Jumat , 14 Desember 2018
Beranda » Pendidikan » Mengenang Perjuangan Pangeran Diponegoro (2): Perang Melebar ke Surakarta, Bojonegoro dan Madiun
Pangeran Diponegoro (ft. wikipedia)

Mengenang Perjuangan Pangeran Diponegoro (2): Perang Melebar ke Surakarta, Bojonegoro dan Madiun

HANCURNYA pertahanan dan kekuasaan Belanda di Kejiwan itu membuat gerak maju dan jalur perjuangan pasukan Pangeran Diponegoro ke arah timur menjadi semakin terbuka lebar. Kekalahan buat serdadu-serdadu Belanda telah membuat mereka kehilangan semangat perang. Sebaliknya, kekalahan pasukan Belanda itu membuat semangat juangt dan gairah bertempur prajurit-prajurit Pangeran Diponegoro menjadi kian bergelora dan sukar terbendungkan lagi.

Dari kemenangan di Kejiwan dekat Kalasan itulah, pasukan Pangeran Diponegoro bersama rakyat yang hampir seluruhnya berpihak kepadanya terus melebarkan sayap peperangan hingga ke Surakarta, Bojonegoro, Madiun dan seluruh daerah di selatan.

Semangat tempur yang tinggi ketika menyerang kedudukan Belanda di Bantul dan Kejiwan itu sebenarnya diawali berkat kemenangan besar dalam pertempuran di Lengkong pada tanggal 30 Juli 1826.

Berkat kemenangan di Lengkong dan hancurnya pertahanan Belanda di tempat itu, menyebabkan pengaruh Pangeran Diponegoro dan daerah kekuasaannya meluas di seluruh daerah sebelah barat Kali Progo hingga ke batas wilayah Kedu.  Jasa Senopati Sentot Alibasyah Prawirodirjo dan Kyai Mojo sangat besar dalam kemenanggan di Lengkong. Demikian pula halnya dalam penyerbuan ke Bantul dan Kejiwan.

Dengan kemenangan di Lengkong itu pula mengakibatkan daerah peperangan menyebar ke daerah Kedu, Banyumas, Purbalingga, Pekalongan, Semarang, Rembang, dan beberapa daerah lainnya.

Simak juga:  Mengenang Perjuangan Pangeran Diponegoro (1): Kemenangan Besar di Bantul dan Kejiwan

 

Terjebak Perangkap

Melihat pasukannya porak poranda di setiap daerah pertempuran, Belanda kemudian berusaha sekuat mungkin mencari langkah untuk memadamkan pemberontakan Pangeran Diponegoro. Belanda kemudian mulai memanfaatkan berbagai segi kelemahan yang berhasil dilihat pada pasukan Pangeran Diponegoro.

Awal keberhasilan Belanda itu ditandai dengan terjadinya perpecahan di dalam tubuh kesatuan perang pasukan Pangeran Diponegoro berkat hasutan Belanda dan pendukung-pendukungnya.

Pada tahun 1829, Kyai Mojo, salah seorang pimpinan di dalam pasukan Pangeran Diponegoro menyerah kepada Belanda, setelah terjebak dan masuk ke perangkap Belanda. Kyai Mojo ditangkap, dan kemudian dibuang ke Menado.

Setelah itu menyusul Pangeran Mangkubumi yang merupakan kepercayaan Pangeran Diponegoro dan juga pamannya sendiri, menyerah kepada Belanda pada tanggal 20 Agustus 1829. Dua bulan kemudian, tepatnya 16 Oktober 1829, giliran Sentot Alibasyah Prawirodirjo menyerah kepada Belanda.

Meskipun menyerahnya tiga pimpinan teras dalam pasukannya itu merupakan pukulan yang paling keras terhadap dirinya, Pangeran Diponegoro tetap bersemangat meneruskan api perjuangan.

Melihat gelagat perjuangan Pangeran Diponegoro dan pasukan-pasukannya tetap tak tergoyahkan, Belanda kemudian menyusun siasat licik. Belanda lalu mengusulkan gencatan senjata.

Ketika tawaran gencatan senjata itu diterima Pangeran Diponegoro, Belanda memasang perangkap paling licik dalam peperangan, yakni dengan menawarkan perundingan. Tanpa curiga, tawaran berunding itu pun diterima Pangeran Diponegoro.

Simak juga:  Mengenang Perjuangan Pangeran Diponegoro (1): Kemenangan Besar di Bantul dan Kejiwan

Perundingan itu dilaksanakan di Magelang pada tanggal 28 Maret 1830. Tetapi dalam perundingan inilah kelicikan itu dilakukan Belanda. Jenderal de Kock yang memimpin Belanda dalam perundingan itu memerintahkan pasukannya untuk menangkap Pangeran Diponegoro dan pengikut-pengikutnya yang waktu itu dalam keadaan tidak bersenjata.

Apa daya. Pangeran Diponegoro sudah terjebak dalam perangkap kotor Jenderal de Kock. Pangeran Diponegoro dan keluarganya, serta pengikut-pengikutnya kemudian dibuang ke Menado. Dari Menado dipindahkan ke Makassar, hingga ia meninggal dunia pada tanggal 8 Januari 1855, setelah 25 tahun hidup dalam pembuangan di Benteng Ujung Pandan, Makassar.

Dengan tertangkapnya Pangeran Diponegoro melalui cara yang licik itu, Belanda memang sempat berlega hati, karena  kerugian besar di pihaknya tidak akan berjatuhan lagi. Selama perang yang berkecamuk lima tahun itu, Belanda kehilangan tentara sebanyak sekitar 15 ribu orang tewas. Belum lagi kerugian dalam hal keuangan dan perekonomian, teramat besar jumlahnya.

Namunpun begitu semangat perjuangan yang dikobarkan Pangeran Diponegoro sejak 19 Juli 1825 dari Tegalrejo itu, hingga hari ini masih tetap berkumandang dan tak pernah padam di dada setiap anak bangsa. *** (Sutirman Eka Ardhana)

*** Sumber bacaan: Buku “100 Tahun Wafatnya Pahlawan Diponegoro”, Kementerian Penerangan RI, 1955.

Lihat Juga

Mengenang Perjuangan Pangeran Diponegoro (1): Kemenangan Besar di Bantul dan Kejiwan

BANTUL, kota kabupaten di sebelah selatan kota Yogyakarta itu sempat punya arti dan kenangan tersendiri …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *