Rabu , 21 November 2018
Beranda » Nasional » Diskusi Kebangsaan XVI: Setiap Tahun di Dunia, Hutan Seluas Jawa Hilang
Prof. Dr. Ir. Cahyono Agus DK, MSc, Guru Besar Kehutanan UGM (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan XVI: Setiap Tahun di Dunia, Hutan Seluas Jawa Hilang

Prof. Dr. Ir. Cahyono Agus DK, MSc, Guru Besar Kehutanan UGM

PADA kesempatan ini karena tema-nya tentang Green Economy, mohon izin untuk menyampaikan beberapa hal. Bumi ini adalah satu-satunya planet yang bisa kita tinggali. Tidak ada planet lain yang bisa ditinggali karena adanya oksigen, adanya air, adanya bahan organik untuk makan. Karena kita butuh oksigen, untuk bernapas setiap detik, tidak bernapas dalam hitungan beberapa detik, kita mati. Kemudian air, kita tidak minum dalam hitungan hari, kita mati. Tidak makan bahan organik dalam hitungan beberapa hari kita juga mati.

Dan, bumi kita itu tadi menyedia-kan sumber daya alam dan Indonesia terletak di tropika yang secara ko-drat alamnya menyediakan aturan resource yang banyak, tersedia gratis, bisa dimanfaatkan. Namun demikian eksplotasi sumber daya alam di Indonesia itu, jadi di bumi ini sudah melebihi kapasitas. Ada yang menghitung sudah 1,7 dibandingkan kapasitas bumi ini.

Eksploitasi ekonomi merah, itu dimulai ketika revolusi industri. Jadi bahan-bahan natural resource yang tersedia gratis tidak ada, yang membuat dan sebagainya. Tadi batu-bara, hutan tropika basah, kita tadi ada datanya, berbagai macam, ada yang bilang 120, 140 dan sebagainya. Degradasinya cukup tinggi. Itu tersedia gratis di bumi ini. Tidak ada yang me-nanam, tidak ada yang memelihara. Kemudian, dikelola, kebetulan lebih ke eksploitasi saja.

Ekonomi merah tadi mineral batubara, mineral macam-macam itu hanya diambil, dan sebenarnya nilai ekonomi yang diambil dari warisan yang diterima secara gratis tadi dengan cara pengelolaan yang hanya eksploitasi tadi, itu telah mengakibat-kan kerusakan lingkungan dan sosial budaya cukup tinggi. Ekonomi merah telah mengakibatkan kondisi lingkungan kita menjadi jelek.

 

Tujuh Rekor Kerusakan

Ada tujuh rekor kerusakan bumi ini yang dipercaya oleh internasional, yaitu ada kenaikan suhu bumi ini, dua derajat diharapkan berkurang dan sebagainya. Kita rasakan betul waktu kita kecil, sekarang besar, sangat panas. Kemudian kenaikan CO2, yang sekarang sudah di atas 400 ppmp dan ini 2 atau 3 tahun terakhir ini selalu rekor itu terjadi. Meningkat drastis. Bulan April dan Mei ini Jerman itu rekor pemanasan tertinggi. Tiga tahun terakhir ini juga sangat tinggi. Kemudian juga adanya temperatur di permukaan laut, di bawah laut dan sebagainya, yang itu tekanan udara sangat berbeda. Itu yang menyebabkan badai-badai pada akhir-akhir ini lebih banyak terjadi.

BMKG tanggal 20 Juni kemarin memberikan peringatan, dalam 7 hari ini terjadi perubahan-perubahan anomali cuaca. Banjar, Banyuwangi ya kemarin yang banjir di musim kemarau. Saya sedang menulis banjir di musim kemarau. Ketika pada saat musim kemarau itu curah hujan sangat rendah, tiba-tiba ada pertemuan tekanan udara di Samudera Hindia dan Pasifik sehingga membelok ke Sumatera, Jawa, dan sebagainya, se-hingga tiba-tiba hujan.

Badai-badai itu terjadi juga dengan curah hujan yang biasanya kita sebut curah hujan lembab atau basah, 100 mm per bulan. Dalam 15 menit itu bisa turun hujan sekitar 350 mm. Jadi jatah tiga bulan bisa turun dalam waktu beberapa menit atau beberapa jam. Bahkan ekornya saja. Kemarin itu ada badai topan, yang terakhir itu Cempaka dan sebagainya, itu hanya ekornya saja. Bantul sudah kewalahan dan sebagainya.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan IV : Kebudayaan Adalah Ruh dan Spirit Kebangsaan

Nah, tadi gletser juga sudah mulai mencair, permukaan air laut juga naik beberapa meter dan sebagainya, sehingga beberapa pulau itu sudah hilang. Dan ini adalah tanggungjawab kita semuanya. Karena eksploitasi yang berlebihan.

 

Biayanya Tinggi

Sehingga muncul ada Green Economy, yang mengupayakan agar pemanfaatan sumber daya alam ini memahami atau memperhatikan lingkungan. Namun demikian, ter-nyata Green Economy itu biayanya tinggi semacam beras organik, itu membutuhkan input-input lain yang ternyata nilainya lebih tinggi dan sebagainya. Sehingga ada yang mencoba menalarkan, new evaluation, kemudian saya tulis juga di buku internasional di bulan Februari kemarin. Di situ produktivitas penyerapan karbon biomas dan sebagainya tertinggi di dunia.

Indonesia, karena di tropika, itu produktivitas net primary production itu tertinggi di dunia. Sepuluh kali lipat dibandingkan dengan daerah temperate, yaitu 750 gram karbon per meter persegi per tahun. Saya sampaikan tadi, untuk menanam pohon gemelina atau katakanlah atau pas gurun spesias dan sebagainya itu butuh 6 tahun dengan diameter mencapai minimal 20 senti, di luar negeri butuh 6 tahun. Sehingga Indonesia terkenal dengan paru-paru dunia.

Nah kerusakannya, karena paru-paru ketika rusak maka kesehatan bumi secara keseluruhan juga menu-run drastis. Sama ketika paru-paru kita rusak, karena banyak merokok maka tubuh kita itu juga menurun drastis. Itu yang di serang oleh internasional. Namun demikian, perbaikan di tropika, perbaikan paru-paru itu tadi 10 kali lipat. Sehingga upaya perbaikan di hutan tropika basah itu mempercepat perbaikan tadi, 10 kali lipat tadi.

Menanam pohon dengan kecepatan 10 kali lipat tadi, menyebabkan penye-rapan CO2, kemudian penyediaan O2, air dan sebagainya, manajemen air itu menjadi penting. Dengan kehilangan hutan tropika basah, pada waktu zaman revolusi, reformasi itu tertinggi, 2,8 juta hektar per tahun ketika itu. Kemudian sempat menurun karena sudah kesulitan untuk mengakses ini. Data terbaru itu menyebutkan di seluruh dunia ini, setahun itu hutan seluas pulau Jawa ini hilang. Setiap hari sekitar 200 km kubik hutan itu hilang di seluruh dunia.   Sehingga sementara di tropika itu yang mempunyai peran penting terhadap tubuh kita, itu degradasi, namun kemudian itu tadi perbaikannya. Itu yang ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang belum berfighting, bahwasannya ketika paru-paru membaik karena sudah tidak menebang atau boleh dikatakan sudah tidak merokok lagi, kemudian berolah raga dengan menanam dan sebagainya, maka produktivitas natural hutan itu lebih baik. Kemudian juga eksploitasi, natural mineral-mineral misalnya tambang batubara, jadi yang dulu itu bukan hanya rambutnya yang dihilangkan, hutan yang dihilangkan, tetapi bawah tanahnya, seperti Freeport itu bawah tanah sampai kedalaman dua kilometer, batubara kedalaman sampai 100 meter dan sebagainya, itu dibongkar.

Yang tadinya terisolir dari kehi-dupan manusia karena mengandung karbon sangat tinggi, karbon sigli, kemudian karbon besi, almunium yang sebenarnya sangat meracuni, kemudian terbongkar dan pembong-karan tadi boleh dikatakan tidak memenuhi kaidah-kaidah lingkungan yang baik. Sehingga kerusakannya jauh lebih tinggi dibanding nilai ekonomi yang sebenarnya hanya diperoleh oleh pengusaha yang beberapa gelintir dan sebagainya.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XV: Bangsa Ini Harus Banting Stir Kembali ke Pancasila

 

Budidaya Emas Kehidupan

Bahkan sekadar memperbaiki, ada point ekosistem yang kembali kepada kodrat alam. Kebetulan saya menulis tentang budidaya emas kehidupan, jagad biru rahayu, adalah tanggung jawab kita semua untuk berkontribusi nyata, dan orang kehutanan, orang sosial budaya dan sebagainya adalah untuk memperbaiki ini kembali. Hutan tropika basah tadi itu secara alami, 800-an tahun terbentuk di situ ada sumber pangan, sumber pakan, sumber energi, sumber air oksigen, itu kita kembalikan. Jadi integrited biocycle farming, siklus-siklus itu kita kembalikan, kita budidayakan, sehingga dalam satu-kesatuanlah kita bisa mengelola memberdayakan menjadi sumber pangan.

Di situ ada emas merah. Emas hitam itu pupuk-pupuk organik. Emas coklat itu kayu, emas merah itu adalah daging, emas putih itu susu, di situlah dalam satu-kesatuan kita kelola secara optimal dan sebaik-baiknya. Sehingga kita tidak lagi ekonomi merah, eks-ploitasi. Eksploitasi kita save-kan, kita balikkan menjadi pemberdayaan sumber daya yang terabaikan, sampah-sampah yang banyak terbuang, ini ketika mudik banyak dibuang, plastik-plastik tadi dibilang bahwasanya degradasinya untuk membuat kemasan ini, plastik ini, itu butuh mineral-mineral dari bawah tanah, yang energinya tinggi.

Kemudian juga butuh minyak tinggi, waktu tinggi, transport tinggi dan sebagainya, dan ini biasanya hanya dimanfaatkan diminum dalam waktu dua menit kemudian dibuang, itu membutuhkan degradasi sampai 450 tahun. Sehingga, kemudian dari penelitian terbaru juga, dari 11 merk terkenal internasional, ini di dalamnya terkandung mikroplastik yang masuk, yang nanti diminum dalam kehidupan kita, yang menyebabkan kanker-kanker berbahaya.

Nah, itu adalah tanggung jawab kita bagaimana kita berkonstruksi dengan Green Economy Kebangsaan ini tadi, natural resource kita kelola dengan baik. Singapore bilang kita tidak punya natural resource, Jepang juga begitu sehingga sejak kecil anak-anak dikembangkan, kalau kamu tidak mengembangkan sumber daya manusia, keahlian, keterampilan dan sebagainya, kalian tidak maju. Ma-kanya mereka lebih berkembang.

Sementara kita berleha-leha karena tanah kita tanah surga, warisan kita kelola dengan seenaknya. Nah ini ada point penting bagi kita untuk mengelola sumber daya alam dengan kebangsaan, dengan kebersamaan. Itulah nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai kemanusiaan, kebudayaan dan sebagainya adalah bagian milenial yang kita kembangkan bersama, tidak ego sentris, tidak berorientasi kekuasaan, namun demikian adalah kesetaraan dan keadilan kita bersama, jagad biru rahayu adalah tanggung jawab kita.

Manusia sebagai khalifah bumi telah terbukti menjadikan bumi ini menjadi tidak nyaman lagi. Karena itu saatnya manusia sebagai khalifah bumi untuk kembali menjadi cucuk lampah memperbaiki sumber daya alam ini agar bermanfaat bagi seluruh makhluk hidup, bukan hanya manusia tetapi juga hewan, tanaman maupun seluruh insan-insan di bumi ini. ***(SEA)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIX: Pemimpin Jujur, Hebat!

Satu penggalan momen menarik terjadi ketika acara pertemuan akbar alumni Universitas Gadjah Mada diselenggarakan di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.