Beranda » Humaniora » Senggama Semesta di Gunung Kemukus dan Candi Sukuh Pemaknaan Teologi Pembebasan Lewat Legenda Asmara Suci (1)

Senggama Semesta di Gunung Kemukus dan Candi Sukuh Pemaknaan Teologi Pembebasan Lewat Legenda Asmara Suci (1)

Oleh: KRT Suryanto Sastroatmojo

SERINGKALI kita terkecoh, saat harus menyelami dongengan atau folklore-folklore tua, seperti misalnya kisah Bandung Bondowoso. Semula kita perkirakan sebagai kisah perang akbar antar kerajaan. Tetapi ternyata kemudian terbukti, bahwa kisah tersebut merupakan makna terselubung tentang perang dingin antara dua dinasti tua, Sanjaya dan Syailendra, yang keduanya menurunkan para raja kuat yang memerintah Tanah Jawa dari abad ke-7 hingga 10, untuk kemudian menyatu dalam dinasti Isyana (Isyanawamsa) yang hijrah ke Jawa Timur akibat bencana Gunung Merapi pada tahun 875 M, yaitu raja-raja Mpu Sindok, Dharmawangsa, Airlangga dan keturunannya. Maka lewat kisah Bandung Bondowongso, para anak-cucu akan “kelangan lacak” atas perang saudara tersebut. Dan peristiwa aib malu ini tertutup.

Demikian pula kisah percintaan antara Pangeran Samodra dengan Dewi Antrawulan, sebenarnya juga mengandung muatan lokal dan lokal genius yang amat berarti, dan karena itu, saya ingin mengungkapkan misteri di balik nuansa ini. Karena, apabila kita hanya terkesima dan terpaku pada kisah asmara ragawi demikian, kita malahan hanya menutup diri serta kurang yakin pada itikad solidaritas dan toleransi leluhur kita dahulu kala. Untuk itu, saya ungkap hal-hal yang merupakan hasil wawancara  saya dengan Romo GPH Hadiwijaya Maharsitama (alm) pada tahun 70-an dulu. Sebagian lagi hasil penelitian dari buku “Islam dan Kebatinan” karya Prof. HM Rasyidi, serta beberapa catatan Prof. Dr. Slametmulyana dalam kitab “Tafsiran Negarakertagama” dan “Pelestarian Leluhur Majapahit“. ditambah lagi dengan penelitian Ir. Sttuterheim yang terdapat di LIPI.

Dengan demikian, bukan maksud saya menolak adanya legenda kisah asmara Samodra-Antrawulan, melainkan ingin meletakkan sesuatu pada proporsinya. Ini merupakan itikad dan niat-ingsun yang suci, karena kita ingin agar generasi muda tidak ketliweng pada tatacara-tatacara yang khilaf. Lagi pula adanya tatacara dan tradisi Tantrik (Tantrayana) memang dimaksudkan sebagai upaya Teologi Pembebasan dan religio-magi yang menyelamatkan sejarah dinasti masa lalu. Bukan untuk ditiru secara membabi buta oleh rakyat awam. Itu titik tolaknya.

Bahwasanya pertemuan antara sosok tampan Pangeran Samodra, seorang putra Majapahit dengan Dewi Antrawulan, konon adalah lantaran sang raden semula ingin melepaskan diri dari incaran maut rezim baru Kesultanan Demak, karena Sultan Demak baru dilantik ( R. Patah atau Syah Alam Akbar Alfattah I), maka putra-putri Brawijaya V, yang juga ayah Raden Patah sendiri itu dihimpun dan dikoordinir agar menyatakan sumpah setia kepada dinasti baru Demak. Tentunya dengan tugas-tugas lain, kewajiban lain dan memeluk agama Islam.

Banyak di antara mereka yang tidak bisa menerima pemaksaan pemelukan agama Islam, lalu melarikan diri ke pegunungan. Seperti yang dilakukan oleh Bondan Surati yang lari ke Pegunungan Menoreh lalu ke Gunungkidul, Bondan Kesuma ke kawasan Tengger dan Bondan Wilana ke Bukit Janjang (Kendheng), serta ada yang menyamar sebagai petani dan pertapa di Padepokan agar tidak dipaksa tunduk setia kepada Rezim Demak. Salah satu dari mereka adalah Raden Jaka Samodra yang memilih Gunung Pudhakawangi (nama asli Gunung Kemukus) sebagai tempat persembunyiannya dengan menyamar sebagai petani, sehingga tidak seorang pun tahu bahwa ia masih ningrat Majapahit.

Sementara itu, seorang selir Prabu Brawijaya V yang bernama Ratu Antrawulan Tarusanti, suatu ketika mendengar tentang pelarian Raden Jaka Samodra, yang merupakan anak tirinya, dari seorang Juru Sathang Bengawan Semanggi (nama kuno Bengawan Solo), sewaktu ia menyeberangi bengawan itu untuk mencari kerabatnya. Ia mendengar, bahwa “wus kemukus pawarta kang srunirengwaton lamun tetunggul ageng dhedhekah murwasunthi” di Gunung Pundhakwangi. Ia menyusul untuk mempersatukan diri, karena Antrawulan enggan dipaksa memeluk agama Islam dasn mendukung rezim Demak.

Ternyata penyusulan itu tidak meleset. Raden Jaka Samodra yang menyamar sebagai petani, bahkan telah diangkat sebagai sesepuh dhukuh sana dengan nama Ki Danarung (Ki Udan-arum). Sang ibu tiri yang masih mengenalinya bergabung ikut menetap di kawasan Pundhakwangi. Kemudian, karena merasa senasib-sepenanggungan, keduanya pun menikah dan menjadi pepundhen masyarakat setempat. Mereka dikenal sebagai Kyai dan Nyai Pituruh, karena tampak rukun, rujuk terus, saling setia, pasangan romantis dan sangat kuat memegang teguh kepercayaan Tantrayana (suatu senyawa antara agama Budha dengan imsur-unsur Hindu lokal yang tua).

Ketika Raden Samodra atau Ki Danarung wafat, istrinya teramat sedih dan prihatin, ingin menyatu hingga “Nglayung“. Maka jasad keduanya dibakar dan diperabukan, kemudian disimpan dalam sebuah peripih batu, yang berwujud “Lingga santi prasasti” dan dikebumikan dalam satu liang lahat. Bahkan semua dipermandikan dengan nama Candi Baghasokhawati dan bangunannya bertahan sampai abad 18 M.

Salah satu pendapat yang pernah dilontarkan oleh seorang budayawan tua dari Yogyakarta, KRT Partahadiningrat, keturunan bangsawan Banyumas, pada tahun 1982 mengatakan, bahwa terdapat tiga fenomena yang meliputi Gunung Kemukus.

Fenomena pertama, bahwa secara folkorik, kisah cinta antara Pangeran Samodra dengan ibu tiri atau “klangenan” ayahnya pantas untuk dikaji. Karena faktor kisah cinta ini bukanlah merupakan suatu pernikahan, melainkan suatu bentuk “perbuatan batin dan fisik yang informal” dan di luar tatanan wajar, karena itu kemudian timbul berbagai pendapat, bahwa ini suatu perselingkuhan.

Akan tetapi, peristiwa cinta itu sendiri bukanloah hal yang asing dalam kehidupan wiracarita dan folklor Kejawen, aplagi dilakukan oleh pribadi yang sama-sama memendam perasaan yang sama. Bahwa soal ini kemudian dijadikan semacam tradisi setempat, bahwa salah satu cara mengajukan sesaji serta permohonan kehadapan pepundhen Kemukus adalah dengan menjalin “hubungan persebadanan” antar peziarah, tanpa disadari apakah ini lazim, ataukah karena salah persepsi terhadap tradisi kuno yang berlatar belakang religi tersebut.*** (Bersambung)

 

(Mulai hari ini, tulisan karya KRT Suryanto Sastroatmodjo (alm) akan ditampilkan secara bersambung. Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di majalah “Citra Yogya” dan Tabloid “Tidar” edisi 1, 2 dan 3 Mei 2001. KRT Suryanto Sastroatmodjo, seorang sastrawan, budayawan dan wartawan Yogyakarta kelahiran Bojonegoro. Pakar serta pecinta sejarah dan budaya Jawa ini meninggal dunia pada 17 Juli 2007 di Yogyakarta.- SEA)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVI: Mulailah dengan Satu Pohon

Salah satu penyebab terjadinya ban-jir bandang yang merendam rumah-rumah penduduk dan merendam ratusan hektar sawah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *