Beranda » Pendidikan » MENYONGSONG DISKUSI KEBANGSAAN 17 PWS: Seandainya Pancasila sebagai Etika Berpolitik

MENYONGSONG DISKUSI KEBANGSAAN 17 PWS: Seandainya Pancasila sebagai Etika Berpolitik

GLOBALISASI berdampak buruk bagi negara yang belum berkembang. Tidak saja bagi perkembangan ekonomi, juga martabat kemanusian. Berlaku hukum rimba yang orang Jawa dahulu menyebut ; Asu gedhe menang kerahe. Artinya mereka yang kuat yang menang dalam persaingan, di bidang politik, ekonomi, perdagangan, teknologi, pendidikan perang dan lain sebagainya, bahkan juga sampai soal budaya.

Sama halnya di negeri ini yang besar dan  kuat menekan yang kecil dan terpinggirkan. Penindasan ini menjadi pemantik perpecahan dan kekerasan. Sungguh sangat ironi di negeri yang mendasarkan ideologinya pada Pancasila yang mengedepankan tenggang rasa. Ini bukan terjadi dengan sendirinya. Ada sesuatu yang salah dalam pendidikan di negeri ini.

Kalau elit politik bangsa ini sadar bahwa Pancasila menjadi way of live bangsa maka dalam menghadapi globalisasi ya juga dengan pegangan Pancasila. Bahkan Pendiri Bangsa menyatakan bahwa kalau Pancasila diperas menjadi Ekasila itu adalah Gotongroyong. Masih adakah sifat gotongroyong di elit politik. Ataukah sebaliknya saling membenci menyerang saling menjatuhkan. Partai oposisi pemerintah pekerjaan mencari kesalahan pemerintah. Romo Mangunwijaya Almarhum pernah mentakan kalau menjadi oposisi ya oposisi yang taat.

Diperlukan sifat dan sikap gotongroyong untuk menghadapi era globalisasi yang berefek buruk bagi nasionalisme. Dan itu hanya bisa ditangkal dengan Pancasila.

Dari Sila pertama Ketuhanan Yang Mahaesa bisa menjadi pegangan bahwa kebenaran sejati itu adalah kebenaran alam kuasa Tuhan YME. Bukan kebenaran menurut kekuasaan atau menurut yang kuat baik dalam posisi kekuasaan dan uang. Disusul Kemanusiaan yang adil dan beradab.  Artinya meletakkan semua manusia sama tanpa pandang bulu. Karena semu a ciptaan Tuhan yang diciptakan dengan baik. Oleh karena itulah perlu dihormati secara proporsional sebagai mana Sang Pencipta menghormatinya dengan memberikan Matahari dan bintang, hujan dan panas bagi siapa saja tanpa pandang bulu. Semua itu ditujukan bagi Persatuan Indonesia. Bahwa kita meski berbeda tetapi tercipta dalam dalam satu kesatuan yang disepakati bersama ketika republik ini dibentuk. Nah untuk mengatasi masalah yang timbul disodorkanlah Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Semua anggota masyarakat terwakili dan diputuskan secara bijak bukan secara voting dan menang menangan. Karena dasarnya adalah musyawarah bukan adu otot. Kalau sekarang yang terjadi one man one vote ini akan berakibat ada yang dikalahkan, ada yang sakit hati. Akibatnya bisa ditebak marah dan pecah. Kalau berkepanjangan menjadi preseden buruk bagi terbentuknya masyarakat yang aman dan tenteram.

Nah yang terakhir semua ditujukan bagi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tentu ini bukan hal mudah. Perlu proses panjang agar bangsa yang terdiri dari 700 an suku bangsa dan ribuan pulau ini terjamah oleh perhatian pemerintah. Hal itu dilaksanakan agar kesejahteraan bangsa ini bisa terbagi adil dari Sabang sampai Merake dari Miangas sampai Pulau Rote. Pada prinsipnya Pancasila adalah rangkuman budaya Indonesia.

Leluhur Jawa mengungkap: ajining raga saka busana, ajining dhiri saka kawedaling lathi, ajining bangsa saka budaya.  Martabat manusia terletak pada busana, cara bicara, sementara martabat bangsa terletak pada budaya. Sedang, ajining budaya gumantung ana ing basa? Harkat budaya pada bahasa? Kalau bahasa daerah semakin tidak diminati, bagaimanakah akibatnya. Oleh karena perlu campur tangan pemerintah untuk mengembangkan bahasa dan budaya lokal.

Globalisasi membuat budaya murni dikemas dalam rekayasa bisnis. Akibatnya budaya-budaya adiluhung bergeser bobot pertunjukkannya. Kualitas tuntunan dan tatanan tergeser kualitas tontonan demi memenuhi kebutuhan mata.  Padahal budaya yang sesungguhnya, sebuah pantulan keindahan terwujudnya hubungan  harmonis manusia dengan Penciptanya dan manusia dengan alam serta manusia dengan sesamanya.

Kita prihatin  bahasa daerah kurang mendapatkan tempat di hati masyarakat. Entah mengapa hal itu bisa terjadi. Bisa jadi imbas dari perubahan Sumpah Pemuda demi kepentingan kapitalistik.  Kita berharap bahasa ibu di masing-masing daerah bisa hidup agar local-local wisdom kembali menyinari suku-suku yang berkembang dengan dinamis demi menopang keberagaman dan kebhinekaan di Bumi Indonesia.

Drs Sugeng Wiyono Al, penggiat budaya Jawa, tinggal di Bangunjiwa Kasihan Bantul

Lihat Juga

Dr. Handrawan Nadesul: Di Indonesia, Pendidikan Safety First Kurang Mendapat Perhatian

BERITA seorang remaja 18 tahun tewas karena terjatuh dari tebing di Pantai Balangan Uluwatu, Bali, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *