Beranda » Peristiwa » Senggama Semesta di Gunung Kemukus dan Candi Sukuh Pemaknaan Teologi Pembebasan Lewat Legenda Asmara Suci (2)
Bangunan Utama Candi Sukuh (Foto: wikipedia)

Senggama Semesta di Gunung Kemukus dan Candi Sukuh Pemaknaan Teologi Pembebasan Lewat Legenda Asmara Suci (2)

Oleh: KRT Suryanto Sastroatmojo

Ki Ageng Jalasutra

ADA suatu petilasan kuno yang kurang lebih sama dengan itu, yakni petilasan makam Ki Ageng Jalasutra di Jalasutra, Piyungan, Yogyakarta, juga di Gunung Kawi, di kawasan Malang, dan Candi Sukuh di Karanganyar. Petilasan-petilasan ini sudah ada pada waktu agama Hindu dan Budha berkembang di Jawa dan merupakan lingkungan komunitas religius lokal.

Sebagai contoh perlu saya tegaskan, bahwa Jalasutra sendiri juga bermakna “samudera semesta”, yang berhasil menyatakan sifat-sifat hayati atau kehidupan semesta yang terangkum dalam puisi lahir batin. Pada waktu itu, jemaat-jemaat kaum beragama Budha sekte Tantrayana (Tantrik) melakukan ritus-ritus dalam Yoga-prana, di mana beberapa pola keibadahan dihayati seraya menyatukan ornamen fisik Mudra (patrap duduk dan sikap tangan) sewaktu sang Yogi mengambil tata letak Padmasana, melaksanakan samadhi (dyana) dan mencapai dimensi kesujudan tertinggi, pratyahara. Maka dirinya berusaha “moksha” yang berlangsung secara adikodrati, yakni menerobos inti jagad raya, rinegem sagegem dadi, gumolong manjing sawiji, anggyuh geyonging kayun, dumadya ndedel angratoni bawana tetelu (alam Janandaru,Jayandaru, Dewandaru), yang dalam pengertian spiritual disebut mencapai Jalasutra.

Pertemuan antara Pangeran Samodra dengan Dewi Antrawulan dapat ditafsirkan secara religi maknawi atau simbilistis. Yang dimaksud dengan Pangeran Samodra adalah prinsip Samodramantana atau lautan susu yang dikebur (diaduk) oleh para asura, dewa dan Sang Garuda, untuk menemukan Tirta Kamandanu yang jadi tujuan gumelering dumadi. Yang berhasil mengebur samudera susu tersebut adalah Bathara Wishnu bersama kendaraannya Sang Garuda. Mereka menyelamatkan dunia dari kepunahan dan bisa mengembalikan “azimat-azimat peradaban” di tengah jagad ini.

Dengan kata lain, Samodramantana juga identik dengan Jalasutra yang memiliki urgensi tempat budi daya gumelar. Sedangkan Dewi Andrawulan adalah salah ucap dari sistem kepercayaan dan pemujaan Tantrawulan atau Tantrasasi, yakni upacara pemujaan bersendikan keyakinan Tantri-Budhis, yang berlangsung ketika rembulan terang menjelang Hari Waisyak.

Saat itu, menurut kepercayaan ini, umat manusia dapat memperoleh enlightment (pencerahan) batin. Seperti halnya Dewa Wishnu beserta dua shakti pendampingnya, Dewi Sri dan Dewi Laksmi, dan kendaraannya Sang Garuda. Malahan juga dianggap berhasil menyatukan Sang Hyang Adi Budha Wairocana dengan shakti-nya Bathari Locana (Taraati).

Kesatupaduan tersebut berlangsung dalam upacara  Bhairawa-kasaktin (persenyawaan antar-ruang semesta) dan Saugata-parikrama (persetubuhan semesta), yang dilakukan oleh segenap anasir yang kumelik di dunia. Jadi, baik persenyawaan maupun persetubuhan yang dimaksud adalah sepenuhnya simbolika rohaniah, bukan inderawi-ragawi, bukan dalam pengertian tubuh kasar.

Mungkin masyarakat menafsirkan Bhairava-kasaktin dan Saugata-pari-krama itu sebagai peristiwa kemanusiaan biasa, bukan pemaksaan surgawi, sehingga mereka seolah-olah perlu memvisualkan dalam aktivitas hubungan seksual nan verbal itu.

Setelah agama Islam memasuki kawasan-kawasan di atas, upacara semacam itu masih tetap berlangsung, namun dengan ‘baju lain’. yakni dengan tafsiran lain. Masyarakat menganggap bahwasanya ikatan Illahiah (Al-Khalik) dengan Insan (mahluk, manusia) harus diperdekat lagi dengan satu pengejawantahan “perkawinan: empat hawa nafsu: Amarah, Luamah, Sufiah dan Mutmainah yang diperkuat  oleh satu esoterik: Mulhimah (Nimpunan Jati).

Aktifitas semacam itu seolah harus dilukiskan melalui upacara  Sujud Srokal alias Wiridan Mungkat, yang kita maklumi, adalah suatu rekayasa dari pinisepuh masa lalu di sana, yang sengaja menciptakan  suasana khusus untuk kepentingan politik tertentu. Seperti diketahui, setelah jatuhnya Majapahit, sekitar 1478 atau bahkan 1500-an, saat agama Hindu dan Budha mulai terkikis, dan agama Islam pelan-pelan merebak di Jawa, maka kkomunitas di Jalasutra, Sukuh dan Gunung Kemukus berupaya mempertahankan eksistensi diri dengan “melebur ritus relegius” dengan kemasan-kemasan baru yang menggelitik.

 

Dua Pertandaan

Ada dua buah pertandaan yang diwujudkan sebagai semacam prasasti di Candi Sukuh, yakni apa yang terungkap di bawah ini:

a). Pada buku Sttuterheim berjudul “Gids Oor de Oudheiden van Soekoeh en Tjeta (1915), di Candi Sukuh terdapat Candrasengkala memet, yakni tanda tahun yang dilukiskan lewat gambar berupa: Goh Wiku Anahut Buntut (Sapi raksasa yang menggigit ekornya sendiri), yang berarti Tahun Saka 1379 atau Tahun Masehi 1457, yang merupakan babak-babak Perang Paregrek di Majapahit, ketika Majapahit sudah dalam pemerintahan raja-raja Dinasti Girindrawardhana dari Daha (mulai Brawijaya VI-VIII), yang ketika itu kalau tidak salah era Prabu Hyang Wekasing Sukha.

b). Bahwa terdapat kalimat Suci Hing Prawitajati Mamalanya Hyang Gangga Suding (bahwa suasana telaga sekitar ini menunjukkan kesucian yang setara dengan Sungai Gangga yang disucikan oleh para pemeluknya), menunjukkan bahwa sekitar komplek altar pemujaan ini terdapat sungai yang suci, yang dipakai untuk bersiram sebelum para calon pendeta ditahbiskan dan memasuki gerbang Patirtan untuk untuk ikut serta dalam upacara utama. Namun Pawitra di punggung lembu menunjukkan Tahun Saka 1379 atau 1457 M tersebut. Besar kemungkinan para calon pendeta harus menjalani ruwatan yang khusus, sebagaimana kisah yang tergelar di komplek Candi Sukuh, yaitu ruwatan Bathari Durga oleh Raden Sahadewa dalam relief-relief sebelah barat, kemudian pernikahan Sahadewa dengan Dewi Pradapa. Setelah diruwat, Drga kembali menjadi Dewi Uma. Sedangkan Sahadewa lantas memperoleh gelar Prabu Sudamala. Namun Sahadewa hanya ingin menjadi pertapa saja di kawasan Parangalas, yaitu kawasan di mana Candi Sukuh berada. *** (Bersambung)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVI: Setiap Tahun di Dunia, Hutan Seluas Jawa Hilang

Prof. Dr. Ir. Cahyono Agus DK, MSc, Guru Besar Kehutanan UGM PADA kesempatan ini karena …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *