Beranda » Humaniora » Diskusi Kebangsaan XIV: Perempuan, Pancasila, dan Era Disrupsi
Prof. Dr. Sari Bahagiarti K, MSc (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan XIV: Perempuan, Pancasila, dan Era Disrupsi

Prof. Dr. Sari Bahagiarti K, MSc, Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta

IZINKAN saya menyampaikan apa yang ada di benak saya, terkait dengan kegiatan diskusi kebangsaan ini, yang saya beri judul “Perempuan, Pancasila, dan Era Disrupsi”. Bicara tentang perempuan, maka banyak predikat yang diberikan kepadanya, antara lain sebagai sosok yang melahir-kan keturunan, sebagai sosok yang merawat dan membesarkan generasi penerus, sebagai pengelola rumah tangga, kemudian sebagai ibu. Ia akan berperan sebagai sosok yang pertama kali menanamkan nilai-nilai agama, budaya, moral, kemanusiaan, budi pekerti, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Meskipun masih dalam tataran basic.

Kemudian sebagai insan, seorang perempuan biasanya bersemangat, aktif, kreatif, bermoral dan bervisi. Kemudian selanjutnya, perempuan juga bisa sebagai pekerja dalam usaha keluarga dan sebagai pemeran kontemporer lainnya. Perempuan bisa merupakan sosok yang berperan dalam bidang-bidang yang ada di dalam masyarakat, seperti misalnya pertanian, kemudian rekayasa, sosial, politik, budaya, ekonomi, dan sebagainya. Dan hal ini sudah tidak bisa kita pungkiri lagi. Tadi sudah disampaikan, bahwa di Indo-nesia, kata-kata emansipasi sudah ketinggalan. Itu sudah masa lalu. Di Indonesia orang sudah tidak mempermasalahkan lagi apakah dia laki-laki atau perempuan, sepanjang dia memiliki kapasitas, maka dia berhak atas posisi tersebut.

Namun demikian, pada kenyataan-nya, perempuan sampai saat ini mungkin karena dirinya sendiri yang tidak pede dan sebagainya, perempuan masih merupakan sumber daya yang belum termanfaatkan secara optimal di negara ini. Karena kadang-kadang dari kurang pedeannya atau warisan budaya yang selama ini kita menganut pola patriarki, itu belum bisa dikikis sama sekali. Meskipun sebenarnya secara langsung maupun tidak langsung perempuan mempunyai kontribusi dan andil yang cukup besar, terhadap pembangunan bangsa dan negara.

Tentang perempuan ini saya kutipkan dari beberapa pendapat, misalnya yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW bahwa perem-puan itu adalah tiang negara. Apabila perempuan baik maka baiklah negara, dan apabila perempuan itu tidak baik atau rusak maka rusaklah negara tersebut. Demikian juga kutipan yang saya ambil dari Sarinah, disampaikan oleh Bung Karno yang mengatakan, laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayap seekor burung, dalam hal ini adalah burung garuda yang kepakannya harus seimbang, agar dia bisa terbang setinggi-tingginya. Kalau salah satu patah, maka burung tersebut mungkin tidak akan bisa terbang tinggi.

Beralih kepada Pancasila, di mana Pancasila di negara kita adalah sebagai dasar negara, sebagai pandangan hidup bangsa, sebagai kepribadian bangsa, sebagai ideologi negara, sebagai sumber dari segala sumber hukum, dan sebagainya. Pancasila sebagai dasar negara ini merupakan landasan untuk berbagai penyelenggaraan negara, misalnya untuk menata negara yang merdeka, dan berdaulat dan seterusnya. Kemudian Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, di dalamnya termuat nilai-nilai. Nilai-nilai tentang ketuhanan, nilai tentang kemanusiaan, tentang persatuan, tentang demokrasi, tentang keadilan sosial, yang itu sebenarnya bukan merupakan urut-urutan tetapi kelima-limanya adalah menjadi satu-kesatuan.

Sebagai kepribadian bangsa, Pancasila merupakan jiwa bangsa lahir bersamaan dengan bangsa itu sendiri. Dia merupakan kristalisasi dari nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa tersebut. Dan ini akan merupakan ciri khas bangsa Indonesia, yang membe-dakan Indonesia dari bangsa-bangsa lainnya yang ada di dunia. Sumber dari segala sumber hukum.

Nah, sebagai ideologi negara, Pancasila pernah beberapa kali diuji eksistensinya. Misalnya tentang pengkhiatan PKI tahun 1948 yang dikenal dengan pemberontakan Madiun. Kemudian Gerakan DI TII tahun 1953 atau yang lebih dikenal dengan sebutan NII, Negara Islam Indonesia, kemudian pada tanggal 30 September 1965, G30S. Kemudian ujian yang lain adalah dari ISIS dengan konsep sistem khilafahnya. Dan beberapa kelompok masyarakat anti keberagaman terhadap etnis tertentu, agama tertentu, suku tertentu hingga pada pilihan politik tertentu pula. Ini adalah ujian-ujian yang pernah dialami oleh Pancasila. Saat ini pun Pancasila sebenarnya tengah diuji. Apakah ujian itu, apakah kita menyadarinya? Yaitu revolusi industri ke-4.

 

Revolusi Industri ke-4

Dunia ini pernah mengalami bebe-rapa kali revolusi industri. Revolusi industri pertama terjadi sekitar tahun 1800-an, di mana revolusi industri tersebut ditandai dengan penemuan mesin uap, yang kemudian mendorong terbangunnya teknologi-teknologi berbasis mesin uap, seperti halnya kereta api uap, kapal uap dan sebagainya. Kemudian revolusi industri kedua terjadi sekitar abad ke-20, tahun 1900-an, ditandai dengan penemuan listrik dan assembly yang kemudian penemuan ini meningkatkan produksi barang. Selanjutnya adalah revolusi industri ke-3 ditandai dengan munculnya atau maraknya inovasi atau teknologi informasi berbasis komputer. Dan, yang ke-4 adalah revolusi industri yang terjadi sejak 2015-an yaitu revolusi industri ditandai dengan pemanfaatan digital dan data yang masif.

Inilah wajah kegiatan ekonomi dunia saat ini. Saat ini berbagai macam kebutuhan manusia menggunakan dukungan internet dan dunia digital untuk berinteraksi. Kalau dahulu kita mau membeli sepatu, membeli pakaian itu harus pergi ke mal, ke Matahari, sekarang tidak perlu lagi, kita cukup menghadapi gadget, komputer, laptop, ataupun smartphone, untuk bertransaksi membeli barang yang kita inginkan. Kita ingin membeli makanan tidak perlu lagi payah-payah cari taksi ke rumah makan tertentu, sekarang ada go-food. Kita mau cari taksi ada taksi online. Mau cari ojek ada ojek online, dan semuanya bisa kita lakukan hanya dengan menggunakan smartphone saja.

Inilah era revolusi industri ke-4 yang sekarang sedang sama-sama kita alami. Dulu transaksi dengan bank harus datang ke kantor bank tersebut. Sekarang tidak perlu lagi. Di hape kita sudah ada aplikasinya. Berita kita tidak perlu lagi beli koran. Cukup baca dari internet pun bisa, ini juga merupakan tantangan tersendiri bagi teman-teman wartawan yang bekerja di media-media cetak.

Ada beberapa industri besar yang sekarang sedang menghadapi tantangan besar bahkan ada yang kolaps. Ada Seven Eleven, kemudian ada “Matahari” yang sekarang juga sedang gonjang-ganjing, dan lain-lain, dan itu digantikan oleh blibli.com, bukalapak.com, tokopedia dan sebagainya. Dan kalau kita lihat, aset mereka, itu jauh melebihi dari aset industri-industri yang tadi sudah saya sampaikan.

Duapuluh tahun yang lalu, mung-kin kita belum atau tidak memba-yangkan akan adanya facebook, youtube, dan sebagainya, yang sekarang merupakan gejala yang sangat mendunia, dan dikenal oleh generasi baik dari generasi tua maupun generasi muda sekalipun. Dulu kita mengenal adanya kodak. Hape kalau tidak Nokia rasanya tak bergengsi. Kemudian blackberry, tapi sekarang ke mana mereka, digantikan dengan smartphone-smartphone buatan China yang demikian murah tetapi canggih. Lha, itulah kenyataan yang kita alami pada saat ini. Revolusi industri ke-4 ini merupakan era baru yang memanfaatkan digital. Jadi era baru industrialisasi digital. Itu merupakan ancaman sekaligus peluang tersendiri. Jadi kita harus pandai-pandai bagai-mana menyikapinya.

 

Era Disrupsi

Di era disrupsi teknologi industri ini, maka sebagian besar, tenaga ma-nusia digantikan oleh tenaga digital, tenaga mesin, tenaga robot. Tentu saja hal ini merupakan ancaman tersendiri yang sebaiknya kita sadari bersama. Sifat daripada revolusi industri ke-4 ini adalah disrupsi, yaitu berubah secara terus-menerus, secara cepat, tidak menentu dan sulit diprediksi. Inilah ciri-ciri dari era disrupsi. Banyak hal yang digantikan, misalnya hal-hal yang bersifat fisik itu digantikan secara virtual, kemudian tenaga manusia digantikan dengan tenaga otomatis, atau robotik, dan sebagainya.

Ini adalah statistik yang menunjuk-kan bahwa aset yang dimiliki oleh grab, go-jek itu melebihi asetnya Garuda Indonesia dan Blue Bird. Ini data yang tidak bisa dipungkiri. Pada kenyataannya, bahwa perbandingan biaya yang timbul dari kegiatan yang menggunakan pola manual dengan otomatisasi itu jauh sekali. Pola yang menggunakan kegiatan manual, itu memerlukan biaya yang jauh lebih dibandingkan dengan yang otomatisasi. Ini juga merupakan salah satu pertimbangan kenapa kemudian digitalisasi itu menjadi begitu penting.

Era disrupsi tentu saja memiliki sisi positif dan sisi negatif. Sisi positifnya, antara lain serba cepat, serba murah, serba mudah, serba praktis, lebih efisien. Sementara sisi negatifnya, antara lain, informasi tanpa penyaring atau penapis dapat disalahgunakan untuk kejahatan, penyebar berita bohong, misalnya. Penebar kebencian, penyebar pornografi, dan lai-lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Hal semacam ini sangat umum terjadi di antara kita. Kita duduk bersama tapi masing-masing asyik dengan smartphone-nya sendiri-sendiri. Di ruang keluarga bapak membawa hape, ibu membawa hape, anak-anak main komputer, semua duduk di satu ruang, anteng tetapi tidak saling berkomunikasi, mereka berkomunikasi dengan gadgetnya masing-masing. Ini sudah tidak dipungkiri lagi. Apakah ini sesuatu ancaman? Iya. Tantangan, iya. Maka bagaimana kita menyikapinya.

Data menunjukkan bahwa dari total populasi penduduk Indonesia yang 260 juta lebih itu, pengguna internet kurang lebih 51%, pengguna medsos itu 40%, kemudian pemilik hape, hape yang ada itu 142%. Jadi lebih dari 100%. Jadi kalau penduduk Indonesia itu 260 juta, hape yang ada di Indonesia itu itu lebih dari 262 juta. Bukan main.

Ya mangga, ini menjadi renungan kita bersama. Kemudian pengguna smartphone ya, sosial media ya kurang lebih 35%. Itu kemudian grafik yang di bawah menunjukkan penggunaan medsos, internet berdasarkan usia. Usia yang paling banyak memanfa-atkan teknologi digital adalah usia remaja.

Kemudian bagaimana dengan Indonesia? Ada yang meramalkan dalam tanda kutip Indonesia akan runtuh di tahun 2030. Di sisi lain ada yang meramalkan pula Indonesia akan mencapai jaman keemasannya di tahun 2045. Nah, kita mau menuju yang mana, tentu saja semuanya ter-gantung dari kita semua dari mulai saat ini.

Untuk mencapai Indonesia emas 2045 tentu banyak tahapan-tahapan yang harus kita lalui. Kita harus mulai investasi dari sekarang. Investasi yang paling baik, adalah melalui pendidikan. Kita didik generasi muda kita, kita siapkan generasi muda kita, untuk kelak pada saatnya mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin Indonesia yang benar-benar dapat dihandalkan sesuai kapasitasnya dan tidak melupakan nilai-nilai yang ada di Pancasila sebagai ideologi negara kita.

Iya kita perlu melakukan konstruksi identitas yang tentu saja harus di-landasi oleh Pancasila. Identitas budaya, identitas sosial dan identitas kepribadian. Meskipun demikian, untuk menghadapi era disrupsi ini semua pihak, termasuk perempuan harus berubah menjadi kreatif dan inovatif. Karena kalau tidak, kita akan terlindas oleh perkembangan zaman.

Kita harus berinovasi, kalau tidak kita akan terlindas oleh zaman. Seperti pesan Pak Presiden, Pak Jokowi, terobosan-terobosan besar harus diciptakan di bidang pengembangan SDM. Jadi beliau sangat menggaris-bawahi pengembangan SDM. Kita sebagai perempuan punya andil besar dalam pengembangan SDM. Dimulai dari rumah tangga kita. Kita harus inovatif, bergerak cepat dan tanggap terhadap perubahan zaman. Jangan terjebak pada rutinititas. Ini pesannya Pak Jokowi. Harus berubah.

Bagaimana perempuan di era disrupsi? Saya kira sangat dituntut untuk dapat beradaptasi, kemudian agar tidak selalu terbelenggu dalam rutinitas rumah tangga, tapi tidak hanyut dalam perubahan. Kata-kata hanyut ini mempunyai konotasi kita pasif, hanya ikut secara pasif, kita harus aktif. Kemudian agar mampu memberdayakan potensi dirinya mewujudkan kebutuhan akan prestasi, mengaktualisasikan motivasi intelektualnya, dan seterusnya. Ini bedanya perempuan zaman dulu dan sekarang.

Pancasila di era disrupsi tentunya menghadapi banyak tantangan. Maka ia harus terjaga mengakar kuat di hati masyarakat. Pancasila harus selalu hadir di seluruh peri kehidupan bangsa, harus tercermin dalam ketauladanan para pemimpinnya, termasuk pemimpin rumah tangga, pemimpin lembaga, pemimpin organisasi kemasyarakatan, adat, keagamaan, dan sebagainya. Pancasila harus tetap menjadi tolok ukur dan tujuan pembangunan karakter generasi muda dan Pancasila harus dapat men-jadi pemersatu bangsa.

Perempuan bagaimana berperan? Antara lain harus tetap bisa menanam-kan nilai-nilai agar Pancasila tetap mengakar dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari keluarga, lingkungan sekitar dan masyarakat yang lebih luas dan seterusnya.

Sebagai kesimpulan, perempuan merupakan sosok sangat potensial, berkonstribusi dalam pembangunan bangsa. Pancasila menghadapi tan-tangan berat di era disrupsi, kemudian era disrupsi atau revolusi industri ini pada dasarnya memiliki dua sisi, yaitu positif dan negatif, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Selan-jutnya, konstruksi identitas Pancasila diperlukan oleh bangsa ini. Dan perempuan akan mampu mengawal bangsa Indonesia memasuki era disrupsi menuju Indonesia emas, karena perempuan memiliki semua potensi yang diperlukan untuk menuju era tersebut. *** (SEA)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVI: Mulailah dengan Satu Pohon

Salah satu penyebab terjadinya ban-jir bandang yang merendam rumah-rumah penduduk dan merendam ratusan hektar sawah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *