Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Sastra » Puisi Kebangsaan » Puisi Ragil Suwarna Pragolapati
Ragil Suwarna Pragolapati (ft. Ist)

Puisi Ragil Suwarna Pragolapati

YOGYA, SELAMAT MALAM

Dan akhirnya pulang kembali aku, kini
Mengetuk pintu, tepat pada jantungmu
Sibuk tercengang berpaling-palingt sendiri
Di tempat-tempat hangat serupa dahulu

Taman kota menerimaku sarat udara kesunyian
Trotoar masih juga deretan buku-buku loakan
Jalan raya pada jam-jam santai diskusi seniman
Tanpa seorang pun. Tiada kutemukan
sapa panggilan
Hanya jajaran panjang pohon tanjung dan asam
bergoyang pelan. Diam, ramah menegurkan
salam.

Sudahlah! Padamu saja kuserahkan diriku ini
Sepulang kembara jauh. Menghabiskan puluhan hari
Lengkap sudah agenda, peristiwa dan buah tangan
: Bau-bau perjalanan. Beribu-ribu kenangan
: peluh dan debu. Segala kejadian dan catatan
: Keletihan dan rindu, pada rongga terdalam
: Memori dan manfaat, buat hidup masa depan.

Udaramu, Yogya, setiap waktu semenjak dahulu
Terus menghidupiku. Selalu jadi nafas
paru-paruku
kanan-kiri. Jadi, sekarang terimalah semua rindu
dendam sunyiku. Beserta gelisah ini kembali
Adapun kekosongan berbaur ketenteraman hati
Adalah tiap ayun kakiku tiada henti-henti
Malam ini. Menjelajahi kota, membajak dingin
Menjaring berita dan peristiwa, lewat angin.

Yogyakarta, 1970-1980

 

MARI KE

Mari ke gunung. Tinggalkan kamar pengap,
rumah gelap
yang mengurung.
Lepas dari dunia sehari-hari akrab
Gudang beban dan kesulitan selama ini bengis
menyekap
Tinggalkan dataran rendah pemukiman.
Mengakrabi cakrawala
Menghirup udara terbuka.
Menghisap Prana, tenaga Semesta
Jangan kalah merdeka dan bahagia katimbang
margasatwa
Alam adalah ibu kita.
Mata air beribu-juta tenaga raksasa.

Mari ke laut. Dataran rendah ke mana segala
Sunyi bermuara
Tinggalkan hulu ketenangan. Dataran tinggi
kesombongan hati
Menyaksikan ombak-ombak berdentur
Gairah hidup penuh misteri
Karib berkawan matahari.
Percintaan semesta yang amat abadi
Segala-gala di gunung,
atau busur angkasa atas kita.

Di pelosok benua dan udara,
kabut dan mega-mega
Mengalir bermuara ke Samudera.
Simpanan berjuta tenaga
Alam raya. Hidup nafas,
serap segala kekuatan rahasia
Daya gerak raksasa dari sana.
Masha dahsyat di mana-mana.

Simak juga:  Puisi Adri Darmadji Woko

Mari ke gunung, ke laut. Kembali ke ibu kita:
Alam terbuka
Setiap kali Dunia Mikro, diri kita,
kehilangan spektra
Alam Raya ibunda manusia, bentangan Semesta
selengkapnya
Bukan kemiskinan kamar sempit, atau
kemewahan rumah kota
Sebab hakekat Kebahagiaan adalah jalinan amat
rahasia
Dalam Rohani manusia,
hal ihwal di luar panca-indera
Antara Alam Kecil pada diri sendiri,
masing-masing kita
Dengan Alam Besar pada Semesta Raya, selalu
diancam binasa
Bilamana masing-masing pihak hilang
hubungan, sirna spektra.

Mari ke Alam terbuka. Mari ke Alam Dalam:
diri sendiri
Menyempurnakan keabadian Sukma.
Rahasia gaib setiap Surga
Berlepas-bebas dari kungkungan jasmani,
penjara dunia fana
Neraka indah,
yang penuh gairah dan semarak tipu-daya.

Yogyakarta, 1975-1981

 

Catatan:

DUA puisi karya penyair Yogyakarta kelahiran Pati, 22 Januari 1948, Ragil Suwarna Pragolapati, kali ini hadir di rubrik Puisi-puisi Kebangsaan. Kedua puisi ini terhimpun di dalam buku kumpulan puisinya “Sang Matahari” (bersama Ahmadun Y Herfanda), yang diterbitkan Penerbit Nusa Indah, Ende-Flores, tahun 1984.

Ragil Suwarna Pragolapati pada tanggal 5 Maret 1968 bersama Umbu Landu Paranggi, Iman Budhi Santosa, dan Teguh Ranusastra Asmara mendirikan Persada Studi Klub (PSK), yang di masa itu merupakan wadah persemaian para penyair muda di Yogyakarta. Karya-karya puisinya terhimpun sejumlah antologi puisi. Penerima penghargaan seni dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, selain menulis puisi, juga menulis karya sastra lainnya seperti cerpen dam novel.

Bila Anda ingin berpartisipasi, silakan kirim karya puisi-puisi “Kebangsaan” tersebut ke sutirmaneka@gmail.com. Kami tunggu. Tabik.  (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi

Antologi puisi yang diberi judul ‘Kepundan Kasih’, bukan hanya berisi puisi, tetapi juga berisi karya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.