Beranda » Humaniora » Polisi, Jadi ‘Korban Harapan’ Masyarakat
Ketika Polwan sedang membacakan puisi dalam perhelatan "Bersastra di Hari Bhayangkara" di Kampung Edukasi Watu Lumbung, Kretek, Bantul. (ft. Ist)

Polisi, Jadi ‘Korban Harapan’ Masyarakat

JULI tahun ini Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) genap berusia 72 tahun. Tepatnya Polri atau Bhayangkara Negara itu dilahirkan pada 1 Juli 1946. Dan, peringatan usia ke-72 tahun itu pun dirayakan dengan hikmat dan semarak oleh semua jajaran Kepolisian. Berbagai acara dan kegiatan diselenggarakan demi mengenang, merenungi dan juga mensyukuri perjalanan serta perjuangan Polri dalam membangun eksistensi dirinya sebagai aparat penjaga keamanan negara, sekaligus pengayom masyarakat.

Di Daerah Istimewa  Yogyakarta (DIY) misalnya, Polda DIY menyelanggarakan acara “Bersastra di Hari Bhayangkara”. Acara yang berlangsung pada Minggu, 1 Juli 2018, di Kampung Edukasi Watu Lumbung, Kretek, Bantul, itu diisi dengan pembacaan puisi oleh Kapolda DIY, Brigjen Pol Drs H Ahmad Dhofiri, dan 72 Polwan, serta sejumlah seniman dan penyair. Sepertinya, ini baru pertama kali diselenggarakan, HUT Polri dirayakan dengan serangkaian pembacaan puisi.

Di peringatan hari kelahirannya, setiap anggota Polri memang layak bergembira. Walau berbagai persoalan dan tantangan masih saja menghadang langkah Polri dalam membangun eksistensi dirinya, tetapi kegembiraan setiap anggotanya memang tak boleh hilang. Karena kegembiraan itu akan semakin membuat semangatnya dalam mengemban tugas-tugas mulia Polri tetap membara. Tetap berkobar. Dan tak pernah padam.

Di dalam UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia disebutkan jelas bahwa tugas pokok Polri adalah memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, dan memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat.

Tetapi haruslah diakui, melaksanakan semua tugas-tugas mulia itu bukanlah hal yang mudah bagi Polri. Bahkan, tugas mulia itu seringkali pula mempertaruhkan nyawa. Dari dulu hingga kini, tantangan serta hambatan selalu saja menghadang langkah Polri dalam melaksanakan kerja profesionalitasnya. Tantangan itu di antaranya, semakin bringas dan brutalnya perilaku para penjahat. Dan, dalam beberapa tahun terakhir ini, tantangan itu ditambah lagi dengan kebringasan para pelaku aksi teror atau teroris, yang kini menjadikan polisi atau anggota Polri sebagai target sasaran aksi. Kalau mau menghitung, tentu tak sedikit jumlah anggota polisi yang tewas dalam tugas, akibat kebrutalan para pelaku kejahatan, juga pelaku aksi teror.

Dalam sejumlah peristiwa, tak sedikit pelaku kejahatan yang berani melawan, menganiaya bahkan membunuh polisi, sebagai aparat petugas keamanan. Berita polisi tewas di tangan penjahat, dan teroris, sudah berulangkali muncul di media massa. Masih terbilang baru misalnya, tewasnya lima polisi dalam aksi kerusuhan para narapidana teroris pada Selasa malam, 8 Mei 2018 lalu di Mako Brimob Kepala Dua, Depok. Dua hari kemudian, 10 Mei 2018, disusul seorang lagi anggota polisi tewas ditikam pelaku aksi teror, di depan Mako Brimob. Kemudian disusul di tewasnya seorang polisi lagi di Pekanbaru, Riau, oleh aksi teroris juga.

Perjuangan dan pengorbanan anggota polisi atau Polri dalam mengemban tugas-tugas mulia sebagaimana yang diamanatkan oleh UU Nomor 2 Tahun 2002 tersebut tak perlu diragukan. Jajaran Polri sudah berusaha sekuat daya melakukan kerja yang maksimal. Hasil positifnya pun sudah kita lihat selama ini. Tapi seberapa besar sikap pandang masyarakat terhadap perjuangan, pengorbanan dan keberhasilan Polri dalam melaksanakan tugas-tugas mulianya itu? Seberapa besar pula pujian dan rasa kekaguman itu diberikan kepada kerelaan polisi untuk berkorban demi terwujudnya keamanan serta ketertiban?

 

Korban Harapan

Diakui atau tidak, yang masih saja sering terlihat di kalangan masyarakat luas adalah lebih besar atau dominannya sikap sinisme dibanding pujian dan rasa kekaguman. Mengapa hal semacam itu terjadi? Persoalannya tentu tak akan pernah lepas dari keterlanjuran sikap pandang masyarakat yang masih saja menanamkan kesan betapa ‘tidak manis’nya citra polisi selama ini.

‘Tak manis’nya citra polisi itu dikarenakan masih belum mampunya jajaran Polri memenuhi harapan yang terlanjur besar dari masyarakat. Polisi memang terlanjur memikul beban berat di pundaknya. Sebagai penegak hukum atau law enforcement agency, polisi juga menyandang tugas sebagai pemelihra ketertiban (maintenance order function), lalu bertanggungjawab terhadap ketenteraman dan kedamaian masyarakat (peace keeping of ficials), disamping menjadi pelayan atau ‘hamba’ masyarakat (public sevant).

Melihat ragam tugas polisi seperti itu, masyarakat pun kemudian menaruh harapan besar agar polisi benar-benar tampil sebagai pelindung dan pengayom yang mumpuni. Tetapi kenyataannya masyarakat masih saja sulit melupakan ulah dan perilaku yang menyakitkan dari ‘oknum polisi’, sekalipun itu sudah terjadi beberapa waktu lalu. Misalnya, perilaku ‘oknum polisi’ yang menyakiti hati warga masyarakat yang seharusnya dilindungi dan diayomi dengan bersikap sebagai ‘penguasa’ dan bertindak sewenang-wenang. Seperti, main gampar dan paksa terhadap tersangka pelaku kejahatan yang seharusnya hak-haknya dilindungi dengan azas praduga tak bersalah.

Padahal tak jarang terjadi, tersangka yang sudah terlanjur merasakan betapa pedihnya diperlakukan secara keras dan kasar itu akhirnya dibebaskan Hakim karena tak terbukti melakukan tindak kejahatan. Lebih fatal lagi, ada tersangka atau tahanan yang tewas akibat ‘oknum polisi’ yang memeriksanya tak mampu mengendalikan diri. Bukankah kasus tahanan tewas akibat kerasnya pemeriksaan ‘oknum polisi’ sudah sering terjadi? Dan, dulu sempat pula muncul beberapa kasus tahanan perempuan yang diperlukan tidak senonoh oleh ‘oknum polisi’.

Syukurlah dalam beberapa tahun terakhir ini ‘kisah-kisah menyakitkan’ seperti itu sudah jarang terjadi. Akan tetapi kesan ‘tak manis’nya citra polisi itu masih saja tertanam di hati sebagian masyarakat. Polri sudah berusaha dan berjuang keras membangun imej baru yang jauh lebih baik dibanding dulu, tapi kesan yang terlanjur tertanam itu tidak begitu saja mudah terhapus.

Sesungguhnya, kasus-kasus yang tak menguntungkan bagi citra polisi itu amatlah kecil jumlahnya bila dibandingkan dengan kerja keras dan keberhasilan dalam menegakkan hukum serta Kamtibmas. Tetapi seperti kata pepatah “karena nila setitik, rusak gulai sebelanga“, maka demikianlah balada yang sering menimpa polisi. Dan, balada itu menjadi semakin memedihkan, karena gaung cercaan seakan lebih nyaring dibanding manisnya pujian. Dengan kata lain, polisi sering didera cercaan, tapi miskin pujian.

Cobalah cermati, ketika ada peristiwa polisi yang tewas akibat kebrutalan penjahat yang akan diringkusnya, betapa ‘lemah’nya suara pujian, rasa kagum atau dukacita itu terdengar. Kasus tewasnya sejumlah anggota polisi dalam kerusuhan narapidana teroris di Mako Brimob Kelapa Dua Mei lalu misalnya, suara-suara simpati dan pujian hanya muncul dalam waktu relatif tak lama. Seperti sesaat saja.

Peristiwa itu pun tak berkembang menjadi pembicaraan yang hangat dan ramai. Seakan-akan pengorbanan anggota-anggota polisi yang mempertaruhkan keselamatan jiwa dan nyawanya itu bukanlah suatu peristiwa yang menarik untuk dibicarakan. Tragis memang!

Akan beda halnya, bila ada tahanan tewas akibat siksaan, atau seseorang telah menjadi korban kesewenang-wenangan ‘oknum polisi’, atau seseorang jadi korban salah tangkap dan semacamnya yang lain, termasuk pula ketika ada terduga teroris tewas karena ditembak saat penyergapan, maka cercaan pun begitu nyaring terdengar, dan gaungnya sampai ke mana-mana. Bahkan peristiwa-peristiwa semacam itu dengan cepat berkembang menjadi isu atau bahan pembicaraan yang hangat di tengah-tengah masyarakat.

 

Membangun Simpati

Kondisi memprihatinkan seperti itu memang sangat disadari oleh para pimpinan teras Polri. Untuk menanggulanginya, pimpinan Polri telah menempuh berbagai langkah yang pada dasarnya bermuara pada keinginan untuk menaikkan citra polisi di mata masyarakat menjadi lebih positif. Langkah-langkah itu di antaranya melakukan pembenahan, pembinaan serta penataan yang semuanya  mengarah pada peningkatan kualitas seluruh anggota Polri.

Langkah membangun diri itu sesungguhnya tak pernah berhenti dilakukan Polri. Di tahun 1991 misalnya, Kapolri kala itu, Letjen Pol Drs Kunarto mengingatkan kepada segenap anggota Polri untuk wajib membangun simpati masyarakat. Simpati itu dibangun dengan tidak bersikap sebagai penguasa, tetapi dengan pendekatan kasih sayang yang jujur dan ikhlas. Karena menurutnya, sekali polisi menyakiti hati masyarakat, maka momen kemitraan itu sulit diraih kembali.

Apa yang dinyatakan Letjen Pol Drs Kunarto, yang Kapolri di kala itu, memang merupakan langkah paling bijak dalam upaya membenahi citra polisi. Sebab, bila keinginan itu benar-benar mampu diwujudkan oleh segenap anggota Polri, sikap sinisme yang dimiliki sebagian masyarakat kan berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Dan, polisi akan tampil menjadi sosok petugas pelindung dan pengayom masyarakat yang ideal.

Keinginan Kapolri di tahun 1991 itu, tampak jelas dilanjutkan oleh Kapolri-kapolri berikutnya. Dan, sekarang Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian terlihat jelas semakin menggalakkan usaha-usaha untuk membangun simpati masyarakat tersebut. Berbagai cara dan langkah telah dilakukan. Dan, salah satu langkah untuk membangun simpati masyarakat dan kemitraan yang luas dengan masyarakat di antaranya seperti yang dilaksanakan Polda DIY pada tanggal 1 Juli 2018, yakni menyelenggarakan acara “Bersastra di Hari Bhayangkara”.

Menjadi polisi yang didambakan masyarakat itu bukanlah pekerjaan mudah. Masalahnya, seberapa jauh Polri mampu mewujudkan pendekatan kasih sayang yang jujur dan ikhlas, serta meninggalkan cara-cara kerja yang tidak membangun simpati masyarakat. Bila pendekatan kasih sayang itu tak terwujud dan simpati masyarakat tidak kunjung terbangun, maka Polri akan semakin kedodoran dalam membangun dirinya sebagai sosok penegak hukum yang ideal dan didambakan.

Dalam pelaksanaan tugas-tugasnya, simpati masyarakat itu dapat dibangun atau dibangkitkan apabila segenap anggota Polri mampu menjiwai serta menghayati makna dan jiwa UU Nomor 2 Tahun 2002 tetang Polri, maupun Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Bila makna dan jiwa UU Nomor 2 Tahun 2002 serta KUHAP itu benar-benar dijiwai dan dihayati oleh segenap anggota Polri, tentunya tak akan pernah terdengar ada tersangka atau terdakwa yang di depan sidang pengadilan mengaku telah dianiaya, disiksa atau diperlakukan sewenang-wenang ketika diperiksa. Dan, tak akan pernah pula terdengar ada tersangka atau tahanan yang tewas karena kerasnya cara pemeriksaan.

Hal ini sudah dapat dipastikan akan dapat membangun simpati masyarakat untuk menanamkan kesan bahwa polisi benar-benar pengayom dan pelindung masyarakat. Kesan semacam ini akan mengubah citra polisi, sehingga tak lagi “karya cercaan tapi miskin pujian”, tetapi menjadi sebaliknya.

 

Profesional

Cara kerja yang profesional merupakan salah satu langkah yang harus ditempuh Polri bila ingin memperbaiki diri. Apalagi, sebagai aparat penegak hukum yang banyak berhubungan dengan kepentingan masyarakat, Polri memiliki tugas dan fungsi yang berat. Tugas-tugas berat itu akan mengalami banyak hambatan bila polisi tidak memiliki cara kerja atau sikap profesionalisme.

Di samping cara kerja yang profesional, Polri juga harus memiliki sarana dan prasarana memadai. Tanpa dukungan sarana dan prasarana yang memadai, polisi tidak akan mampu berbuat maksimal dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Sikap profesional itu akan terwujud bila Polri mampu meningkatkan kualitas dirinya. Peningkatan kualitas itu perlu demi mewujudkan sosok polisi yang bila di lapangan mampu menunjukkan kemampuan serta keterampilan teknis dan taktik Kepolisian yang benar. Tak hanya kemampuan serta keterampilan teknis di lapangan, tapi polisi juga dituntut memiliki penampilan fisik yang simpatik. Misalnya, simpatik dan menarik, penuh senyum dan selalu mengutamakan pendekatan kasih sayang yang jujur dan ikhlas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Dengan berbagai langkah seperti itu, diharapkan polisi tidak lagi miskin pujian, tapi akan kaya pujian. Dan, simpati pun akan bermunculan bila ada polisi yang mengalami musibah dalam melaksanakan tugas. Serta kekaguman pun akan muncul di mana-mana bila ada polisi yang berhasil melaksanakan tugasnya dalam menanggulangi berbagai tindak kejahatan.

Dirgahayu Polri! Semoga di usia yang ke-72 ini, wajah polisi benar-benar cerah dan cemerlang di mata masyarakat. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Pameran Tunggal William Robert di Tembi Rumah Budaya

Sebanyak 19 buah karya terbaru dari seniman yang menetap di Jakarta ini akan ditampilkan dalam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *