Beranda » Pendidikan » Sejak 1757, di Keraton Yogyakarta ada Sekolah Tamanan
Keraton Jogja tahun 1911 (Ft. sen1budaya.blogspot.co.id)

Sejak 1757, di Keraton Yogyakarta ada Sekolah Tamanan

SEJAK awal kemerdekaan hingga kini, Yogyakarta telah menyandang predikat sebagai Kota Pendidikan atau Kota Pelajar. Predikat itu memang layak disandang oleh Yogyakarta, mengingat Yogyakarta memang memiliki riwayat atau sejarah perjalanan dunia pendidikan yang panjang.

Jauh sebelum di Yogyakarta, atau di negeri ini ada lembaga-lembaga pendidikan formal, bahkan jauh sebelum lembaga pendidikan Taman Siswa berdiri di tahun 1922, di dalam istana atau Keraton Yogyakarta sudah terdapat lembaga pendidikan yang disebut “Sekolah Tamanan”.  Bangunan istana atau Keraton Yogyakarta didirikan pada tahun 1757 Masehi. Sejak bangunan istana itu berdiri, sejak itu pula di dalam Keraton sudah gedung sekolah yang dikenal dengan sebutan “Sekolah Tamanan”.

Jadi riwayat pendidikan di Yogyakarta sesungguhnya sama usianya dengan keberadaan Keraton Yogyakarta yang didirikan pada tahun Jawa 1682. Tahun berdirinya istana itu ditandai dengan sangkalan memet arca kayu dua ekor naga, Dwi Naga rasa wani (1682). Sangkalan memet itu dipasang di kanan dan kiri Regol Magangan Kidul.

`        Sejak awal berdirinya, Sekolah Tamanan sudah memiliki kurikulum pendidikan yang baik dan berkualitas dalam upaya mewujudkan generasi bangsa yang cerdas, berpengetahuan, dan cinta pada seni budaya bangsanya. Untuk masa itu, kurikulum pendidikan yang digunakan di Sekolah Tamanan memang sangat luar biasa. Kurikulum pendidikannya dibuat demi mewujudkan anak-anak bangsa yang berpendidikan, terampil, berjatidiri yang tangguh, berkepribadian, dan berbudaya tinggi.

Di dalam buku “Kota Jogjakarta 200 Tahun – 7 Oktober 1756 — 7 Oktober 1956” yang diterbitkan Panitya Peringatan Kota Jogjakarta 200 Tahun, tertera lengkap susunan kurikulum atau garis-garis besar susunan pelajaran Sekolah Tamanan tersebut. Secara garis besar terdapat tujuh mata pelajaran yang wajib dipelajari para siswanya.

Mata pelajaran yang diajarkan itu meliputi: Bahasa dan kesusastraan Jawa Baru dan Kawi; Sejarah Keraton-keraton di Tanah Jawa; Menyanyi (nembang); Tata Negara; Undang-undang Sepuluh; Hukum Perdata dan Hukum Pidana (Angger Pradata lan Angger Pidono); Mengaji.

Untuk mata pelajaran Menyanyi (nembang) dibagi dalam tiga bagian, yaitu Tembang Mocopat, Tembang Tengahan dan Tembang Gede (Sekar Kawi). Dan khusus untuk mata pelajaran Mengaji (Membaca), para siswa diwajibkan mengaji atau membaca Kitab Turutan; Alquran dengan tafsirnya; Hukum Agama Islam; Tradisi sejumlah upacara kerajaan sejak zaman Mataram hingga Kerajaan Ngayogyakarta (Adat naluri tuwin Tata Adating Keraton), yang berhubungan dengan agama; Prail; Perkawinan; Talak.

Para pengajarnya merupakan abdi dalem dari Keraton Yogyakarta sendiri. Pelajaran Bahasa dan Kesusastraan serta Sejarah Keraton-keraton diberikan oleh abdi dalem Reh Kawedanan Kapujanggan yang ketika itu diketuai Tumenggung Tambakboyo. Pelajaran Menyanyi atau Nembang diberikan oleh para pesinden abdi dalem Reh Kawedanan Reh Karawitan yang dipimpin Wedana Tjarang Soko. Kemudian pelajaran Undang-undang Sepuluh dan Hukum Perdata serta Hukum Pidana diberikan oleh  para abdi dalem  Jaksa dan Suragama dari abdi dalem Kawedanan Reh Pancaniti diketuai Tumenggung Sujanapura.

Sedang pelajaran Mengaji (Membaca) diberikan oleh abdi dalem Reh Kawedanan Kapangulon yang diketuai Kanjeng Kyai Penghulu Dipaningrat.

 

Ketentaraan dan Kebudayaan

Selain mata pelajaran inti tersebut, para siswa Sekolah Tamanan juga masih mendapat sepuluh mata pelajaran tambahan yang berhubungan dengan bidang ketentaraan, pertanian serta kebudayaan.

Pelajaran-pelajaran tambahan itu meliputi: Menari (tarian puteri); Menari (bermacam-macam tarian untuk para lelaki); Memilih dan menunggang kuda; Latihan berperang; Latihan melepaskan anak panas; Menatah dan menyungging wayang; Membuat dan melaras gamelan; Seni bangunan; Memelihara segala tanaman; Saluran pengairan dan bendungan.

Tapi sayang perjalanan Sekolah Tamanan ini hanya berlangsung sampai masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII saja. Tak diketahui secara pasti mengapa lembaga pendidikan yang berkualitas dalam mendidik para anak bangsa di masa itu lambat laun surut dan hilang. Mata-mata pelajaran yang sejak awal keberadaannya begitu berkualitas, lambat laun semakin berkurang.

Bahkan di akhir keberadaannya, tepatnya di masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, dari sekian banyak mata pelajaran yang ada, akhirnya hanya tinggal dua saja, yakni Membaca Huruf Jawa dan Mengaji Alquran. Tak jelas apa yang menyebabkan Sekolah Tamanan itu kemudian tidak beraktivitas lagi di masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVI: Ekonomi, Lingkungan dan Sumber Daya Alam

Diskusi Kebangsaan ke XVI, yang diselenggarakan Paguyuban Warta-wan Sepuh Yogyakarta (PWSY), mengambil tema ‘Green Economy …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *