Beranda » Peristiwa » Senggama Semesta di Gunung Kemukus dan Candi Sukuh Pemaknaan Teologi Pembebasan Lewat Legenda Asmara Suci (3)
Relief ini menggambarkan Sadewa yang sedang berjongkok dan diikuti oleh seorang punakawan atau pengiring. Berhadapan dengan Sadewa terlihatlah seorang tokoh wanita yaitu Dewi Durga yang juga disertai seorang punakawan. (Foto: Wikipedia)

Senggama Semesta di Gunung Kemukus dan Candi Sukuh Pemaknaan Teologi Pembebasan Lewat Legenda Asmara Suci (3)

Oleh: KRT Suryanto Sastroatmojo

c). Peristiwa berhasilnya Sang Garuda membebaskan ibundanya (Dewi Winata) dari perbudakan Sang Kadru. Kesaktian Sang Garuda diperoleh karena ia bisa memohon air suci Tirta Amerta Prawitasari dari Bathara Wishnu, dengan imbalan bersedia menjadi kendaraan dewa tersebut. Wisnu adalah dewa penyelamat dan pemelihara dunia. Di punggung patung Sang Garuda terdapat prasasti yang menandakan Tahun Saka 1363 atau 1441 Masehi. Tahun yang menunjukkan saat-saat dinasti Brawijaya V (Pamungkas) bersama para pengikutya meninggalkan ibukota Majapahit di Trowulan, dan menetap di Gunung Lawu (sebagai Sunan Lawu) secara tragis.

d). Prasasti lain yang terdapat pada relief-relief di dinding gunung buatan di arah barat serta pada sementara batuan yang bercorak megalitik. Suatu upaya bagi masyarakat Jawa pasca Majapahit yang telah menemukan jati diri sebagai “Wong Jawa Sejati” yang tidak lagi terpengaruh oleh seni bangunan dan falsafah India, kepingin mengaktualisasikan wawasan “Jawa sentrisme” ini. Maka Brawijaya lantas menggelari dirinya sebagai Ki Sukuh atau manusia yang telah menemukan “suku” (kaki sendiri atau berdikari), yang karenanya telah tidak terpengaruh lagim oleh nilai-nilai kebendaaan duniawi, yang semula memang diperlihatkan sebagai bagian dari kebudayaan elit bercorak India atau Hindu sentris. Ia sudah melakukan “outward looking” dari dunianya yang lama, dan menggali dasar sumur peradaban dan kebudayaan sendiri, yang dilukiskan lewat tiga buah patung bulus atau kura-kura yang terdapat di depan candi utama. Ketiga patung tersebut melambangkan “alam bawah” kehidupan, karma wibangga, bagi manusia Jawa.

 

Komunitas Asli Jawa

Konon, Prabu Brawijaya V sebelum hijrah ke kawasan  Tawangmangu (Sukuh), terlebih dahulu mengutas senopati agung Rahadyana Galuh Sigalanggang untuk membentuk komunitas asli Jawa pasca Majapahit, yang dihimpun di desa kecil sebelah timur Sragen sekarang, yakni desa Si Majapahit, Kecamatan Sambungmacan, Sragen.

Wajar bila Brawijaya lantas mengumpakan dirinya sebagai Sahadewa yang sukses setelah meruwat Dewi Durga, atau sebagai Garudeya alias Sang Garuda yang membebaskan ibundanya dari kungkungan Sang Kadru (lambang budaya Jawa-Hinduistis yang mulai ditampik oleh komunitas baru yang menciptakan orientasi baru dan kembali kepada corak arsitektur Jawa dan alam pikiran asli).

Sikap Brawijaya V ini erat pertaliannya dengan petilasan di desa Si Majapahit di atas, yang terlukis pada pada pundhen Galuh Sambirejo “Ring Gagaluh Manuhung Hawak Kasambi Radya” (karena kesetiaan Senapati Galuh yang kupercaya sebagai penerus juangku, maka kutitipkan desa dan masyarakat yang berasal dari keraton kerajaanku, agar menetap di desa Si Majapahit).

Pada waktu itu, dipahatlah sebuah prasasti (pada bukit cadas Candi Sukuh, berjudul “babajang mari mari sentra hanan bango” (maka siapa pun para anak manusia atau kawula muda yang ingin diruwat atau meruwat dirinya, datanglah untuk membebaskan dirimu dari nafsu-nafsu inderawi, seraya mandi di patirtan suci yang berisi Amerta ini). Mungkin, telaga ada di selatan Candi Sukuh. Prasasti “babajang” tersebut menunjukkan tahun Saka 1363 atau 1441 M. Jadi, saat pelarian asal Majapahit itu tiba.

e). Disamping adanya pertautan antara Candi Sukuh dengan petilasan tua di Gunung Kemukus itu, terlihat jelas, bagaimana kharisma raja-raja Majapahit yang mulai pudar pamornya oleh pemberontakan dan suksesi dari Demak atau Raden Patah itu, lantas kembali kepada fitrahnya, mawas diri dan back to basic. Kembali kepada nilai-nilai tradisional leluhur, suku Jawa asli. Kembalinya itu melalui upacara ruwatan yang berlangsung di situ. Setelah diruwat, mereka kembali menghimpun kelompoknya yang sudah “sehat sejahtera sebagai sediakala” atau “huwus cetha caitya calapita pracihna gati, nukmeng hayu-hayun sinedya“.

Pada waktu itulah komunitas itu mendirikan candi baru di arah tenggara, yakni apa yang dikenal sebagai Candi Cetha. Kenapa lantas kita kembalikan kepada pemaknaan tentang kesucian umat manusia yangtelah sadar akan jati diri? Karena inilah yang senantiasa dicari dan diperjuangkan leluhur kita dari masa ke masa. *** (Bersambung)

Lihat Juga

Tumpengan Pancasila, Sultan Lesehan Bersama Rakyat

Panitia Bersama Bulan Pancasila 2018 berencana menggelar acara kolosal dahar kembul bersama Ngarsa Dalem Sri …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *