Beranda » Humaniora » Diskusi Kebangsaan XIV: Perempuan–Perempuan Tangguh

Diskusi Kebangsaan XIV: Perempuan–Perempuan Tangguh

Setiap tahun bertepatan tanggal 21 April bangsa Indonesia memperingati HARI KARTINI. Lahir pada 21 April 1879 atau tanggal 28 Rabiulakhir tahun Jawa 1808 di Mayong Kabupaten Jepara.Hari kelahiran Raden Ajeng Kartini kemudian dinobatkan sebagai hari perjuangan emansipasi kaum perempuan. Semasa kecil hidup bebas penuh ceria, sekolah Belanda di Jepara dimana ayahnya menjabat Bupati. Menginjak usia 12 tahun Kartini di-pingit. Tidak diperbolehkan bergaul lagi dengan teman sebaya sewaktu masih kecil. Hidup dalam keluarga bangsawan yang sangat feodal. Ter-kungkung tradisi yang ketat. Sang ayah menginginkan si anak tumbuh sebagaimana layaknya perempuan pada masa itu. Kalau sudah besar menikah, melayani sang suami dan menjadi ibu bagi anak-anaknya. Atau dijodohkan dengan seorang lelaki bila belum punya teman lelaki idaman. Kondisi seperti inilah yang tidak berkenan di hati RA Kartini. Diam-diam dengan caranya sendiri RA Kartini melakukan perlawanan. Memberontak pada hal-hal yang mengekangnya. Tentu dengan cara halus. Menjalin persahabatan dengan orang luar kadipaten untuk saling sharing pemikiran ke arah kemajuan bagi kaum perempuan. Di antaranya korespondensi dengan Ny Abendanon yang tinggal di negeri Belanda. Berjuang melepaskan kaum perempuan dari belenggu keterbelakangan. Perjuangan yang sungguh tidak mudah saat itu. Bahkan boleh dikatakan mustahil. Karena berhadapan dengan tembok tradisi yang sangat kokoh. Mampukah RA Kartini merobohkan tembok tersebut?

Masa itu sudah berlangsung ratusan tahun silam. Berkat perjuangan RA Kartini yang gigih dengan kesabaran yang tinggi, tembok penghalang itupun akhirnya jebol. Emansipasi kaum perempuan berhasil diwujudkan. Sekarang dimanifestasikan dengan istilah kesetaraan jender. ”Habis Gelap Terbitlah Terang” seperti yang ditulis Armijn Pane dalam bukunya mengisahkan bagaimana Kartini berjuang membebaskan kungkungan tradisi atas dunia perempuan.

 

Presiden perempuan

Bila saat ini kita menyaksikan banyak kalangan perempuan mendu-duki jabatan tinggi di pemerintahan,  di lingkungan TNI dan POLRI, bergelar Profesor bahkan menjabat Rektor perguruan tinggi dstnya. Semua itu merupakan hasil manis dari perjuangan panjang RA Kartini. Ia ditakdirkan untuk mengangkat harkat kaum perempuan. Kita pernah memiliki Presiden perempuan. Be-berapa Menteri juga dari kalangan perempuan. Meski demikian, menurut para pakar sosial dan politik, ratio perbandingan antara pejabat laki-laki dibandingkan perempuan belum seim-bang. Kaum lelaki masih dominan memegang kendali di berbagai sektor. Selalu ada pertimbangan bernada sumbang, apakah kaum perempuan mampu menjalankan tugas yang biasanya disandang kaum lelaki?

Perempuan-perempuan tangguh seperti Menteri Keuangan Sri Mulya-ni, Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti,Walikota Surabaya Tri Rismaharini adalah beberapa contoh tokoh perempuan yang sudah memperoleh pengakuan internasioal. Menteri Keuangan Sri Mulyani dinobatkan sebagai Menteri Keuangan terbaik tingkat dunia. Begitu pula Menteri Susi Pudjiastuti mendapat penghargaan dari PBB karena keberhasilannya melindungi kelestarian laut. Sementara Walikota Tri Rismaharini berhasil mengajak warga Surabaya berpartisipasi menja-dikan kota Surabaya bersih, tertib dan tertata apik.

Melihat sepak terjang ketiga tokoh perempuan di atas, apakah masih ada yang menyangsikan kemampuan perempuan Indonesia? Yang belum tentu mampu diraih oleh kaum lelaki. Masih ada beberapa pos Menteri Kabinet Kerja yang dijabat perempuan seperti: Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Kesehatan Prof. Dr Nila Moeloek, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Perlindungan Anak dan Perempuan Johana Yambise, Menteri BUMN Rini Sumarno. Memang kita akui, dan tidak menutup mata terhadap adanya beberapa tokoh perempuan yang karirnya berhenti di penjara. Ada Gubernur perempuan yang korupsi, Bupati yang korupsi, anggota parlemen yang korupsi, aparat penegak hukum perempuan yang korupsi. Mereka ini kini sudah menjadi penghuni lapas. Ke depan kita harapkan, perempuan yang ternoda seperti ini tidak terulang lagi. Minimal semakin berkurang. Perilaku amoral tersebut bisa merusak citra kaum perempuan.

Seandainya tidak terlahir yang namanya RA Kartini, kita tidak tahu bagaimana nasib kaum perempuan? Mungkin masih terbelenggu dalam tradisi yang selalu merendahkan derajat perempuan. Terima kasih IBU KITA KARTINI!

Berkaitan dengan peringatan Hari Kartini, Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta menyelenggarakan Diskusi Kebangsaan ke-XIV dengan tema : “Perempuan Pelestari Pancasila”. Diskusi terbuka untuk umum ini digelar di Pendopo Hotel Sri Wedari Yogya dengan nara sumber : Drs HM Idham Samawi (Anggota DPR/MPR RI), Prof. Dr. Ir. Sari Bahagiarti K. MSc (Rektor UPN Veteran Yogya) dan Dr Ning Rintiswati MKes (Ketua STIKES Wira Husada Yogya).

Menghadapi perkembangan di semua aspek kehidupan dalam era milenial ini, semua kita ini sudah semestinya mengup-date kemampuan kita dalam menghadapi tantangan yang semakin berat. Suka atau tidak suka kita harus menghadapi kenyataan dunia semakin terbuka dan saling mempengaruhi. Jangan sampai kita dijajah lagi karena kita tidak mau belajar dari kekurangan yang ada pada diri kita. Semogalah!

 

Oka Kusumayudha

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVI: Ekonomi, Lingkungan dan Sumber Daya Alam

Diskusi Kebangsaan ke XVI, yang diselenggarakan Paguyuban Warta-wan Sepuh Yogyakarta (PWSY), mengambil tema ‘Green Economy …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *