Beranda » Peristiwa » Senggama Semesta di Gunung Kemukus dan Candi Sukuh Pemaknaan Teologi Pembebasan Lewat Legenda Asmara Suci (4)
Gunung Kemukus (Foto: net)

Senggama Semesta di Gunung Kemukus dan Candi Sukuh Pemaknaan Teologi Pembebasan Lewat Legenda Asmara Suci (4)

Oleh: KRT Suryanto Sastroatmojo

MAKA, sebelum Prabu Brawijaya akhirnya melakukan mokhsa, beliaub akan berkunjung ke Pulau Bali, untuk suatu perjalanan ziarah yang beliau anggap sebagai “jelajah atas negeri yang masih tetap mengleluri adat istiadat leluhur asli”. Untuk itu, Sri Brawijaya Pamungkas lantas menyiapkan sekelompok pengikut ditambah warga desa Parangalas, menuju Gunung Padhakwangi (sekarang Gunung Kemukus), karena ada kesadaran, bahwa sebuah ruwatan harus ditempuh.

Di sanalah Brawijaya lantas ingin kembali menancapkan bendera “teologi pembebasan” yang murni. Tiada dinyana sama sekali, bahwa di kawasan Padhakwangi juga sudah terdapat komunitas dari kelompok sisa Majapahit dari trah Girindrawardhana yang terusir oleh tentara Demak, dari tlatah Dahanapura atau Kediri.

Merasa senasib sepenanggungan, kkelompok Brawijaya V dan kelompok trah Girindrawardhana menciptakan pola persatuan dan kesatuan yang disebut sebagai patron “Samodramanthana sumilek hayun, tuanggarastika milang Tantrawulan huning-patra“, yaitu mempersatukan tradisi ruwatan dengan tirta suci Amerta dan Prawitasari (ingat cerita Sang Garuda mengadu samudra susu untuk mencari Tirta Amerta). Lantaran itulah maka komunitas masyarakat tersebut tetap akan menekuni prinsip Tantrayana (kombinasi Budhisme dan Hinduisme Waisnawa serta sekte lainnya), oleh karenanya bisa kembali mengalami kesejukan cahaya purnama (Tantrawulan).

Jadi pertemuan antara Samodramanthana dan (T)Antrawulan itu bukanlah secara fisik, melainkan batiniah spiritual, dan tidak mengacu pada tokoh-tokoh legendaris siapa pun!

 

Kembali Menyatu

Begitulah, di Gunung Pudhakwangi itu, komunitas trah Brawijaya V (keturunan dari dinasti Raden Wijaya atau Rajasawardhana) kembali menyatu dengan dinasti Brawijaya VI – VIII (yang merupakan keturunan dinas raja-raja Kediri atau dinasti Jayakatwang).

Lenyaplah sudah perseteruan panjang yang berlangsung berabad-abad, sejak zaman ketika Ken Arok menaklukkan Raja Kediri, Kertajaya, pada sekitar 1222, yaitu dengan kekalahan Kertajaya di Ganter, saat ketika perselisihan antara dinasti diperlihatkan oleh potensi kemileteran Ken Arok (Ken Arok leluhur raja-raja Majapahit. Silahkan kaji kitab Pararathon dan Negarakertagama).

Dengan demikian, setelah kedua trah raja-raja Singhasari dan Kediri, atau trah raja-raja dinasti Raden Wijaya bertemu kembali dengan trah raja-raja dinasti Girindrawardhana, maka kembali pulalah Tanah Jawa sebagai “tlatah purwasari” yang suci, karena tiada lagi permusuhan antara dinasti-dinasti tua tersebut.

Dengan kata lain, kisah legendaris perkawinan antara Pangeran Samudra dan Putri Antrawulan itu tiada lain adalah sanepa atau simbolisme semata, yang menyindir kisah-kisah perselisihan antara raja-raja dari dinasti Daha (Kediri) dan Singhasari, serta kembali “meruwat sengkalaning perang” yang begitu dramatik itu, agar putra wayah kumpul dan kembali.

Apalagi saat itu keduanya menghadapi musuh kuat yang harus mereka tanggulangi, yakni kelompok komunitas Palembang Ampel (Raden Patah, putra Brawijaya V yang berkolusi dengan para ulama di bawah bendera Sunan Ampel Denta di Surabaya) yang berniat menghancurkan dinasti Raden Wijaya dan Girindrawardhana. *** (Bersambung)

Lihat Juga

Tumpengan Pancasila, Sultan Lesehan Bersama Rakyat

Panitia Bersama Bulan Pancasila 2018 berencana menggelar acara kolosal dahar kembul bersama Ngarsa Dalem Sri …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *