Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XV: Praktik Sosial di Negara Pancasila

Diskusi Kebangsaan XV: Praktik Sosial di Negara Pancasila

Indonesia sebagai negara kesatuan memiliki Pancasila, dan diletakkan menjadi dasar negara. Sebagai nega-ra kesatuan yang terdiri banyak wilayah dan beragam suku, serta jenis keyakinan berbeda dan agama yag tidak sama, Pancasila menjadi landasan hubungan sosial antar ke-lompok sosial dan antar agama di Indonesia. Namun kita tahu, Pancasila bukan agama, dan tidak bisa diletak-kan lebih tinggi dari agama.

Diskusi seri Kebangsaan, yang dise-lenggarakan Paguyuban Wartawan Sepuh memasuki edisi 15 mengambil topik ‘Beragama di Negara Pancasila’, diselenggarakan 4 Mei 2018 di Joglo Cangkir, Jalan Bintaran Tengah 16, Yogyakarta dengan menghadirkan narasumber: Idham Samawi, anggota DPR RI., Romo Aloys Budi Purnomo Pr. SS. M.Th. Lic.Th., Ketua Komisi Hak Keuskupan Agung Semarang (KAS), dan KH. Muhamamad Jazir. ASP., tokoh agama.

Berbincang soal beragama di negara Pancasila, sesungguhnya kita sedang mencoba menghayati praktik sosial di negara Pancasila, atau kalau dalam istilah Abdurrahman Wahid, disebut sebagai ‘Agama dan Demokrasi’ seperti yang pernah dia tulis dalam buku yang berjudul ‘Agama dan Aspi-rasi Masyarakat’, yang menyajikan beragam tulisan dari para tokoh agama. Dalam tulisannya tersebut Gus Dur, panggilan dari Abdurrahman Wahid, di antaranya mengatakan:

“Para pemimpin gerakan agama silih berganti memperjuangkan kemer-dekaan bangsa dari penjajahan dan kemudian memperjuangkan demokrasi, ketika sistem pemerintahan semakin lama menjadi semakin otoriter.Berbagai kegiatan dikembangkan di kalangan agama untuk merintis, di tingkat paling bawah, penumbuhan masyarakat yang demokratis. Dari mulai masalah kebebasan berpendapat dan berserikat hingga masalah pence-maran lingkungan secara masif, ge-rakan agama langsung terlibat dalam upaya penegakan demokrasi. Banyak lembaga keagamaan berkiprah untuk meneliti dan mengkaji asal-usul sistem pemerintahan yang tidak sepenuhnya demokratik yang secara eufemistik disebut ‘demokrasi Pancasila’, yang menjadi pola hidup bangsa Indonesia saat ini. Tidak kurang pula banyaknya lembaga atau kelompok keagamaan yang langsung menerapkan pola-pola demokratis dalam program-program rintisan mereka di bidang pengembangan masyarakat (community development)”

 

Pancasila dan Keberagaman

Ketiga narasumber, dalam hal ini Idham Samawi, Muhammad Jazir dan Aloys Budi Purnomo Pr., yang memiliki latar belakang berbeda, teta-pi ketiganya mempunyai perspektif yang sama, bahwa Pancasila sebagai dasar negara mewadahi keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia. Bahwa bangsa kita, yang terdiri dari banyak pulau dan etnis, suku dan agama, tetapi masing-masing tidak saling memisahkan, justru sebaliknya, semua mengikat menjadi satu. Dengan demikian, setidaknya seperti kata ketiga pembicara, Pancasila menyatukan perbedaan dengan menghormati perbedaan itu sendiri.

Di sisi yang lain, melihat perkem-bangan generasi muda saat ini, yang telah memiliki fasilitas teknologis, Yazir agak gelisah, karena anak muda tidak lagi mengenal lagu Garuda Pancasila, yang dulu sering diperde-ngarkan.

“Bahkan ketika saya makan malam di Malioboro, dan datang seorang pengamen, saya minta lagu Garuda Pancasila, mereka tidak bisa melagukannya, padahal lagu-lagu lain, termasuk lagu dari Perancis bisa mereka alunkan dengan fasik” ujar Jazir.

Kelihatannya apa yang disampaikan oleh Jazir adalah hal yang elementer, tetapi dalam konteks nasionalisme kita perlu mempertanyakan semangat nasioanlisme dari kalangan generasi muda. Kita tahu, melalui fasilitas digital generasi muda bisa membuka ruang-ruang relasi yang lebih luas, bahkan bisa tak terbatas, namun seringkali melupakan dasar dari nasioanalisme, yang tak lain adalah dasar negara kita, dalam hal ini Pancasila.

Budi Purnomo mempunyai penga-laman lain menyangkut menanamkan kebersamaan lintas iman, setidaknya pernah dilakukan untuk anak-anak beberapa tahun lalu pasca erupsi Merapi. Budi, demikian panggilan Romo Budi Purnomo, melibatkan anak-anak lintas agama, untuk mena-nam pohon.

“Kita mulai dari anak-anak, membangun kerukunan dalam hidup beragama di negeri Pancasila dengan peduli ekologi. Kita pernah melakukan ketika pasca erupsi Merapi sekian tahun yang lalu dengan menanam lebih banyak pohon di bekas daerah-daerah erupsi Merapi” kata Budi Purnomo.

Idham Samawi melihat keragaman yang dimiliki bangsa kita merupakan satu kekuatan untuk bersatu. Di negara lain, perbedaan bisa menjadi sumber kehancuran. Padahal negeri kita jauh lebih beragam dari negara-negara yang kacau karena adanya perbedaan di negaranya.

“Negara kita dibangun dari 600 suku bangsa, lebih dari 600 budaya, lebih dari 600 bahasa, nanti 17 Agustus 2018, usia kemerdekaan kita genap 73 tahun, masih utuh dari Sabang–Merauke, Miangas–Pulau Rote. Karena apa, paling tidak, saya yakin, mungkin kita semua mempunyai keyakinan yang sama, karena kita memilik Ketuhanan YME, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” kata Idham Samawi.

Beragama di Negara Pancasila, tema Diskusi Kebangsaan ini menyiratkan hubungan antar manusia di negara Pancasila. Negara yang penuh keberagaman. Hubungan antar manusia di tengah nilai-nilai Pancasila tidak membedakan satu yang lainnya, masing-masing ditempatkan dalam posisi yang sama. Semua bisa diajak duduk berdialog, tanpa melihat latar belakang yang dimiliki. Setidaknya seperti apa yang dikatakan YB. Mangunwijaya, seorang pastur sekaligus sastrawan dalam tulisannya yang berjudul ‘Pergeseran Titik Berat Dari Keagamaan Ke Religiositas”. Kata Romo Mangun, panggilan dari YB. Mangunwijaya:

“…perubahan kebijakan Gereja Katolik Roma sesudah Perang Dunia II yang mengakhiri era kolonial imperial Barat sangat ditandai oleh sikap ekumenik, merangkul dalam suasana dialog semua agama dan kepercayaan, bahkan merangkul kaum ateis dan marxis juga. Bukan karena ajaran kaum ateis atau komunis marxis dibenarkan, akan tetapi Gereja ingin melihat mereka lebih sebagai MANUSIA yang juga harus disayangi dan diajak berdialog”

Lebih lanjut, YB. Mangunwijaya, atau akrab dipanggil Romo Mangun menuturkan:

“Apalagi sahabat-sahabat sekepercayaan kepada Yesus, kaum Protestan yang lebih indah dan tepat disebut kaum Reformasi, orang-orang beragama Yahudi dan Islam, yang sama-sama berakar pada Nabi Ibrahim dan Nabi Musa. Namun juga terhadap kawan-kawan Hindu, Budha, dan kepercayaan-kepercayaan lain yang banyak itu. Sebab, betapa pun berlainan jalan dan cara yang mereka tempuh dari apa yang dikerjakan oleh kaum Katolik, namun mereka tetap adalah manusia yang sama-sama punya kerinduan dan dambaan dasar yang sama, mencari Tuhan Yang Mahaagung sekaligus Mahahadir di dalam diri kita yang paling intim, merindukan dunia yang berkeadilan sosial; kehidupan antar manusia dan bangsa yang tidak saling membunuh dan menjegal tetapi saling menolong dalam sikap saling memahami, menghargai dan berbelas kasih; yang ingin kuat dalam penegakan nilai-nilai moral, yang mendambakan kemerdekaan sejati dan tidak terbelenggu oleh segala bentuk eksploitasi, dalam satu tata-dunia yang adil dan penuh perdamaian.”

Meskipun Indonesia bukan negara agama, namun agama sangatlah penting di negara ini, apalagi memiliki Pancasila, dan sila pertama memberi ruang sepenuhnya bagi agama, yang dipeluk oleh setiap warganya. Hidup bersama dalam perbedaan, saling menjaga dan menghormati merupakan bentuk praktik sosial dari beragama di negara Pancasila. Prof. K.H. Ali Yafie dalam bukunya berjudul ‘Teologi Sosial: Telaah Kritis Persoalan Agama dan Kemanusiaan’, terutama pada tulisan yang berjudul ‘Pengembangan Kehidupan Beragama’ di antaranya mengatakan:

“…Republik Indonesia bukan nega-ra agama, tetapi juga bukan negara sekuler. Di Republik yang berdasarkan Pancasila agama menempati keduduk-an yang terhormat dan fungsi yang penting. Ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari konstitusi negara. Maka tidaklah berlebihan jika kita mengatakan bahwa kedudukan agama di negara ini adalah konstitusional, dan kehidupan agama di negara kita adalah bagian mutlak dari kehidupan bernegara dan berbangsa”. (Ons Untoro)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XV: Bangsa Ini Harus Banting Stir Kembali ke Pancasila

KH Muhammad Jazir ASP, Takmir Masjid Jogokariyan Yogyakarta ALHAMDULILLAH, meskipun terlambat, karena masih banyak tugas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *