Rabu , 27 Maret 2019
Beranda » Event » Perayaan HUT ke-47 Teater Alam Yogyakarta

Perayaan HUT ke-47 Teater Alam Yogyakarta

“Geopolitik berkembang dengan pesatnya sebagai cabang ilmu pengetahuan dengan kekuasaan dan ruang sebagai unsur sentralnya. Konsep “ruang” dapat diartikan secara riil dari segi geografi dan sesungguhnya ruang juga dapat diartikan secara semu dari segi keamanan, yaitu berbentuk semangat persatuan dan kesatuan yang dapat menghambat atau memperlambat datangnya ancaman sehingga seakan-akan dapat dipertukarkan dengan waktu. Oleh karena itu, Karl Ernst Haushofer, seorang politikus dan geografer Jerman, menamakan geopolitik sebagai suatu science of the state yang mencakupi bidang politik, geografi, ekonomi, sosial budaya, antropologi, sejarah, dan hukum. Setiap bangsa dalam rangka mempertahankan kehidupan dan eksistensinya serta mewujudkan cita-cita dan tujuan nasionalnya perlu memiliki pemahaman ilmu geopolitik yang dalam implementasinya menjadi strategi yang bersifat nasional. Strategi pemetaan menyeluruh (mapping global strategy) ke depan sangat diperlukan bagi setiap bangsa. Bagi bangsa Indonesia, Wawasan Nusantara merupakan konsep nasional dari ilmu geopolitik mengenai persatuan dan kesatuan dalam berbagai bidang kehidupan, sebagai perekat dalam kehidupan bangsa Indonesia.”
Paragraf di atas merupakan petikan Pidato Kebudayaan yang akan disampaikan oleh Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, MA. Mengedepankan judul : “Melacak Jejak Sumber Kreativitas Seni Membangun Nilai-Nilai Kebangsaan Indonesia” yang akan disampaikan pada malam puncak acara peringatan Ulang Tahun Teater Alam ke-47, Kamis 3 Januari 2019, bertempat di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta. Sebelum acara Pidato Kebudayaan tersebut, akan didahului pula dengan peluncuran buku Teater Alam yang telah selesai penyusunannya sejak Agustus 2018 lalu.  Juga pertunjukan pantomime oleh Jemek Supardi dan penampilan music oleh Dr. Chaerul Slamet atau Memet CS. Selain juga pemotongan tumpeng dan doa syukur para anggota Teater Alam atas semua barokah yang telah diberikan Allah SWT kepada Bang Azwar AN selaku pendiri dan guru besar Teater Alam.

Diketahui Teater Alam didirikan Azwar AN bersama Moortri Purnomo, Merit Hendra,  Yoyok Aryo, Gati Handoko dan Abdul Kadir pada 4 Januari 1972. Naskah lakon karya Azwar AN: Di Atas Langit Ada Langit, menjadi pentas perdana menabalkan lahirnya Teater Alam Yogyakarta. Secara terus menerus sampai dengan hari ini, Azwar AN bersama Teater Alam giat menggelar beberapa pementasan yang tertoreh dalam sejarah teater modern Yogyakarta: Si Bakhil, Dance and Pantomime, Dokter Gadungan, Obrok Owok Owok Ebrek Ewek Ewek, Ketika Bumi Tak Beredar, Qasidah Al Barzanji, Langit Hitam,  Tahanan, Trilogi Sophocles: Oedipus Sang Raja, Oedipus di Colonus, Antigone serta Caligula, adalah beberapa repertoar yang pernah diproduksinya bersama Teater Alam.  Sempat pula membawakan Qasidah Al Barzanji pentas melawat ke Malaysia, mewakili Indonesia dalam Kuala Lumpur Art Festival II.

Simak juga:  Menanti Jawaban Rumput Yang Bergoyang

Prosesi perayaan Ulang Tahun Teater Alam ke-47 kali ini, meliputi tiga kegiatan yang berurutan. Agenda Pertama, Pementasan Monserrat karya Emmanuel Robles yang disutradarai Puntung CM Pudjadi dan dimainkan anggota Teater Alam lintas generasi. Penyelenggaraan pementasan telah dilaksanakan pada Sabtu 8 Desember 2018 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Kegiatan Kedua, penyusunan buku Trilogi Teater Alam yang telah pula didiskusikan dalam bedah buku pada Minggu 23 Desember 2018 di Amphi Teater Taman Budaya Yogyakarta. Buku Trilogi Teater Alam tersebut meliputi Biografi Azwar AN, Sejarah Teater Alam dan Kesaksian para kerabat Teater Alam. Tim penyusun buku yang sudah bekerja secara intensif sejak bulan Juli 2018,  terdiri dari Bambang J. Prasetya, Daru Maheldaswara, Sigit Sugito, Gede Mahesa, Odi Salahudin, Nur Iswantara, Wahyono Giri MC dan Latief S. Nugraha serta bertindak selaku penyelaras akhir sekaligus penyunting utama adalah Roso Daras dan Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, MA. Meskipun belum seluruhnya sempurna, buku Trilogi Teater Alam ini diharapkan dapat menjadi proses literasi bagi khalayak banyak, khususnya para meminat seni budaya dan seni teater.

Agenda ketiga, Sebagai puncak acara perayaan Ulang Tahun Teater Alam ke-47, diselenggarakanlah Pidato Kebudayaan yang akan disampaikan oleh anggota Teater Alam yang juga sebagai Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Yogyakarta, Guru Besar Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, MA., dengan tema: “Melacak Jejak Sumber Kreativitas Seni Membangun Nilai-Nilai Kebangsaan Indonesia”. Menurut Tim Kreatif Pidato Kebudayaan ini, Roso Daras, Edo Nurcahyo, Sigit Sugito, Udik Supriyanto dan Bambang Wartoyo, kemasan semacam  menjadi penting dikedepankan di tengah situasi sosial politik yang dihadapi bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan masa depan. Sehingga acara ulang tahun Teater Alam ke-47 ini diharapkan akan memberi sumbangsih perspektif pada persoalan Kebudayaan dan Peradaban yang tengah berlangsung. Bagaimanapun situasi kondisi dimana politik menjadi panglima yang terjadi di Indonesia telah menggerus nilai-nilai kebangsaan yang mengakibatkan konflik horizontal yang belum berkesudahan. Sehingga melupakan hal-hal yang sebenarnya utama dan penting, seperti pendidikan manusia seutuhnya, misalnya, menjadi terabaikan oleh masalah-masalah politik kepentingan sesaat.

Simak juga:  Menanti Jawaban Rumput Yang Bergoyang

Pidato Kebudayaan ini merupakan titik reflektif yang akan menawarkan kembali nilai-nilai subtantif yang dibutuhkan sebagimana manusia berbangsa dan bernegara secara utuh dalam menghadapi dan menghayati kerja-kerja kreatif. Seperti halnya nukilan teks Pidato Kebudayan yang disampaikan Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, MA.

“Menghadapi perjuangan di abad ke-21 bangsa Indonesia berada pada situasi yang kompleks yang hanya mampu diselesaikan oleh sumberdaya manusia yang cerdas dan kompetitif. Visi pembangunan bangsa yang membimbing bangsa Indonesia hingga tahun 2045 harus menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang ulet dan tangguh.  Untuk itu diperlukan paradigma dan praksis baru pendidikan yang mampu menjadi penjuru aktif dan dinamis yang mampu memposisikan pendidikan pada kedudukan tertinggi dalam pembangunan nasional. Paradigma tersebut adalah Pendidikan sebagai Panglima Pembangunan Nasional. Agar posisi paradigma tersebut kuat, efektif, dan produktif, maka harus didukung dengan praksis pendidikan yang mencerminkan strategi  yang mencerdaskan kehidupan bangsa, menghasilkan bangsa yang kompeten dan kompetitif, serta menjadikan bangsa  yang ulet  dan tangguh.”

Pada posisi itu Teater Alam sebagai sebuah kelompok atau sanggar yang telah bertahan selama 47 tahun, ingin mencoba memberikan sentuhan tersendiri pada ulang tahunnya kini. Tidak saja dengan pementasan teater untuk terus mengasah kreatifitas penciptaan,  tetapi juga menerbitkan buku sebagai bagian integral proses literasi untuk mengembangkan pengetahuan yang tidak saja tertulis dalam sejarah perjalannya. Tetapi lebih utama daripada itu adalah untuk memacu langkah maju menapaki masa depan yang lebih baik. ***

Demikian, Siaran Pers ini disampaikan sebagai sarana untuk menggalang dukungan bersama dari kalangan pers-media. Agar upaya dan usaha mewacanakan peristiwa kebudayaan ini dapat diapresiasi oleh masyarakat luas. Terimaksih disampaikan sebelumnya.

     

   Divisi Humas Informasi dan Publikasi
     (Narahubung: Bambang JP – 0812 2680 0220)

Lihat Juga

Menanti Jawaban Rumput Yang Bergoyang

Sebuah peringatan Jawa berbunyi; ‘Nalika ati suci, jagad kandha marang janma kang sujana, bab gelar …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *