perkara: Ketika dalam keadaan normal, air mempunyai sifat yang biasa tenang. Dan tidak pernah menghancurkan atau menyingkirkan benda-benda yang menghalangi arusnya. Malah kalau ada batu atau pohon air senantiasa menghindarinya.

Dengan amat ‘luwes’, air itu melewati halangan tanpa adanya kurban, walaupun tujuannya sampai. Seolah-olah air tak mempunyai kekuatan, tak berdaya. Tetapi sesungguhnya di situ tersimpan kekuatan yang maha dahsyat.

Kedua, lautan seperti lebih berkuasa daripada sungai, lantaran airnya lebih banyak.

Tetapi yang mengherankan, air lautan itu berada di bawah sungai, dan sungai berada di bawah mata air. Ini mengandung makna bahwa legimitasi kekuasaan itu berawal dari sikap yang ‘andhap asor’ dan siap melayani rakyatnya. Semua itu membawa imbalan, karena air sungai itu semua mengalir ke samudera.

Sifat air lainnya adalah bisa untuk becermin. Artinya pemimpin harus mempunyai sikap dan tindak yang baik -Laku utama- supaya bisa diconto oleh rakyatnya.

Pemimpin harus bisa becermin kepada rakyatnya.

Air juga mempunyai sifat mengalir ke bawah. Artinya mencari masalah yang paling dasar dan penting.

Di tengah masyarakat agung, diwujudkan dengan rasa cinta terhadap sesama hidup. Sejarah mencatat, tokoh-tokoh besar dunia maupun nasional pasti mempunyai cinta kasih dan hormat terhadap sesama hidup. Penguasa mempunyai kewajiban jadi pengayom dan ‘pengayem’-penjaga ketenteraman masyarakat kecil.

Dengan demikian bisa diartikan pula bahwa air merupakan ungkapan rasa manusia. Air perlambang rasa yang hidup. Oleh karena itu ada semacam ungkapan Jawa atau aromisma yang mengatakan bahwa “kalamun harsa sumurup urubing tirta, gondhelana talining mega”. Ini hanya akan mengungkap masalah rasa manusia yang bisa hidup kalau manusia mampu mengendalikan hawa nafsu. Mega dilambangkan sebagai nafsu yang terus bergelora.

Itulah mengapa nenek moyang kita dulu menamai nama-nama kota seperti Banyumas, Banyuwangi sebagai sebuah harapan dan tujuan bahwa penduduknya agar sadar bahwa rasa harus senantiasa diasah, dilatih agar bersinar dan tajam bahkan bisa mewujudkan keharuman nama.

Belum lagi kalau manusia ingin mencapai kesempurnaan hidup, yang dikejar hanyalah pertautan antara ‘laut dan langit’, laku utama-laku keutamaan dan ‘Laladan lungit’ wilayah sakral kejiwaan.

Didalam pemahaman ini laut mengibaratkan kesabaran yang tinggi yang selalu memuat luapan air kali dari mana pun. Dan uniknya segala sampah disingkirkan ke tepi. Jadi kalau kita melihat laut yang ada hanyalah kilauan kebersihan. Ini menunjukkan bahwa jiwa manusia haruslah seperti jiwa laut yang menyingkirkan segenap sampah kehidupan ketepi.

Simak juga:  Dewi Lanjar, Kecantikannya Menyaingi Ratu Kidul

Laut wujud dari cermin kehidupan untuk menggalang laku keutamaan. Keselarasan, keindahan dan kebaikan yang tercermin. Sementara langit yang dimaksudkan di sini adalah ‘laladan lungit’, wilayah pemahaman yang sangat pribadi dalam kehidupan manusia. Wilayah ini sangat sulit untuk dipahami bersama secara umum. Biasanya dipahami dalam bentuk pengalaman pribadi personal yang khas. Oleh karena itulah manusia Jawa sering mengatakan ‘nora golek kasampurnaning urip, ananging ngupaya urip kang sampurna’. Sebab hidup sendiri sudah tidak sempurna. Manusia terlanjur terpatrikan dengan sifat, ‘lali, luput lan apes’. Lupa, salah dan sial. Oleh karena itulah untuk mewujudkan kebaikan di masyarakat sebagai laku keutamaan manusia Jawa hanya mengandalkan laku keutamaan dengan semangat menebarkan keharuman nama. ‘Nyebar ganda arum’-ngeksi ganda. Sebab hidup manusia di dunia ini kalau dicermati hanyalah memberikan bukti kebaikan-aweh bukti becik– terhadap sesama hidup.

Akhirnya bahwa separuh kehidupan (Separuh hidupnya)Panembahan Senapati adalah mengusahakan untuk hidup berguna bagi sesama. Sigarananing nyawaning Panembahan untuk Laku Utama. Maka semangat inilah yang perlu dimunculkan dalam upaya mitos Ratu Kidul. Bahwa untuk bertemu dengan Ratu Kidul hanyalah dengan berupaya kinacek ing sesami cinaket ing Gusti dengan mentautkan laut dan langid. Oleh karena itu dalam pemahaman ilmu Jawa ada paling tidak dua aliran. Ilmu Karang dan Ilmu Kasampurnan,, maka di Pantai Selatan pun ada sosok personifikasi yang dimunculkan yakni Kanjeng Ratu Kidul untuk yang berkaitan dengan Ilmu Kasampurnan, dan Nyai Rara Kidul yang berkaitan dengan Ilmu Karang yang berorientasi kepada keduniawian,yakni drajad semat dan pangkat atau Kemrincinge dhuwit, Kecopak iwak, dan kumerlape pupu kuning.

Sebuah kesimpulan bisa diambil bahwa selaras dengan ilmu Jawa yang mengakui adanya lintas kosmis dan diselaraskan dengan upaya orang Jawa menguasai ilmunya maka bisa dikatakan bahwa di ‘dunia yang lain’, ada tataran yang selaras dengan dunia ini. Artinya bagi seorang ratu apabila ilmunya sudah lengkap, bontos dan buntas kawruhe mampu untuk bisa berkomunikasi dengan ratu di dunia yang lain. Sementara untuk tataran di bawahnya demikian juga selaras dengan pencapaian dalam menimba ilmu yang berdasarkan atas Ilmu Karang, Ilmu Kasantosan kanuragan dan Ilmu Kasampurnan. Oleh karena itulah di Pantai Selatan Jawa dikenal ada tiga personifikasi. Yang pertama Kangjeng Ratu Kidul, Nyai Lara (Rara) Kidul dan Rara (Lara) Kidul.

 

KI JURU BANGUNJIWA, JUMAT WAGE (2 Jumadilakir) 19 JANUARI 2018
Disampaikan di Dalem Kepatihan Pura Pakualaman.

Lihat Juga

Amustikarana

MUNGKIN kita tak begitu menghiraukan ketika rumah-rumah di jaman dahulu di pagar nya terdapat hiasan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.