Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Sastra » Puisi Kebangsaan » Puisi Norham Abdul Wahab
Norham Abdul Wahab (ft. Ist)

Puisi Norham Abdul Wahab

PENGAYUH SEPEDA UNTA
: soekarno

          akulah pengayuh sepeda unta
          keliling kampung, menjaja kata
          keliling kampung, menjaja cinta

          bukan pada pandang yang kejora
          wajah merah, mataku nan marah

          bukan pada senyum yang purnama
          tulang putih, penatku nan tatih

          akulah pengayuh sepeda unta
          keliling kota, menghasut takut
          keliling kota, membakar tekar

          bukan geram atau raung kematian
          tapi rindu, pungguk meluk bulan

          bukan kebencian atau kemurkaan
          tapi cinta, merdeka dari jajahan

          kini, lampuku telah padam
          pijarnya terbunuh dendam
          suluhnya direnggut kelam

          kini, matahariku telah tenggelam
          tikam panggangnya diambil malam
          tengkah kompangnya terbungkam

          sepeda unta pun tak dipakai lagi
          lelah dan istirah di rumah sejarah
          tontonan wisatawan berselfie riah

          sepeda unta pun tak dipakai lagi
          bersalin wajah menjadi mercy
          menabrak rerambu sesuka hati

          oh, akulah si pengayuh sepeda unta
          keliling negeri, memungut airmata

 

                      Mboro, 2017

RAJA KECIK MENAHAN SEDAN
: kafz

          dikau yang doa
          kala embun masih rimbun

          dikau yang bunga
          kala embun di ujung daun

          dikau yang menyanyi menari
          kala embun telah pergi

          cengkok lagumu menelikung liku
          di dawai gambus yang memupus
          mencakar matahari yang membakar

          langkah zapinmu berhitung ganjil
          di tengkah marwas yang ganas
          menerjang siang yang panggang

          di degilmu, sejarah terdedah
          di nakalmu, marwah terbelah

          bukan aku cemaskan waktu
          namun zuriat disinggah malu
          bukan aku menangis sesegukan
          namun raja kecik menahan sedan

          dengung lebah yang berhumban
          tak berbisa di resahmu yang luka

          sengat tembuan yang berdatangan
          tak bergigit di risaumu yang langit

          masih adakah kebenaran yang kau
          surukkan?

          tumpahkanlah ke panci hatiku
          akan kujerang di tungku senyuman

 

                      Mboro, 2017

 

RIAU BUKAN TEXAS
 : aris

          riau bukan texas

          tak ada penghalang wajah di kepala
          hanya sorban dan tanjak yang terletak

          namun, badan jadi tegak cegak bagak
          menantang matahari dengan besar hati

          riau bukan texas, katamu
          yang suka memeras bumi bawa pergi
          yang menebuk hati anak-anak negeri

          riau bukan texas, kataku
          yang mencincang kemaluan ibu-ibu
          dengan parang tumpul tak bermalu

          riau bukan texas

          tak ada pistol sarung kulit di pinggang
          hanya kain tenun sarung terselempang

          namun, marwah jadi terbilang, bersinar
          cemerlang negeri yang gilang gemilang

          riau bukan texas, kata kita
          menyambut tamu, wajah tersenyum madu
          halaman sepenuh hamparan karpet rindu

          walau airmata terus menyimbah cinta
          jenazah, berkabar tentang duka bunda

          riau bukan texas, kata mereka
          datang dengan sejuta senyum bunga
          ucap salam, tanpa sembunyi geram
          membaca kalam tanpa simpan dendam

          riau bukan texas

          tak ada ringkik kuda terpekik di malam hari
          pun alunan banjo dan harmonika lupa irama

          adalah mihrab yang hening, sunyi bunyi
          di sini
          di riau
          bukan texas
          berhias airmata di sajadah tua yang cinta

 

                      Mboro, 2017

 

                     

Catatan:       

Puisi Kebangsaan kali ini menghadirkan tiga puisi karya penyair Norham Abdul Wahab. Ketiga judul puisi tersebut terhimpun di dalam buku kumpulan puisinya “Preman Simpang“, yang diterbitkan TareSI Publisher, Jakarta, 2018.

Norham Abdul Wahab lahir di Bengkalis, Riau. Setelah menyelesaikan kuliah di Ilmu Sastra FIB UGM pada pertengahan tahun 1990-an lalu, ia pulang ke daerah kelahirannya. Ia kemudian berkiprah selama beberapa tahun di Harian “Riau Pos” dan menjadi penanggungjawab halaman budaya “Sagang”. Di bawah asuhannya, halaman budaya “Riau Pos” itu telah memunculkan banyak nama cerpenis dan penyair terkemuka di Riau, di antaranya  Husnizar Hood, Ramon Damora, Syaukani Alkarim, Hang Kafawi, Murparsaulian.

Tapi kemudian dia meninggalkan hiruk-pikuk dunia kewartawanan, dan kini aktif di jalan dakwah, sambil menjalankan sejumlah usaha perniagaan. Kini ia lebih banyak menghabiskan waktu di sebuah desa kecil tidak jauh dari Gunung  Lawu, Desa Temboro, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, bersama istri dan ketiga anaknya.

Simaklah puisi-puisi ini dengan seksama, dan kebeningan hati. Maka akan terlihat bagaimana Norham Abdul Wahab mengungkapkan rasa kecintaan, perhatian dan rasa kepeduliannya yang besar terhadap bangsa dan negara ini. Simaklah bagaimana ia mencoba menyentuh rasa kebangsaan kita melalui puisi-puisinya. Ia mengungkapkannya semua dengan kerendahan hati. Bukan dengan teriakan-teriakan nyaring, tapi tak bermakna.

          Selamat menikmati! *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi

Antologi puisi yang diberi judul ‘Kepundan Kasih’, bukan hanya berisi puisi, tetapi juga berisi karya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *