Beranda » Humaniora » Diskusi Kebangsaan XIV: Perempuan Pelestari Pancasila

Diskusi Kebangsaan XIV: Perempuan Pelestari Pancasila

It’s hard to be a WOMAN
You have to think like a man,
Act like a Lady
Look like A Young Girl,
And work like a horse
 
(HCY, 210415)

Momentum peringatan Hari Kartini 21 April 2018 dimanfaatkan oleh Pagu-yuban Wartawan Sepuh (Perwara Wredhatama) sebagai Tema Diskusi Kebangsaan seri ke-14 dengan judul “Perempuan Pelestari Pancasila”. Kajian ini menggugah kembali nilai-nilai kejuangan kaum perempuan sesuai dengan zamannya. Nara sumber yang dipilih sesuai dengan tuntutan zaman kekinian, yaitu Drs. H.M. Idham Samawi (anggota DPR/MPR-RI), Prof. Dr Ir. Sari Bahagiarti Kusumayuda, M.Sc. (Rektor UPNV Yogyakarta), dan Dr. Ning Rinteswati, M.Kes. (Ketua STIKES Wira Husada/Dosen FKKMK-UGM). Pemaparan nilai-nilai Pancasila oleh H.M. Idham Samawi dielaborasi dari tujuan negara seperti tertuang dalam alinea IV Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Kesimpulannya adalah, bahwa sesuai dengan posisi dan peran, perempuan Indonesia harus memiliki karakter cerdas, berwatak mulia, dan berkepribadian Indonesia. Selanjutnya digambarkan bahwa laki-laki dan perempuan ibarat gepak sayap burung Garuda, kiri dan kanan harus seimbang sama kuatnya dan kompak ketika difungsikan. Salah satu sayap cidera menjadi tidak bermakna dalam menjalani kehidupannya.

Paparan Dr. Ning Rintiswati menyo-roti peran ganda perempuan, antara ibu rumah tangga dan perempuan bekerja. Inti pembicaraannya adalah bahwa perempuan dalam menjalankan peran gandanya memiliki misi pemba-ngunan karakter (carracter building), baik ketika berada di rumah maupun ketika bekerja. Perjuangan pergerakan kaum perempuan sedikit demi sedi-kit telah mencapai hasil, misalnya kedudukan perempuan dalam jabatan-jabatan publik, kesetaraan pendapatan, dan akses-akses pekerjaan publik.

Adapun Prof. Dr. Ir. Sari Bahagiarti K., M.Sc. memilih tema “Perempuan, Pancasila di Era Disrupsi” dengan mengacu pada kesetaraan gender. Di antara fase-fase Revolusi Industri yang terjadi di dunia, sejak fase I ditandai penemuan mesin uap (1783), fase II ditandai dengan penemuan tenaga listrik, fase III dengan kemajuan Teknologi Informasi dan Komputer/elektronika, dan saat ini Revolusi Industri sudah memasuki fase IV (Industri 4.0, sekitar tahun 2015). Pada fase ini kekuatan Internet telah merambah bidang jasa, perbankan, konveksi, pendidikan, percetakan, perdagangan, hiburan dan sebagainya. Pemanfaatannya melalui digital sangat luas (Utami, Tribun, 14 April 2018: 5). Tidak terkecuali pemanfaatan internet oleh kaum perempuan. Sehingga, dengan kemajuan teknologi ini kaum perempuan semakin memiliki sarana yang dapat mempermudah meraih cita-cita sesuai dengan kemampuan dan keahliannya. Era disrupsi yang memiliki karakter cepat, terus menerus, dan tidak menentu menuntut peran perempuan untuk aktif, kreatif, dan inovatif.

 

KARTINI SEBAGAI SUMBER INSPIRASI PEREMPUAN INDONESIA

R.A. Kartini yang lahir pada 21 April 1879 telah menjadi peletak dasar nilai-nilai emansipasi perempuan sehingga menjadi inspirasi bagi kaum perempuan Indonesia sejak kemerdekaan Indonesia hingga kini. Lingkungan keluarga R.M. Ario Sosrodiningrat, ayahanda R.A. Kartini memang termasuk berfikiran maju kala itu. R.M. Panji Sosrokartono (1877 – 1952), kakak R.A. Kartini adalah warga pribumi pertama yang bersekolah di luar Hindia-Belanda, yaitu di Leiden, Negeri Belanda. Tokoh ini dikenal cerdas dan menguasai 27 bahasa asing dan 10 bahasa nusantara. Selain itu ia juga berparas cakep sehigga sering dipanggil “de mooie sos” (sos yang ganteng).Oleh orang-orang barat (Eropa dan Amerika) ia dipanggil secara hormat dengan “de javanese prins” (pangeran Jawa), sedangkan orang pribumi cukup memanggilnya Kartono saja. Berkat kepandaiannya pada 1917 dia menjadi wartawan Koran New York Herald, cabang Eropa yang meliput peristiwa Perang Dunia I. Pada 1919 – 1921 ia menjadi penerjemah tunggal di LBB/PBB. Kisah panjang pangeran Kartono ini bahkan juga menjadi penyembuh orang sakit, termasuk orang-orang Eropa setelah ia bermukim di Bandung. Sekalipun dia berstatus sebagai kepala sekolah, tetapi hampir tidak dipedulikan oleh para guru hingga kini. Demikian pula, sebagai wartawan internasional yang karyanya menakjubkan karena dapat meliput secara eksklusif perundingan rahasia antara German dan Prancis, tetapi organisasi wartawan juga belum memberikan perhatian cukup memadai. Oleh karena itu pada nisan makamnya dituliskan kalimat “sugih tanpa banda – digdaya tanpa aji”.

Berkaitan dengan R.A. Kartini yang populer dengan tulisannya “door duisternis tot lich” yang diterjemahkan menjadi Habis Galap Terbitlah Terang, niscaya telah menjadi “pencerah” bagi kaum perempuan Indonesia. Buku kumpulan surat-surat Kartini ini telah beberapa kali diterjemahkan oleh para sastrawan Indonesia dan disalin ke dalam berbagai bahasa di dunia. Selain kehidupan dan perjuangannya di bidang pendidikan (untuk semua), juga banyak kisah tentang pernak-pernik kehidupan sosial budaya lainnya, termasuk sebagai wartawan majalah Bijdrage TLV dan De Echo dengan menggunakan nama samaran ‘Tiga Saudara’. (Meutia, KR, 21/4/18, hlm. 7). Hal lain yang perlu diketengahkan tentang Kartini adalah kegelisahannya untuk ingin tahu tentang isi Kitab Suci Al Quran. Oleh karena itu, ada seorang peneliti yang bahkan menganggap tulisan yang termuat dalam Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” berasal dari ayat-ayat suci Al Quran. Anggapan itu terdapat dalam kisah ketika R.A. Kartini bertemu/berguru kepada Kyai Saleh Darat (K.H. Muhammad Sholeh bin Umar), yang kemudian menuliskan suratnya kepada Stella (6 November 1899): “Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya. Al Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Di sini tidak ada yang mengerti bahasa Arab. Orang-orang di sini belajar membaca Al Quran tapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak mengerti apa yang dibacanya”. Dialog antara R.A. Kartini dengan Kyai Saleh Darat tentang tafsir Al Fatihah itulah menjadi pengalaman spiritual Kartini yang oleh para ahli dianggap sebagai inspirasi tulisan-tulisannya yang terkumpul dalam buku itu. Pada akhirnya, Kyai Saleh Darat bersedia memenuhi permintaan R.A. Kartini untuk menerjemahkan Al Quran dalam bahasa Jawa dalam sebuah buku berjudul Faidhur Rahman Fit Tafsir Quran, jilid pertama terdiri 13 juz, mulai surat Al Fatihah hingga surat Ibrahim. Buku itu kemudian dihadiahkan kepada R.A. Kartini saat menikah dengan R.M. Joyodiningrat, Bupati Rembang. Konon kata “Habis Gelap Terbitlah Terang” diterjemahkan dari firman Allah “..minazh-zhulumaati ilan-nuur …” (dari kegelapan-kegelapan [kekufuran] menuju cahaya [Islam]).

Berdasarkan kenyataan itu maka pengalaman spiritual R.A. Kartini di atas dapat dianggap sebagai nilai-nilai religio-spiritualitas yang terkait dengan sila-sila Pancasila, khususnya sesuai dengan alinea IV Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi ”… yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksa-nakan ketertiban dunia yang berdasar kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka … ”. Selanjutnya menjadi pekerjaan rumah bagi para ustadz/ustadzah, para kyai dan guru agama (Islam) kapan sebenarnya tafsir Al Quran itu dimulai bagi masyarakat pemeluknya, khususnya di Jawa. Jangan-jangan semangat Kartini ini menjadi tonggak sejarah tafsir Al Quran di pulau Jawa.

Selamat Hari Kartini 2018. (*)

Dr. Djoko Dwiyanto, M.Hum
Ketua Dewan Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta

 

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVI: Setiap Tahun di Dunia, Hutan Seluas Jawa Hilang

Prof. Dr. Ir. Cahyono Agus DK, MSc, Guru Besar Kehutanan UGM PADA kesempatan ini karena …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *